03. Bestfriend

1.4K 125 26
                                        

Reyhan tidak ingin terlalu larut dalam perasaannya, ia harus segera menyelesaikan sarapannya dan pergi ke sekolah.

Sepuluh menit kemudian Reyhan selesai. Sebelum benar-benar berangkat, Reyhan menyempatkan diri untuk meminum obat. Ia tidak ingin penyakitnya kambuh saat disekolah, karena jika hal itu terjadi pasti ia akan menyusahkan banyak orang.

Tin!

Tin!

Tin!

Senyuman Reyhan semakin lebar saat mendengar suara bel sepeda motor yang berasal dari luar. Tanpa melihat dahulu pun Reyhan sudah sangat hafal, jika suara itu adalah suara dari motor sahabatnya, Jevano Abraham.

Den Reyhan, di depan ada Den Jevan.” Bi Ami memberitahu Reyhan.

“Iya, Bi.” Reyhan tersenyum dan menganggukkan kepala merespon ucapan Bi Ami.

Reyhan segera memakai kaos kakinya, tidak lupa berpamitan kepada Bi Ami, setelahnya ia pun berlari kecil menghampiri Jevan.

“Jangan lari-lari, gue tungguin kok!” Seru Jevan saat melihat sahabatnya sedang berlari dengan tergopoh-gopoh.

Reyhan tersenyum lebar ketika berada di hadapan Jevan.

Good morning Jevan!” Ucap Reyhan dengan excited.

Good morning too!” Balas Jevan tak kalah excited. Senyum manis terpatri di wajah tampannya.

“Udah sarapan belum?” Tanya Jevan.

“Udah. Lo sendiri gimana? udah sarapan belum?” Jevan tersenyum tipis, ia diam sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya dengan lesu.

“Kenapa nggak sarapan?”

“Gue nggak laper.”

Reyhan menghela napas, ia tahu Jevan sedang berbohong.

“Sarapan disini, yuk. Kalau dari rumah nggak sarapan ntar waktu pelajaran laper, loh.” Reyhan menawarkan, Jevan kembali menggeleng.

“Nggak usah Rey, gue beneran nggak laper. Semalem tuh, gue habis makan nasi goreng, kenyangnya sampai sekarang hehe.”

Reyhan semakin yakin, jika Jevan sedang berbohong.

“U-udah siap, kan? Ayo kita langsung berangkat aja.” Jevan mengalihkan topik pembicaraan, Reyhan hanya menganggukkan kepala lalu naik ke motor Jevan.

Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Jevan dan juga Reyhan hanya saling diam. Sebenarnya Reyhan tahu jika Jevan sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi Reyhan memilih untuk tetap diam dan membiarkan Jevan tenang dahulu. Reyhan tidak ingin menambah beban pikiran untuk Jevan.

Reyhan yakin jika sudah waktunya, secepat nanti di sekolah ataupun selambatnya besok bahkan besok lusa, Jevan pasti akan menceritakan masalahnya kepada dirinya.

__________________

Lima belas menit berlalu, kini Jevan dan juga Reyhan sudah sampai disekolah dengan selamat. Sekolah masih cukup sepi karena sekarang baru pukul 06.25, bel masuk akan berbunyi 20 menit lagi.

“Rey, kayanya kita berangkatnya kepagian deh. Masa masih sepi gini.” Jevan keheranan, Reyhan yang berada tepat disampingnya mengangguk setuju.

Seperti yang Reyhan harapkan, saling diam dan tetap hening saat di motor tadi mampu membuat mood Jevan membaik. Buktinya, sekarang dia yang mengawali topik.

“Iya, eh tapi nggak juga kok, Van. Sekarang udah jam setengah tujuh!”

Jevan terkekeh, ia melirik sahabatnya dengan senyum.

Sedangkan Reyhan, tidak berbeda dengan Jevan, ia juga melirik Jevan yang terkekeh disampingnya. Jevan menatap lurus ke depan dengan senyuman yang tidak luntur dari wajah tampannya. Reyhan senang saat melihat Jevan sedang tersenyum. Bagi Reyhan, senyuman Jevan itu sangat menenangkan, senyuman Jevan di pagi hari seperti ini adalah sebuah semangat tersendiri bagi dirinya.

Tuhan, tolong jangan biarkan senyuman itu luntur dari wajah Jevan.” Reyhan membatin.

Di sisi lain, didalam hati Jevan tak henti-hentinya mengucap syukur, karena Reyhan pagi ini terlihat sangat semangat. Wajahnya juga seolah-olah bersinar.

Sangat happy.

Jujur, Jevan lebih menyukai Reyhan yang seperti ini daripada Reyhan yang lemas dan berwajah pucat.

Kalau saja Jevan boleh egois, Jevan ingin meminta kepada Tuhan agar Tuhan mengangkat dan menghilangkan penyakit Reyhan dari tubuhnya, agar Reyhan bisa hidup dengan bebas seperti manusia seusianya yang lain. Yang tidak harus terbelenggu oleh obat-obatan, dan tak jarang harus bergantung pada peralatan medis. Tetapi Jevan juga tidak bisa merubah takdir.

Ya Tuhan, bisa nggak sih Reyhan kaya gini terus setiap hari? Jevan seneng banget kalau lihat Reyhan kaya gini.”

Batin Jevan sembari menatap Reyhan yang kini berjalan dengan jarak yang sedikit jauh dari dirinya. Reyhan berjalan di hadapannya dengan sedikit melompat-lompat. Lucu sekali.

Inilah kisah persahabatan antara Reyhan Jean Nugraha dengan Jevano Abraham.

Mereka berdua bukanlah orang yang sempurna. Bahkan bisa dibilang, mereka adalah dua orang yang sama-sama memiliki luka mendalam di hati masing-masing.

Mereka adalah dua orang yang sama-sama memiliki takdir dan juga kehidupan yang lucu. Mereka berdua sama-sama memiliki mental bubur, serta hati yang sama remuknya, tetapi mereka tidak pernah menyesali takdir Tuhan. Alih-alih mengeluh, mereka lebih memilih untuk saling melengkapi, saling menyembuhkan luka dengan perlahan, dan tidak pernah lupa untuk saling mendoakan yang terbaik untuk masing-masing.

 Alih-alih mengeluh, mereka lebih memilih untuk saling melengkapi, saling menyembuhkan luka dengan perlahan, dan tidak pernah lupa untuk saling mendoakan yang terbaik untuk masing-masing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lee Jeno/ Jevano Abraham.

REYHAN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang