Reyhan menghentikan langkahnya di sebuah halte bus yang letaknya tidak jauh dari sekolah, laki-laki itu menghela napas panjang sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya di kursi yang memang sudah di sediakan di halte, dan menunggu sang kakak datang menjemput.
Lima belas menit sudah Reyhan menunggu, akan tetapi Mahen belum juga datang. Reyhan melihat jam tangannya dan menaikkan sebelah alisnya saat angka 16.30 tertera di arloji digital miliknya.
“Kak Mahen kok belum dateng. Apa mungkin dia belum pulang dari kampus, ya?” Monolog Reyhan.
Enggan memikirkan hal yang tidak-tidak, Reyhan pun mengambil ponsel yang ada di dalam saku celana abu-abunya, berniat bermain game online yang biasanya ia mainkan bersama Jevan sembari menunggu Mahen datang. Namun lagi-lagi Reyhan harus menghela napas panjang ketika ia menekan tombol on di ponselnya, dan benda pipih itu hanya menampilkan layar hitam.
Reyhan menepuk keningnya saat baru menyadari jika ponselnya saat ini tengah lowbat.
“Ck, mati lagi.”
Bohong jika Reyhan tidak mengumpat ketika nasibnya tengah malang seperti sekarang ini.
“Terus, gimana caranya gue ngabarin kak Mahen kalau kaya gini?”
“Tungguin aja deh, siapa tau bentar lagi dia dateng.”
Dan pada akhirnya Reyhan pun memilih untuk menunggu walaupun tak bisa dipungkiri, di dalam hatinya terselip rasa gelisah yang teramat besar.
____________
Sudah hampir dua jam lamanya Reyhan menunggu di halte tanpa melakukan apapun, akan tetapi Mahen masih belum juga datang.
Reyhan jadi bingung, ia ingin segera pulang karena tubuhnya mulai terasa kedinginan, tetapi di sisi lain Reyhan tidak ingin membuat Mahen kebingungan nantinya.
Reyhan sudah tidak kuat, sekarang sudah hampir pukul setengah tujuh malam, namun Mahen belum juga muncul.
Reyhan ingin pulang, ia ingin segera tidur diatas kasur agar tubuhnya terasa sedikit membaik.
Laki-laki berusia tujuh belas tahun itu berdiri dari duduknya lalu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ada taksi atau bis, atau apapun itu yang bisa mengantarkannya pulang.
Sudah sangat lama Reyhan menunggu Mahen, akan tetapi masih belum ada tanda-tanda sang kakak datang. Sementara Reyhan sudah benar-benar tidak kuat lagi menahan tubuhnya. Ia sudah kelelahan hari ini, ditambah lagi dengan hujan yang turun beberapa saat yang lalu, hal itu semakin membuat tubuh Reyhan melemah. Karena bukan hanya tidak bisa beraktivitas yang berlebihan, penyakit sesak napas yang Reyhan derita akibat faktor keturunan juga sering kambuh saat tubuhnya merasa kedinginan.
“Kakak mana, ya? Kok belum dateng? Apa dia nggak jemput?”
“Ssh, Kepala gue pusing banget...” Reyhan mengerjapkan kedua matanya yang terasa memberat, Reyhan kembali merasa pusing karena terlalu lama berada di pinggir jalan dan terlalu lama menatap mobil-mobil yang melewati jalan raya di hadapannya.
Tess...
Tess...
Tess...
“Aduh, pake mimisan lagi.” Reyhan mulai panik saat darah segar nan kental mulai turun dari lubang hidungnya.
Anak itu segera menggeledah isi tasnya untuk mencari tisu, setelah menemukannya Reyhan pun segera mengelap darah yang keluar. Reyhan merasa semakin panik saat tisu yang ia bawa ternyata sudah hampir habis. Hanya tersisa beberapa lembar saja, dan Reyhan sudah menggunakan semua yang ia punya, padahal darah yang keluar masih belum berhenti.
“Loh, udah habis?” Lirih Reyhan sembari menggigit bibir bawahnya, Reyhan merasa semakin kalut sekarang.
“Ssh, sekarang gimana?”
“Darahnya belum berhenti...” Reyhan menadah tangannya tepat di area hidung, darah yang keluar pun menggenang di atas telapak tangannya.
Kepala Reyhan pusing, dadanya pun kembali terasa sesak dan berat. Reyhan panik, ia benar-benar panik apalagi saat mengecek persediaan obat di dalam tasnya. Ketiga botol berukuran kecil itu sudah sama-sama kosong.
Sial, sial, sial!
Air mata Reyhan mulai turun, selain karena rasa sakit, Reyhan juga sangat menyesal karena tadi ia berangkat terburu-buru dan akhirnya lupa untuk mengisi ulang botol obatnya dengan pil-pil yang baru. Reyhan menyesal, ia merutuki dirinya sendiri karena sudah sangat ceroboh.
“Kenapa jadi begini, sih? Kacau banget! Reyhan bego! Kenapa ceroboh banget sampai nggak pakai jaket? Otak lo mikirin apaan sih, Rey? Sampai lupa ngisi botol obat sama obat yang baru?” Reyhan menangis dalam diam, ia menunduk dan membenamkan wajahnya di lipatan tangan, kini seragam bagian lengan anak itu sudah tidak berwarna putih lagi, melainkan sudah berwarna merah pekat akibat darah yang masih saja keluar dari hidungnya.
______________
“Bro, gue duluan, ya.” Ucap Hasbi sembari menepuk pundak Jevan, Jevan hanya membalasnya dengan deheman.
“Tumben udah mau pulang. Biasanya nongkrong dulu.” Teman satu tim Hasbi yang bernama Zidan menyahut.
“Diluar gerimis, Dan, kalau nggak langsung pulang takutnya nanti hujannya makin deres. Mana gue lupa nggak bawa jas hujan lagi.” Jelas Hasbi sembari memakai jaket. Zidan menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Iya kalau si Jevan, enak. Ke sekolah bawanya mobil. Kalau gue? Mau bawa mobil, ya, rebutan dulu sama Abang gue.”
“Gue lagi yang kena.” Jevan menghela napas panjang, Hasbi tidak pernah lupa menyebut namanya saat membandingkan kehidupannya dengan hidup Jevan.
“Untung aja lo itu salah satu pegangan di tim ini. Kalau bukan, udah gue tendang lo dari sini, Bi. Reseh banget jadi orang.”
Zidan tertawa sebentar melihat ketabahan dan kesabaran Jevan dalam menghadapi sosok seperti Hasbi.
“Yaudah kalau gitu hati-hati di jalan ya, bro. Jangan ngebut-ngebutan, kalau hujannya makin deres neduh aja dulu biar nggak resiko.”
“Siap!” Hasbi mengacungkan jari jempolnya dan segera berlalu meninggalkan keempat temannya yang masih berada di lapangan basket, termasuk Jevan dan Zidan.
Setelah keluar dari sekolah, Hasbi yang sudah berada di parkiran pun mengecek ponselnya. Ia sedikit mengernyit saat jam di handphonenya menunjukkan pukul 18.25, Hasbi pulang dari sekolah cukup larut hari ini.
“Gerimis doang, terobos aja lah. Ntar kalau makin deres neduh di halte.” Monolognya sambil menyimpan handphonenya di dalam tas, lalu mulai melajukan motornya kearah jalan raya yang sekarang sudah macet karena hujan.
Dan apa yang Hasbi khawatirkan pun terjadi juga. Baru saja ia berkendara dan menerobos jalanan kota yang macet agar ia bisa segera pulang ke rumah, Hasbi merasakan guyuran air hujan semakin deras menerpa tubuhnya. Laki-laki berparas tampan itupun langsung menepikan motornya di pinggir jalan, tepat di sebuah halte bus.
Hasbi turun dari motor, melepas helm lalu menyugarkan rambutnya ke belakang. Hasbi sedikit mengernyit mendapati ada sosok manusia yang tidak asing di matanya sedang duduk di kursi halte dengan lutut yang ditekuk, sosok mungil itu juga menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan, membuat Hasbi merasa ragu.
“Ini... Si kecil bukan sih? Ngapain dia tidur di sini?”
“Apa gue panggil aja kali, ya? Siapa tau beneran dia.” Batin Hasbi bergejolak, ia penasaran dengan sosok disampingnya ini.
“Hai?” Sapa Hasbi pelan. Ia tidak mendapat jawaban apapun.
Akhirnya Hasbi yang sudah terlanjur penasaran pun memberanikan diri untuk menghampiri tubuh kecil itu.
Hasbi menepuk pundaknya pelan.
Laki-laki itu tampak terkejut, ia mengangkat wajahnya dan menatap Hasbi dengan tatapan sendu.
“Hasbi?”
“T-tolongin gue, Bi... S-sakit banget...”
_____________
Kasian Reyhan (。ŏ﹏ŏ)
KAMU SEDANG MEMBACA
REYHAN [TERBIT]
Fiksi Umum[Brothership not BxB, family, angst] Part lengkap. Reyhan tidak membutuhkan uang, Reyhan tidak membutuhkan kemoterapi yang harus ia lakukan dua minggu sekali selama seumur hidup. Reyhan juga tidak membutuhkan tiga butir obat yang setiap hari harus d...
![REYHAN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/352407742-64-k714686.jpg)