15. Backstory: Ayah & Bunda

637 56 0
                                        

Warning!🚨📝

Sebelum lanjut ke cerita, Zaza hanya ingin memberi tahu jika chapter ini adalah part terpanjang dalam cerita ini, karena terdiri dari 3000+ kata. Isinya meringkas tentang penyebab Reyhan dan kedua saudaranya menjadi yatim piatu.

Semoga setelah membaca chapter ini, kalian semua tidak penasaran atau bingung lagi, mengapa dan bagaimana kisahnya, hingga kedua orangtua Reyhan bisa meninggal dunia secara bersamaan, yaa.

Check it out and...

Happy reading all~
-
-
-

Flashback 10 tahun yang lalu...

Pagi ini, Reyhan merasa dadanya seperti ditumbuhi oleh ribuan bunga. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dimana usianya tepat menginjak angka delapan. Sebagai anak kecil yang masih lugu dan polos, Reyhan pasti akan sangat menantikan sebuah kejutan atau sekedar ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang yang ia sayangi. Meski ia sendiri pun belum tahu, hal tersebut akan terjadi atau tidak.

Jam di dinding menunjukkan pukul 06.05, masih cukup pagi namun Reyhan sudah selesai mandi dan memakai seragamnya dengan lengkap. Reyhan turun ke lantai satu berniat untuk melaksanakan sarapan bersama semua anggota keluarganya, seperti hari-hari biasanya. Bocah yang saat ini menginjak kelas dua sekolah dasar atau biasa disebut SD itu menuruni setiap anak tangga dengan semangat, senyum lebar terpatri di bibir kecilnya sedari tadi.

Namun senyum itu seketika luntur, digantikan oleh raut wajah lesu nan murung ketika mengetahui jika tidak ada satupun anggota keluarganya yang berkumpul seperti biasanya di meja makan.

Tidak ada Ayah, tidak ada Bunda, ataupun kedua kakaknya disana. Hanya ada dirinya sendiri yang tengah duduk sendirian.

Den Reyhan? Aden sudah siap pergi ke sekolah?” Itu adalah suara Bi Ami, Reyhan menatap wanita itu dengan tatapan sayu, lalu mengangguk pelan.

Aden hari ini berangkat dan pulang bersama pak Husain, ya. Nanti berangkat bareng sama kak Daniel, sama kak Mahen juga.” Mendengar penjelasan Bi Ami, jelas Reyhan semakin murung.

“Emang Ayah sama Bunda kemana, Bi?” Tanya Reyhan kecil dengan kepala yang sudah menunduk, tangan mungilnya sibuk mengaduk-aduk makanan di depannya. Tidak ada niatan untuk memakannya sesuap pun.

“Ayah dan Bunda sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali, den. Ada pekerjaan mendesak, katanya.”

Jawaban Bi Ami sukses membuat Reyhan menjadi kecewa sepenuhnya kepada kedua orangtuanya. Lagi-lagi, pekerjaan yang lebih di pentingkan oleh mereka. Bahkan di hari istimewanya seperti sekarang ini, masih pekerjaan yang menjadi pemenang di hati kedua orangtuanya.

Aden sarapan sendiri dulu, ya. Bibi mau nyiapin bekalnya aden sama kakak-kakak dulu.”

“Iya, Bi...”

Bi Ami pergi, meninggalkan Reyhan sendirian di meja makan karena wanita itu harus menyiapkan bekal untuk ketiga anak majikannya. Sudah menjadi tradisi di rumah ini, meskipun sekolah di sekolah elit, anak-anak majikannya harus tetap membawa bekal ke sekolah karena menurut majikannya, makanan dari rumah jauh lebih sehat dari makanan yang dijual di sekolah.

“Adek!” Reyhan menolehkan kepalanya dengan lesu kearah sumber suara, Reyhan memanyunkan bibir, menatap Daniel yang baru keluar dari kamarnya dengan seragam putih abu-abu yang sudah melekat dengan apik di tubuhnya.

REYHAN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang