[Brothership not BxB, family, angst]
Part lengkap.
Reyhan tidak membutuhkan uang, Reyhan tidak membutuhkan kemoterapi yang harus ia lakukan dua minggu sekali selama seumur hidup. Reyhan juga tidak membutuhkan tiga butir obat yang setiap hari harus d...
Mahen berdiri tepat di hadapan pintu masuk kamar Reyhan dengan tatapan sendu.
Mahen hari ini pulang kuliah lebih awal karena tidak ada kelas di sore hari. Daripada kesana-kemari dengan tujuan yang tidak jelas apalagi tidak ada kegiatan apapun di band-nya, Mahen pun memilih untuk pulang ke rumah.
Entah angin darimana yang mendorong Mahen, tetapi Mahen tiba-tiba merasa sedikit rindu pada rumah, atau lebih tepatnya pada hmm... adiknya?
Entahlah, Mahen sendiri tidak tahu yakin apa yang ia lakukan saat ini, karena ia pulang ke rumah dengan buah tangan dua porsi ayam bakar, makanan kesukaan Reyhan.
Mahen memandang pintu kamar berwarna putih itu, lalu perlahan-lahan mulai membukanya. Alisnya sedikit mengernyit saat melihat isi kamar Reyhan. Beberapa kali memasuki ruangan ini secara diam-diam, Mahen baru sadar jika isi kamar sang adik ternyata dominan berwarna terang.
Seperti meja belajar yang berwarna putih, wallpaper dinding yang berwarna biru muda, lemari pakaian berwarna putih, serta karpet bulu di lantai yang berwarna kuning.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ilustrasi kamar Reyhan.
Isi kamar Reyhan sangat bertolak belakang dengan kamarnya yang bernuansa gelap. Mahen jadi heran, apakah Reyhan bisa tidur dengan suasana kamar yang terang seperti ini?
Mahen menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran randomyang mulai bermunculan.
Mahen melihat arloji yang melingkar ditangan kirinya, disana terdapat angka 16.15, mengapa Reyhan belum pulang? Apakah biasanya Reyhan juga pulang selarut ini?
Entahlah, Mahen pun tidak tahu. Mahen akan menunggu sampai Reyhan pulang, lalu menikmati makanan yang ia bawa bersama sang adik.
Mahen menunggu Reyhan sembari menonton televisi. Entah mengapa, waktu terasa berjalan dengan lambat.
Padahal belum setengah jam ia menunggu, tetapi rasanya sudah sangat lama.
Apakah ini adalah efek karena Mahen terlalu merindukan sang adik?
Entahlah, tidak ada yang mengetahui perasaan Mahen kecuali dirinya sendiri dan juga Tuhan.
"Lama banget ck, Reyhan kemana, ya?" Racau Mahen sembari mencuri-curi pandang ke pintu utama.
Sampai saat ini, masih belum ada tanda-tanda Reyhan masuk kedalam rumah.
Mahen jadi sedikit khawatir. Bagaimana jika Reyhan ternyata mendapat masalah diluar sana? Bagaimana jika penyakit Reyhan kambuh di tempat umum?
Ah, Mahen jadi panik sendiri saat memikirkannya.
Mahen pun memutuskan untuk mencari Reyhan, ia mengambil kunci motornya di kamar, lalu segera pergi dari rumah.
Tetapi hal tak terduga kembali terjadi, karena saat baru saja Mahen membuka pintu, ternyata Reyhan sudah berada tepat dihadapan pintu masuk. Mahen sedikit terkejut, tetapi segera menetralkan ekspresinya.