31. Duo

538 61 6
                                        

Jevan memarkirkan motornya di parkiran rumah sakit. Anak itu terlihat sangat bahagia saat ini, terbukti dari wajahnya yang nampak berseri-seri. Bibirnya tak berhenti melengkung keatas, bahkan saat berjalan di koridor rumah sakit yang ramai sendirian, ia masih saja tersenyum.

Hari ini, tepatnya pada pukul satu siang, Jevan yang baru saja selesai melaksanakan jadwal turnamen basket melawan sekolah lain mendapatkan kabar jika sahabatnya, Reyhan yang sudah setengah bulan lamanya tertidur dengan keadaan tidak menyenangkan, akhirnya memilih untuk bangun juga. Bayangkan saja, sebahagia apa Jevan saat mendengar itu.

Ceklek.

Sesaat setelah membuka pintu ruangan, ia disuguhi pemandangan sahabatnya, Reyhan yang sedang berbaring sembari menatap langit-langit ruangan VVIP yang di tempatinya. Senyuman Jevan semakin melebar, bahkan kedua mata anak itu sudah hilang total sekarang.

"Jevan?" Panggil Reyhan lirih, ia menatap Jevan sangat dalam. Sejujurnya, Reyhan sangat merindukan laki-laki dengan eye smile itu.

Jevan mendekati Reyhan yang kini sudah mengubah posisinya menjadi sedikit duduk, dan menyimpan buah tangan —berbagai macam buah-buahan yang sebelumnya ia beli ketika menuju ke rumah sakit— di meja yang berada tepat di sisi kiri brankar.

Setelah itu, Jevan yang tak kuasa menahan rasa rindunya pada Reyhan pun segera memeluk tubuh mungil di hadapannya. Tidak terlalu erat karena Jevan masih sangat sadar, jika sahabatnya masih belum sembuh total.

“Kangen...” Lirih Reyhan di dalam dekapan Jevan.

“Hm, gue juga.”

Jevan mengusap kepala bagian belakang Reyhan, menikmati kehangatan yang tercipta dari dekapan satu sama lain, Jevan tersenyum tipis saat mendengar suara hembusan napas Reyhan yang terdengar masih dipaksakan.

“Van, udah. Pusing...” Perlahan, Jevan mulai melepaskan pelukannya pada Reyhan, lalu membantu Reyhan untuk kembali berbaring.

“Gue bawa buah tadi. Mau makan buah?” Jevan menunjuk parcel buah yang tadi ia bawa.

“Hmm boleh deh. Mau apel.”

“Oke. Tunggu bentar, ya. Gue kupasin dulu.” Reyhan hanya mengangguk kecil.

“Bang Mahen sama bang Daniel kemana? Kok lo ditinggal sendirian?”

Jevan duduk di samping ranjang Reyhan, dengan sepiring buah apel yang sudah ia kupas, dan dipotong satu suapan.

“Nggak tau...” Jawab Reyhan jujur. Ia baru saja bangun tidur, jadi tidak tahu Mahen dan Daniel pergi kemana.

Jevan mengernyit bingung. Bagaimana bisa kedua kakak itu meninggalkan adik bungsunya yang sedang dalam masa pemulihan sendirian di dalam ruangan sebesar ini? Bagaimana jika Reyhan membutuhkan sesuatu? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Reyhan? Ah, Jevan tak habis pikir dengan dua laki-laki dewasa itu.

“Nih, makan dulu buahnya. Aaa~” Mulut Jevan reflek ikut menganga ketika menyuapkan satu potong apel kedalam mulut Reyhan. Lagi-lagi, yang diperhatikan hanya menurut dan tidak banyak bicara, hal itu membuat Jevan merasa semakin gemas dan juga senang.

Disaat Reyhan masih sibuk mengunyah apelnya, di waktu itu juga Jevan sibuk membicarakan berbagai macam hal random. Dan itu membuat suasana diantara keduanya menjadi lebih hangat. Tidak ada kecanggungan sama sekali.

“Tadi udah diminum, obatnya?” Jevan menatap empat buah benda berbentuk lonjong yang ada di dekatnya.

“Udah.” Jawab Reyhan pelan.

“Lo beneran nggak tau Abang-Abang lo pergi kemana? Bang Mahen sama Bang Daniel nggak ngabarin, mereka mau kemana-kemana nya?”

“Enggak, Jevan, gue beneran nggak tau. Please deh, udah berapa kali lo nanyain hal itu?” Reyhan terdengar menghela napas panjang sebelum mengatakannya.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang