Siswa baru

77 26 1
                                        

Setelah sampai di parkiran sekolah, Calla menatap lelaki itu dengan sedikit penasaran, "Kita harus kenal?" tanya Calla datar, sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ia tidak suka ketika orang-orang sok kenal dengannya.

Lelaki itu tersenyum, "Gak juga, gue cuma ngerasa kayak pernah lihat lo sebelumnya." Calla mengangkat alis, "Gue gak ingat." jawabnya singkat, sambil mengalihkan pandangannya ke arah Adel dan Yesha yang sedang berjalan menghampirinya.

"SELAMAT HARI SENIN, BESTIEHH!" teriak seseorang yang selalu berteriak keras mirip orang kesurupan. Yang tak lain dan tak bukan ialah sahabatnya.

Calla hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa heran sekaligus malu dengan tingkah sahabatnya ini. Ya, namanya Adel dan Yesha. Mereka sudah bersahabat sejak kecil.

Adel dan Yesha langsung memeluk Calla dengan erat, membuat Calla terkejut dan sedikit terhambat karena lukanya. "Aww, sakit!" kata Calla sambil berusaha melepaskan pelukan mereka.

Adel memperhatikan Calla dengan seksama, matanya memindai setiap detail wajah dan tubuh Calla. Saat itu, pandangannya jatuh pada lutut Calla yang terluka dan berdarah.

"OH MY GOD, CALLA, LUTUT LO!" seru Adel, suaranya penuh kekhawatiran. Yesha juga ikut memperhatikan luka Calla, "WHAT HAPPENED? ADA APA? KUNAON?" kata Yesha heboh.

"Jatuh tadi." Adel dan Yesha langsung heboh, "Jatuh? Kok bisa jatuh?" tanya kedua sahabatnya khawatir, sambil memeriksa luka di lutut Calla.

Tiba-tiba Adel dan Yesha menoleh ke arah lelaki yang masih berdiri di tempat yang sama. "Dia siapa?" tanya Adel dengan rasa penasaran. Yesha juga ikut menatap lelaki itu dengan penasaran.

Calla menggelengkan kepala, "Gak kenal." Adel dan Yesha mengangguk, tapi mereka tetap menatap lelaki itu dengan penasaran dan ekspresi yang skeptis. "Gue mau tanggung jawab," kata lelaki itu dengan senyum percaya diri.

Yesha mengangkat alisnya, "Tanggung jawab? Lo?" Adel menambahkan, "JADI INI ULAH LO?!" kata Adel dengan suara keras, membuat Yesha yang berada di sampingnya langsung menengok dengan ekspresi kesal. "Bisa kaga sih, Del, gak usah kenceng-kenceng? Nanti gue tuli mendadak gimana?" protes Yesha sambil menggosokkan tangan ke telinga.

Adel hanya nyengir dan mencolek dagu Yesha, "Sorry, babe, love you!" Calla menghela nafas jengah, menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya.

Lelaki itu tersenyum santai, "Iya gue."

Adel dan Yesha saling menatap, lalu tertawa. "Kok bisa?" tanya Adel dengan nada tidak percaya.

Lelaki itu mengangguk, "Ya namanya juga kecelakaan." kata lelaki itu dengan nada santai, sambil mengangkat bahu.

Adel dan Yesha mengangguk setuju, "Untung lo ganteng." kata Adel.

Yesha langsung menimpali, "Istigfar, Del!" Calla hanya menggelengkan kepala kemudian mengamati suasana lingkungan sekolah yang mulai sepi, beberapa siswa sudah masuk ke dalam kelas.

"Kita harus masuk, kayaknya bel sebentar lagi bunyi," kata Calla sambil menoleh ke arah Adel dan Yesha.

Adel dan Yesha saling menatap, lalu menggeleng serempak, "Gak, ke UKS karna luka lo lumayan parah."

Calla hanya menggelengkan kepala, "Gak perlu, gak apa-apa kok." Calla tidak mau mendengar, ia langsung menarik mereka untuk pergi ke kelas.

"Ayo! Dua menit lagi bel!" kata Calla, sambil menarik kedua sahabatnya pergi. Adel dan Yesha hanya bisa pasrah, mereka tahu bahwa mereka tidak bisa menolak keinginan sahabatnya yang keras kepala ini.

✮ ✮

"BU RANI GUYS!"

Sontak semua yang berada di kelas langsung duduk di tempatnya masing-masing sembari menyimpan ponselnya dengan aman.

Berbeda dengan murid yang tengah duduk di pojok, yang tidak memperhatikan suara-suara di sekitarnya yang mulai tenang karena pelajaran akan segera dimulai. Pria itu Langit, sibuk mencoret-coret indah di buku sketsanya. Ia menggambar seseorang yang diam-diam selalu ia gambar siluetnya. Ia begitu fokus pada gambarnya, sehingga tidak menyadari bahwa guru sudah memasuki kelas dan sedang memandang ke arahnya dengan sabar.

Calla, yang duduk di depannya, tidak menyadari bahwa ia sedang menjadi objek gambar Langit. Ia sibuk mempersiapkan buku dan alat tulisnya, sambil sesekali melirik ke arah Adel dan Yesha yang duduk di sebelahnya.

"Selamat pagi!" guru itu tersenyum memandang kelasnya, rapi.

"Pagi ibu!" sambut murid kelas 11 Mipa 2 dengan semangat.

"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru ya anak-anak." ujar Bu Rani.

Kemudian guru itu mempersilahkan siswa itu masuk, banyak dari kalangan siswi perempuan yang sedikit histeris karena murid baru itu. Satu kata, tampan.

"OH MY GOSH?!" teriak Adel dan Yesha bersamaan, mata mereka melebar karena kaget.

Calla yang duduk di belakang mereka hanya menghela nafas pelan, sepertinya sudah terbiasa dengan reaksi mereka berdua. Sementara itu, lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk sedikit, seolah sudah terbiasa dengan reaksi seperti itu.

"Ada masalah dengan kalian?" tanya Bu Rani dengan senyum yang mematikan, mencoba menyembunyikan senyumnya melihat reaksi murid-muridnya.

Adel dan Yesha langsung terdiam, wajah mereka memerah karena malu. "Ehm, engga ada, Bu," jawab Adel gugup, sementara Yesha hanya mengangguk setuju.

Bu Rani hanya menggelengkan kepala, "Baiklah, lanjutkan perkenalanmu." Siswa itu mengangguk, ia tersenyum tipis, "Perkenalkan nama saya Abbie Ghali Samudra, panggil aja Sam."

Seketika pria yang duduk di kursi pojok sontak menghentikan kegiatannya, ia mendongak, memastikan bahwa yang didengarnya itu tidak benar.

Satu tangannya terkepal kuat, dalam hati ia mengumpat. Kedua matanya menatap tajam Sam, si murid baru. Sedangkan yang ditatap, ikut menatap balik pria itu sembari tersenyum remeh.

Guru itu pun mempersilahkan Sam untuk duduk disalah satu bangku yang kosong. "Thanks, Bu." jawabnya santai dengan berjalan sebelah tangan yang dimasukkannya ke sebelah kantung celananya.

"Walcome bro! Akhirnya pindah juga ke sini." Sam  tersenyum sembari menepuk pundak Revan. Namun, senyumannya langsung memudar ketika ia melihat Calla yang duduk beberapa bangku di depannya, memasang muka tidak peduli.

Tatapan Sam terpaku pada wajah Calla, mencoba untuk menangkap sedikit pun ekspresi yang mungkin tersembunyi di balik wajahnya yang dingin itu. Ia penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, dan mengapa ia terlihat begitu tidak peduli hari ini.

✮ ✮ ✮

Gimana guys? Jangan lupa vote dan komen yaaa! (⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠⁠ ⁠❛⁠.⁠)

Ascella StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang