30. Wake Up

644 64 5
                                        

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Bagai air sungai yang terus mengalir tanpa memperdulikan apapun. Matahari kembali menampakkan diri, pun dengan cahayanya yang bersinar terang, menerangi seluruh duniawi.

Semalam, napas Mahen dibuat tercekat karena tiba-tiba sang adik kembali mengalami kejang dengan frekuensi tinggi, belum lagi tubuhnya yang terasa semakin mendingin.

Mahen jadi kelimpungan sendiri karena Daniel juga tengah pergi untuk urusan pekerjaan. Mahen panik, Mahen merasa sangat payah apalagi saat mendengar bunyi monitor di sebelah brankar Reyhan yang terdengar semakin lambat, Mahen benar-benar dibuat tidak tidur semalaman.

Mahen membuka kedua matanya yang terasa membengkak akibat terlalu banyak menangis semalam, dan segera bangun untuk melihat sosok yang sudah lima belas hari belakangan ini selalu menjadi pokok dari segala isi kepalanya.

Mahen menghampirinya, menatap sendu sosok kurus nan mungil yang bahkan sampai saat ini masih enggan untuk membuka kedua matanya. Padahal sudah setengah bulan berlalu, namun nampaknya Reyhan masih menikmati tidurnya. Tak ada satu patah katapun yang terlontar dari bibirnya. Hanya helaan napas panjang yang lagi-lagi harus ia keluarkan. Mahen benar-benar berada dalam titik pasrahnya sekarang.

“Adek, kapan adek bangun?”

Hening, tidak ada yang menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Mahen, hanya angin semilir dari ventilasi udara yang dapat ia rasakan. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan perdetik, hanya satu kalimat itu yang keluar dari belah bibir Mahen, dan entah mengapa walaupun sudah sadar jika ia tidak akan mendapat jawaban sebelum kedua mata itu terbuka, Mahen masih saja bersikeras mengajak raga sang adik berbicara.

Katakanlah jika Mahen sudah tidak waras atau sudah gila, Mahen tidak peduli. Untuk sekarang, ia benar-benar tidak peduli lagi dengan semua hal, kecuali jika hal tersebut berhubungan dengan Reyhan.

Tring...

Tring...

Tring...

Mahen merogoh saku celana yang ia kenakan dan mengambil ponselnya yang berdering, lalu berjalan sedikit menjauh dari tempat tidur Reyhan untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk.

Melihat nama 'Jevan' terpampang di layar ponselnya, Mahen pun mendial tombol warna hijau. Panggilan antara dirinya dengan sahabat dari sang adik pun otomatis tersambung.

“Ada apa, Jev?” Tanya Mahen to the point.

Satu menit waktu yang dihabiskan Mahen saat bertukar kabar dengan Jevan, yang ternyata hanya memberi kabar kepadanya bahwa hari ini anak itu tidak bisa berkunjung ke rumah sakit, karena ada jadwal turnamen basket melawan sekolah lain.

Setelah selesai, Mahen dengan perasaan yang sedikit heran pada sikap Jevan yang akhir-akhir ini sedikit berbeda dari biasanya hanya terkekeh geli. Menurut Mahen, Jevan akhir-akhir ini menjadi sedikit bawel dan sering merengek pada dirinya.

Namun hal itu tidak membuat Mahen risih sedikitpun, karena setelah beberapa hari berkumpul dan sedikit banyak mengobrol berdua, Mahen perlahan mulai mengenal dan sedikit lebih banyak mengetahui latarbelakang Jevan.

Mahen menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membawa kedua kakinya menuju brankar tempat Reyhan memejamkan mata.

“Adek...”

“Kakak mau ke kamar mandi dulu, ya.” Ucapnya pelan, sambil mengusap pucuk kepala Reyhan. Bisa ia lihat, beberapa helai rambut Reyhan rontok ke telapak tangannya.

Kebiasaan baru Mahen beberapa hari terakhir —tepatnya setelah kejadian dimana Reyhan menangis dan memanggil namanya saat ia pulang kerumah— adalah meminta izin dahulu kepada Reyhan ketika ingin pergi meninggalkannya walaupun hanya sebentar. Setelah meminta izin seperti yang baru saja ia lakukan, baru lah Mahen akan beranjak dari kamar rawat Reyhan. Mahen tahu jika dirinya tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari raga yang terlelap itu, namun Mahen masih saja melakukannya.

Dengan alasan, ia tidak ingin adiknya terbangun dengan keadaan mencari dirinya, Mahen tidak mau Reyhan menangis dan mencari dirinya ketika anak itu bangun nanti.

Walaupun dirinya sendiri juga tidak tahu, kapan sepasang netra rubah itu akan kembali terbuka.

Mahen pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasrat ingin pipisnya.

Selesai, Mahen pun kembali ke ruangan tempat Reyhan dirawat sembari mengecek ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi. Itu adalah notifikasi pesan dari Vino, teman satu fakultasnya yang memberitahukan pada Mahen tentang tugas-tugas yang harus ia selesaikan. Mahen terlalu fokus pada ponselnya hingga tidak menyadari bahwa sosok mungil yang menjadi pusat perhatian nya selama lima belas hari terakhir itu tengah menatapnya dengan tatapan sayu, netra rubah itu nampak menyipit, tatapannya terlihat kosong, tidak seperti biasanya yang selalu berbinar.

“Ka-kak...”

Langkah Mahen seketika terhenti, pun dengan napasnya yang berhenti berhembus selama empat detik. Mahen berhenti dan mematung ditempat kala indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang sudah sangat lama ia rindukan.

Mahen sedikit tertegun, ketika mengetahui bahwa yang baru saja ia dengar adalah suara Reyhan, yang memanggilnya dengan sangat pelan.

Walaupun masih sedikit shock, sedetik kemudian ia segera menghampiri raga sang adik, dan menggenggam tangan mungilnya yang masih terasa dingin.

“Iya sayang, ini kakak, kakak ada disini. Kenapa? Adek butuh sesuatu? Badannya ada yang sakit?”

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan oleh sang kakak, kepala Reyhan jadi berdenyut sakit, si mungil pun menggelengkan kepala pelan, karena sungguh ia masih tidak bisa berbicara sekarang. Tenggorokannya terasa kering dan sakit, begitu pula dengan sekujur tubuhnya yang terasa lemas dan nyeri.

“Ha-us...” Setelah berusaha keras untuk mengeluarkan suara, kata itulah yang keluar dari belah bibirnya.

Mahen yang mendengarnya pun segera mengambilkan air minum, memencet tombol disamping brankar untuk memanggil dokter, dan membantu Reyhan untuk meminum air yang telah ia berikan. Reyhan meminumnya hingga tandas.

Ssh...Kepala Reyhan kembali berdenyut, rasanya sangat sakit.

“Kakak, sa-sakit...”

“Iya, adek yang sabar, ya. Kakak udah panggil dokter, kok. Tahan, sebentar lagi pasti dokternya kesini...”

“Tahan sebentar, yang sabar. Oke?” Reyhan mengangguk lemah, anak itu benar-benar tidak kuat untuk melakukan apa-apa saat ini. Ia bahkan tidak bisa membalas dan hanya bisa berpasrah saat Mahen memeluk dan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.

Setelah menunggu selama kurang lebih lima menit, dokter Sean dan beberapa perawat mulai memeriksa kondisi Reyhan. Disaat dokter Sean dan para perawat sedang melaksanakan tugasnya di dalam, Mahen turut bertindak. Ia mulai menghubungi Daniel dan Jevan untuk memberitahukan kabar gembira ini.

Melihat dokter Sean yang keluar dari ruangan, Mahen dengan cepat menghampirinya.

Jangan tanyakan bagaimana perasaan Mahen sekarang, karena saat ini Mahen benar-benar bahagia. Masa-masa sulitnya telah berhasil ia lewati. Dan kini, Reyhan sudah kembali ke alam sadarnya. Mahen berdoa, semoga Reyhan akan tetap seperti ini sampai waktu yang lama.

Didalam hati Mahen tidak berhenti mengucap syukur kepada Tuhan, karena atas kehendak-Nya kini sang adik sudah kembali ke alam sadarnya. Dan semoga, kondisi Reyhan setelah ini bisa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang