09. Manipulation

480 41 0
                                        

Kieri's pov.



"Suguru?"













"Hi, Kieri. Long time no see."

Apa ini? Apa itu benar-benar Geto Suguru, sahabat ku?

Ku coba menyadarkan diri dari halusinasi ini. Tepat 8 bulan yang lalu, Gojo Satoru menceritakan bagaimana depresi nya dirinya ketika dia harus membunuh Geto Suguru, sahabatnya sendiri. Pria itu sampai menangis sesegukan seperti anak bayi, hingga akhirnya terlelap di pelukan ku.

"Suguru, apa itu benar-benar kau?"

"Siapa lagi kalau bukan aku?" Dia menampilkan senyuman khasnya yang sangat ku rindukan.

"Suguru, aku merindukan mu," ucapku dengan menundukkan kepala.

Dia merentangkan tangannya, masih dengan senyuman manis itu hingga matanya menyipit. "Kemarilah!"

Aku segera berlari dan masuk ke dalam pelukannya.




Deg!

'Apa ini? Aku tidak dapat merasakan detak jantungnya.'

Aku mendongak, menatapnya yang juga menundukkan kepala untuk menatap ku.

"Ada apa?" Tanyanya lembut padaku.

"Kau bukan- Siapa kau?" ku dorong tubuhnya agar menjauh dari ku.



"Haha! Jadi kau sudah menyadarinya ya?"














Aku tak melihat sosok Geto Suguru lagi setelah menutup sejenak kelopak mata ku. Hanya padang rumput kosong dan terdapat aku di tengah-tengahnya. Apa yang sudah terjadi?

"Aku dimana.."

Aku melirik ke sekeliling arah, tak ku temukan siapa pun disana.

Aneh, aku ingat kala aku menutup mata setelah kekasih ku mengecup dahi ku dan mengucapkan kalimat 'selamat malam'.











Jleb

Jantung ku berhenti berdetak sejenak. Rasa sakit mulai menjalar hingga menusuk setiap sel yang mengalir di tubuhku.

Kepalaku menunduk, menemukan sebuah pedang panjang menembus tepat di perutku.

"A– apa yang–"

Leherku memutar dan berbalik arah menuju belakang.







Wajah ayahku ada disana. Ayahku yang menusuk perut ku.

Dia ingin membunuhku?

















"Kau sangat mudah teralihkan ya. Ternyata tak perlu susah-susah untuk membunuh mu."



















"Hah!?" Ku tarik dan menghembuskan nafasku secara tak teratur. Mata ku mengerjap berkali-kali untuk menetralkan pandangan.

Ruangan gelap bernuansa abu-abu memenuhi seluruh kornea ku. Jadi tadi hanya mimpi?

Segera aku menoleh ke arah kiri, menemukan Gojo sedang menyentuh tangan ku erat dengan raut wajah yang khawatir.

"Sayang, ada apa?" Tangan putihnya mengenggam milikku dengan lembut.

Jidat ku menempel pada dada bidang nya dengan tujuan mencari ketenangan lalu menggelengkan kepala.

"Aku baik-baik saja Satoru."

𝗢𝘂𝗿 𝗘𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴 || 𝐆𝐎𝐉𝐎 𝐒𝐀𝐓𝐎𝐑𝐔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang