17. Dinner

557 60 1
                                        

Hening, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana sarapan antara Reyhan dan Mahen pagi ini. Hanya suara dentingan piring dengan alat makanlah yang kini memenuhi atmosfer disekitar kakak beradik itu.

Keduanya menikmati sarapan masing-masing dengan khidmat, beberapa menit kemudian Mahen selesai terlebih dahulu.

"Nggak usah buru-buru." Ucap Mahen yang menyadari kalau Reyhan sedikit mempercepat cara makannya.

"Iya, Kak." Jawab Reyhan dengan mulut yang penuh dengan makanan, Mahen terkekeh kecil.

Setelah keduanya selesai, Reyhan pun bersiap-siap untuk berangkat, sebelum benar-benar berangkat Reyhan tidak lupa untuk berpamitan kepada sang kakak yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu, ia nampak sibuk dengan laptopnya.

Hari ini Mahen tidak pergi ke kampus. Tetapi walaupun tidak pergi ke kampus, tugas-tugasnya harus tetap ia selesaikan di rumah.

"Kakak, Reyhan mau berangkat sekolah dulu, ya..."

Atensi Mahen yang awalnya fokus pada laptop dihadapannya pun seketika berganti ke sosok laki-laki mungil yang sudah berdiri disampingnya.

"Oh, iya, mau kakak anterin?" Reyhan menggeleng cepat.

"Nggak usah, kak. Reyhan berangkat bareng Jevan."

"Beneran?"

"Iya."

"Obatnya udah diminum kan tadi?"

"Udah, kak."

Mahen terdengar menghela napas.

"Yaudah kalau gitu hati-hati. Bilangin ke Jevan, kalau bawa motor jangan kenceng-kenceng. Bahaya."

"Iya, kak."

Reyhan mencium punggung tangan yang lebih tua, Mahen reflek terkekeh kecil dan memberikan satu kecupan kecil di pucuk kepala Reyhan. Setelahnya ia yang merasa gemas pun mengacak pelan rambut Reyhan yang baunya sangat wangi, begitu pula dengan sekujur tubuhnya. Wangi, dan itu menggemaskan bagi Mahen

____________

Reyhan berjalan disepanjang koridor sekolah dengan langkah disertai lompatan-lompatan kecil, kedua belah bibirnya tidak berhenti tersenyum lebar sejak tadi. Hal itu membuat Jevan tak kuasa menahan rasa penasarannya.

"Keliatannya lagi bahagia banget, nih. Sampe senyumnya nggak luntur-luntur dari tadi. Cerita dong sama gue, gue penasaran tau." setelah duduk di bangkunya Jevan berucap sambil mencolek dagu Reyhan, ia berniat menggoda sahabatnya yang wajahnya terlihat berseri-seri pagi ini, tidak seperti biasanya yang muram dan pucat.

"Hmm nggak ada apa-apa kok Van, cuman lagi seneng aja hehehe."

"Kak Mahen udah nggak cuekin gue lagi sekarang, gue seneng banget."

"Wah, keren-keren. Congrats, ya! Gue ikut seneng dengernya." Jevan menepuk bahu Reyhan, sang empu hanya mengangguk dengan senyuman yang masih tetap terpatri di wajah manisnya.

Setelahnya, tidak ada lagi percakapan diantara keduanya karena bel masuk sudah berbunyi dan pelajaran pun dimulai. Reyhan menyimak penjelasan sang guru dengan seksama, sedangkan Jevan sudah terbang ke alam mimpi entah sejak kapan.

__________

15.30 WIB.

Saat ini Reyhan dan juga Mahen tengah berada di perjalanan pulang dari sekolah. Mahen menjemput Reyhan dikarenakan ban motor Jevan yang tiba-tiba saja bocor, jadi Reyhan memutuskan untuk menelepon Mahen dan meminta bantuan sang kakak untuk menjemput dirinya.

Bukan bermaksud untuk tidak tahu diri, Reyhan meminta Mahen untuk menjemputnya juga karena Jevan yang terus mengomeli dirinya. Jevan tidak mau Reyhan ikut mendorong motor besarnya sampai ke bengkel, dengan alasan ia tidak mau membuat kondisi Reyhan yang hari ini sudah cukup baik menjadi buruk dan drop lagi.

Reyhan menatap padatnya jalanan lewat jendela mobil, ia terkadang ikut memanyunkan bibir saat terjebak macet. Anak itu juga terlihat kesal sesekali saat ada pengendara sepeda motor yang terjepit oleh dua mobil karena ulah dari sang pengendara motor itu sendiri.

Dan itu semua tidak luput dari perhatian Mahen, karena walaupun sedang menyetir ia akan melirik sang adik sesekali. Memastikan jika adiknya itu baik-baik saja.

"Dek." panggil Mahen, Reyhan menatapnya.

"Iya, Kak?"

"Mau dinner sama kakak, nggak?"

Deg!

Kedua mata Reyhan sedikit membola mendengar kata-kata dari Mahen. Apa yang baru saja dia bilang? Mahen mengajaknya makan malam bersama?

Mahen? Mengajak dirinya?

Oh my God, Reyhan tidak salah dengar, kan?

Mahen yang menangkap raut wajah terkejut sang adik pun hanya tersenyum tipis. Ia tahu dan sangat sadar dengan apa yang ia katakan sebelumnya.

Reyhan sedikit berpikir saat ini. Ia ingin jujur kepada Mahen dengan mengatakan kepadanya jika sebenarnya beberapa menit yang lalu kepalanya mendadak pusing dan dadanya sesak, dan ia menahannya sampai sekarang. Tetapi ajakan sang kakak yang satu ini termasuk dalam salah satu wish list hidupnya, bahkan sudah sangat lama ia impikan.

"Adek, kok diem?" Reyhan sedikit tersentak ketika Mahen berucap dengan tiba-tiba.

"Hah? Oh i-iya kak. I-itu, anu..."

"Kenapa?" Reyhan memilin ujung dari seragam sekolahnya.

"Adek nggak mau, ya?" Tersirat rasa sedih di hati Mahen saat melihat respon sang adik, Mahen juga tidak tahu mengapa dirinya menjadi seperti ini. Ia hanya sedang merasa, Reyhan tidak mau diajak dinner olehnya.

Padahal sudah sangat jelas, jika maksud Reyhan tidak seperti itu.

"Hm b-bukan gitu, kak. Reyhan mau, kok. Mau banget malah!" Melihat wajah Reyhan yang berseri-seri dengan pandangan mata yang berbinar, Mahen terkekeh dan mengusak rambut Reyhan.

"So? Reyhan mau, kan, dinner sama kakak?" Tanya Mahen memastikan

"Mau, kak. Mau banget!"

"Oke sip. Kalau gitu, nanti malem jam tujuh kita berangkat, ya."

"Iya, kak!"

Reyhan tersenyum sangat lebar, meski di dalam hati ada rasa was-was. Ia takut, takut jika tubuhnya akan berakhir tidak mendukung keinginannya.

__________________

Kira-kira mereka jadi dinner nggak yaa?👀

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang