Reyhan merasa semakin gelisah, ia takut jika rencananya dengan sang kakak yang mendadak dan sudah ia 'iyakan' pada sore hari tadi akan dibatalkan hanya karena penyakitnya yang kembali mengganggu.
Reyhan mencengkeram perutnya kala rasa nyeri itu kembali menyerang. Sekarang sudah hampir pukul tujuh malam, hanya tinggal hitungan menit lagi dirinya dan Mahen akan berangkat untuk melaksanakan ritual makan malam bersama, seperti rencana mereka tadi sore.
“Ehmph...” Reyhan lagi-lagi harus berlari ke kamar mandi saat rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, dan perutnya mulai bergejolak. Reyhan kembali mengeluarkan isi perutnya di wastafel untuk yang ke-empat kalinya.
“S-sakit...”
Dan,
Tess...
Harapan Reyhan untuk merasakan moment berduaan dengan sang kakak langsung hancur lebur saat cairan berwarna merah kehitaman dan kental mulai turun dari lubang pernapasannya. Raut wajahnya yang terpampang di kaca terlihat sangat kecewa.
Lagi-lagi Reyhan harus merasakan seperti ini.
Mengapa dunia sepertinya tidak mau berpihak kepada dirinya meski sebentar?
Mengapa harus sekarang?
Mengapa ini semua harus terjadi disaat yang bersamaan?
Mengapa? Mengapa harus seperti ini, Tuhan?
Kedua kaki Reyhan terasa lemas dan lentur bagaikan jelly, kini tubuh kurus Reyhan juga sudah meluruh dan terduduk dengan lemas diatas lantai kamar mandi yang dingin.
Ia tak habis pikir, mengapa tubuhnya sangat tidak bisa diajak kompromi walaupun hanya sebentar?
Reyhan sudah sangat lelah dengan semua ini. Ia sudah sangat lelah dengan semua ketidakadilan ini, ia sudah sangat lelah dan muak dengan semua rasa sakit ini.
Ia hanya ingin merasakan moment-moment yang menyenangkan dengan sang kakak selagi dirinya masih hidup, ia sangat ingin merasakan kelembutan dan kehangatan yang sudah sangat lama ia idam-idamkan, walaupun harus terjadi hanya sekali dalam seumur hidup.
Uhuk.
Uhuk.
Uhuk.
Huek...
“S-sakit banget argh...”
“J-jangan ikut sakit, please...”
“Hahh...”
Huft...
“ARGH!” Reyhan tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya, apalagi saat dadanya ikut terasa sakit dan sesak.
Bugh.
Bugh.
Sakit. Dada Reyhan terasa sangat sakit, napasnya tercekat dan ia merasa oksigen di sekitarnya mulai menjauh dan meninggalkan dirinya.
Pasa saat seperti ini, yang bisa ia lakukan hanyalah berpasrah. Ia berpasrah dan menyerahkan semuanya kepada yang diatas.
_____________
Sedangkan di sisi lain, ada Mahen yang tengah menunggu Reyhan dengan duduk di sofa ruang tamu sembari memainkan handphone. Kedua matanya sesekali melirik kearah tangga saat ia belum juga melihat sosok sang adik, padahal jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit.
“Lama banget...”
“Nggak biasanya Reyhan telat gini kalau udah janjian. Apalagi keliatannya tadi dia seneng banget.” Batin Mahen mulai bergejolak, ia merasa tidak nyaman saat ini. Di balik wajah datar dan tatapan tajamnya, di dalam hati kecilnya tersirat rasa khawatir yang amat besar pada sang adik.
“Apa jangan-jangan penyakitnya kambuh lagi?”
“Tapi dia tadi sore, kan, masih baik-baik aja.”
“Apa gue samperin aja, ya? Perasaan gue nggak enak.” Batinnya bergemuruh.
“Ck, shit!” Mahen mengumpat sambil mulai melangkah kearah kamar Reyhan. Entah mengapa jantungnya berdetak tidak karuan saat kedua kaki jenjangnya sudah berdiri tepat di hadapan pintu kamar Reyhan. Pintu berwarna putih itu tidak dikunci, jadi Mahen langsung saja masuk dan ia lagi-lagi harus menetralkan detak jantungnya saat tidak mendapati sosok sang adik didalamnya.
Mahen gelagapan sendiri, ia panik. Tetapi suara aliran air yang berasal dari kamar mandi seolah memberinya petunjuk.
“Pasti ada di dalem.” Mahen menghela napas sebelum kakinya kembali melangkah kearah kamar mandi.
“Dek, kamu di dalem?”
Tidak ada sahutan apapun dari dalam.
“Dek, ini kakak.”
“Jadi dinner nggak nih?”
“Adek? Kakak udah nungguin dari tadi, loh.”
Menyadari tidak ada satupun kata-katanya yang mendapatkan balasan, Mahen pun segera membuka pintu kamar mandi yang beruntungnya tidak dikunci oleh Reyhan. Mahen sedikit merutuki dirinya sendiri karena tidak menyadari jika pintu itu tidak dikunci.
Mahen membukanya, dan...
Deg!
Mahen lagi-lagi harus melihat pemandangan seperti ini, pemandangan yang sangat ia hindari akhir-akhir ini karena itu hanya akan membuat dirinya merasa sangat lemah dan bersalah.
Tepat di hadapannya, Mahen melihat tubuh Reyhan yang sudah melemas dengan darah yang mengotori sekujur tubuhnya. Dada Reyhan terlihat naik turun dengan cepat, kedua matanya masih terbuka namun pandangan anak itu nampak kosong.
“Ka-kak... Tubuh Reyhan s-sakit semu-a kak...” Ucap Reyhan dengan susah payah, nada perkataannya juga terdengar bergetar.
Tanpa menjawab —memberi respon pun tidak, Mahen segera menggendong tubuh kecil itu dan membawanya pergi dari rumah. Mahen akan membawa Reyhan ke rumah sakit, karena penyakitnya akhir-akhir ini semakin sering kambuh, dan hal itu tentu saja bukan sesuatu yang pantas untuk di wajarkan begitu saja, walaupun Mahen sudah tahu jika penyakit sang adik sudah masuk stadium akhir.
Setelah sampai di rumah sakit, Reyhan segera ditangani oleh dokter yang bertugas. Waktu yang sudah malam sedikit menyulitkan Reyhan untuk mendapatkan penanganan yang serius, karena hanya beberapa dokter saja yang bertugas shift malam dirumah sakit itu, dan dokter Sean —dokter yang biasanya merawat Reyhan tentu saja sudah pulang setelah menyelesaikan tugasnya saat pagi hingga sore hari.
Mahen segera berdiri saat seorang dokter laki-laki dengan dua perawat di belakangnya keluar dari ruangan Reyhan. Dilihat dari raut wajah sang dokter, beliau nampak sedikit kacau. Mahen jadi semakin kalut sekarang.
“Bagaimana kondisi adik saya, Dok?”
“Saat ini pasien masih tidak sadarkan diri. Mimisan hebat yang pasien alami sebelumnya membuat tubuhnya melemah karena kehabisan cukup banyak darah. Belum lagi dia sempat muntah beberapa kali, itu membuat stamina tubuhnya menjadi semakin buruk.”
Sakit. Hati Mahen terasa sangat sakit. Hatinya terasa seperti ditusuk oleh ribuan anak panah saat mendengar penjelasan sang dokter, tubuhnya seketika terasa melemas.
“Sementara untuk malam ini kami akan memberikan penanganan yang seadanya, karena dokter spesialis yang harusnya menangani pasien saat ini tidak bertugas. Tetapi jangan khawatir, pasien akan mendapatkan penanganan yang serius dan lengkap saat dokter spesialis sudah kembali bertugas, yakni besok.”
“Jangan berhenti menemani dan usahakan tetap ada disamping pasien, ya? Dan jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan, agar adik kamu baik-baik saja.” Ucap sang dokter sebelum meninggalkan Mahen yang tengah menahan tangisnya seorang diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYHAN [TERBIT]
Ficción General[Brothership not BxB, family, angst] Part lengkap. Reyhan tidak membutuhkan uang, Reyhan tidak membutuhkan kemoterapi yang harus ia lakukan dua minggu sekali selama seumur hidup. Reyhan juga tidak membutuhkan tiga butir obat yang setiap hari harus d...
![REYHAN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/352407742-64-k714686.jpg)