07:30 WIB.
Setelah membuka mata dan melihat jam. Tubuh ramping itu langsung melompat dari tempat tidur dan segera masuk kamar mandi hanya untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Dalam waktu yang sangat singkat, ia berhasil membuat dirinya terlihat siap dan segar. Rambutnya yang basah sedikit tergerai, dan wajahnya yang bersih membuat penampilannya terlihat lebih cerah. Setelah selesai, ia langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil tas sekolah dan buku-buku yang diperlukan.
"Pak, tolong cepetan dikit ya, aku udah telat!" pinta Calla kepada Pak Aceng supirnya.
"Siap Neng!" Pak Aceng langsung menginjak pedal gas, mobil melaju kencang di jalan yang mulai ramai. Calla duduk di belakang, terus melihat jam tangan dan menggigit bibir, cemas karena takut dirinya terlambat.
"Pak, tolong putar musiknya, biar aku nggak bete," pintanya sambil mengetuk-ngetukkan kaki kanannya di lantai mobil.
Pak Aceng tersenyum dan mengedipkan mata, "Siap, Neng!" musik mulai mengalun, dan Calla ikut bernyanyi sambil berharap hari ini tidak terlalu buruk.
Mobil yang membawa Calla berhenti secara tiba-tiba, membuat Calla terkejut, "Kenapa Pak?" tanya Calla dengan nada khawatir, sambil menatap ke depan.
Pak Aceng, sopir yang setia, menjawab, "Kayaknya bannya bocor, Bapak cek sebentar ya." Pak Aceng kemudian keluar dari mobil untuk memeriksa kondisi ban.
Calla menghela napas frustrasi sambil mengetuk-ngetukkan tangan di lututnya. "Serius nih? Hari ini harus begini?" gumamnya, merasa kesal karena hari yang sudah telat kini semakin terganggu.
Ia melihat ke luar jendela, berharap ada taksi atau kendaraan lain yang bisa membantu. Tapi jalan terlihat sepi, dan Calla mulai merasa panik karena akan terlambat ke sekolah.
"Pak, berapa lama lagi?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit cemas. Pak Aceng memeriksa ban lebih dekat dan menjawab, "Kayaknya ban dalam harus diganti, Neng. Mungkin butuh waktu sekitar 30 menit." Calla mengerutkan kening, merasa waktu semakin tidak berpihak padanya.
Dengan rasa khawatir akan terlambat, Calla memutuskan untuk berlari ke sekolah. "Pak! Calla duluan!" serunya, sambil melambaikan tangan dan berlari meninggalkan mobil.
Pak Aceng mencoba untuk menghentikannya, "Neng! Jangan!" tapi Calla sudah berlari menjauh.
Tiba-tiba, dari arah tikungan, muncul sebuah motor yang melaju kencang. Calla tidak menyadari bahaya yang mendekat, terlalu asut dalam pikirannya. Pengendara motor itu tidak bisa menghindar lagi, dan... "BRUGHH!" Motor itu menyerempet kakinya, membuatnya terjatuh ke aspal.
Calla berteriak kesakitan, memegangi lututnya yang terluka. Pengendara motor itu langsung berhenti dan berlari menghampiri gadis itu, "Lo gapapa?" katanya dengan khawatir.
Calla mencoba bangun, tapi lututnya terasa sangat sakit. Dia memijat-mijat lututnya yang terluka, wajahnya terlihat kesakitan. Pengendara motor itu membantu berdiri dan kemudian matanya melirik pada baju seragam Calla, di sana ada simbol kecil dimana simbol sekolah yang sama dengan sekolah barunya. "Sma Angkasa?" batinnya.
Calla tiba-tiba menarik tangannya yang dipegang oleh lelaki itu dan mundur sedikit. "Makasih atas bantuannya, tapi gue harus pergi sekarang," katanya dengan nada dingin, sambil memandangnya dengan tatapan yang tidak ramah.
Lelaki itu terkejut dengan reaksi Calla, tapi dia tidak menunjukkan rasa kesal. "Oke, hati-hati ya," katanya singkat, sambil memperhatikan Calla yang berbalik dan berjalan pergi meninggalkan lelaki itu yang masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan sedikit bingung. "Kenapa dia?" gumam lelaki itu pada dirinya sendiri, sambil menggelengkan kepala dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Dia lalu berjalan menuju motornya yang tergeletak beberapa langkah darinya. Saat dia akan menaikinya, dia melihat buku berwarna biru muda terjatuh di tanah. Ketika dia mendekat, dia melihat bahwa itu adalah buku diary gadis yang tadi terjatuh.
Dengan rasa penasaran, dia mengambil buku itu. Tiba-tiba, dia tersenyum ketika melihat tulisan, "Calla's book" di sampul buku itu. "Jadi namanya Calla.."
Calla terus berlari dengan gigih, dia terus memacu dirinya untuk berlari lebih cepat, meskipun napasnya sudah mulai terengah-engah. Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti menusuk kakinya, tapi dia tidak peduli, yang penting dia harus sampai di sekolah sebelum bel berbunyi.
Saat dia hampir sampai di gerbang sekolah, dia melihat lelaki yang tadi menabraknya berdiri di dekat motornya, menatapnya dengan senyum. "Capek, kan?" kata lelaki itu, sambil menyodorkan helm motornya. "Naik, bareng gue!" Calla ragu sejenak, tapi kemudian mengangguk. "Oke!" katanya, sambil langsung naik ke motor.
Lelaki itu tersenyum dan menghidupkan mesin motor. "Tahan erat, ya!" katanya, sambil melajukan motornya dengan kecepatan yang membuat Calla berpegangan erat pada pundak lelaki itu.
✮ ✮ ✮
Jangan lupa vote ya, terima kasih (. ❛ ᴗ ❛.)
KAMU SEDANG MEMBACA
Ascella Stars
RomanceKisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
