2.7

3 4 0
                                        

Sebelum mobil mereka sampai di rumah Calla. Calla, Yesha dan Pak Aceng sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Calla dan Yesha duduk di kursi belakang. Yesha memainkan ponselnya, sementara Calla memandang keluar jendela, menikmati pemandangan yang lewat. Pak Aceng mengemudi dengan santai, sesekali berbicara dengan mereka tentang hari ini di sekolah.

Saat mendekati rumah, Calla memperhatikan ada mobil lain yang terparkir di depan rumahnya. "Siapa?" kata Calla sambil menoleh ke Yesha. Yesha mengangkat alis, "Tamu mungkin?"

"Pak Aceng, ada tamu ya?" tanya Calla dengan nada penasaran, mata yang berbinar menanti jawaban.

Pak Aceng tersenyum tipis dan menjawab, "Coba kamu lihat sendiri, Neng." Calla mengerutkan kening, sedikit bingung dengan jawaban Pak Aceng. "Apa maksudnya, Pak?" tanya Calla, penasaran.

Pak Aceng tersenyum misterius dan mengedipkan mata. "Nanti kamu lihat saja langsung," katanya sambil membuka pintu mobil untuk Calla dan Yesha turun.

Calla dan Yesha berjalan menuju pintu rumah, dan saat mereka membuka pintu, mereka melihat seseorang yang sedang duduk di ruang tamu. "Papa? Mama?" Calvin dan Lenna tersenyum hangat ketika melihat Calla terkejut.

"Hai, anak Papa!" kata Calvin sambil membuka tangan untuk memeluk Calla.

Calla langsung menghambur ke pelukan ayah dan ibunya, merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan mereka berdua.

"Aku senang banget!" kata Calla dengan gembira. Calvin dan istrinya membalas pelukan Calla, merasa bahagia melihat putri mereka begitu gembira.

Yesha tersenyum melihat momen hangat itu. Kemudian ia memutuskan untuk pamit pulang, tidak ingin menganggu momen itu, "Kalau gitu aku pamit dulu ya, Om, Tante. Selamat bersenang-senang ya semua," kata Yesha sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Calvin dan istrinya membalas lambaian tangan Yesha, "Selamat sore, Yesha. Hati-hati di jalan, ya." kata Calvin dengan senyum hangat.

Lenna menambahkan, "Sampai jumpa lagi, Yesha. Tolong jaga Calla baik-baik ya, walaupun dia sekarang ada di sini dengan kita." Yesha mengangguk, "Baik, Tante. Saya akan jaga Calla baik-baik." Setelah berpamitan, Yesha keluar dari rumah dan menuju ke Pak Aceng untuk meminta diantarkan pulang, sementara Calla dan orang tuanya kembali menikmati waktu bersama.

Mereka bertiga kemudian duduk kembali di ruang tamu, dengan suasana hangat dan penuh cinta memenuhi rumah itu, membuat mereka merasa bersyukur bisa bersama kembali.

"Kalian kok bisa pulang lebih awal?" tanya Calla dengan rasa ingin tahu.

Calvin tersenyum dan mengambil tangan Calla, "Kita ada urusan penting di Indonesia. Tapi yang lebih penting, Papa ingin memberitahu kamu sesuatu."

Calla merasa penasaran, "Apa itu, Papa?" Calvin menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Papa sudah membicarakan dengan Mama, dan kita memutuskan bahwa mulai besok Papa sama Mama akan tinggal di Amerika untuk waktu yang gak bisa ditentukan."

Calla merasa sedih mendengar kabar itu. Dia baru saja bersemangat karena ayah dan ibunya sudah pulang, tapi ternyata kehadiran mereka hanya sementara saja. "Papa, terus aku?" tanya Calla dengan nada kecewa.

Calvin memandang Calla dengan penuh kasih sayang, "Papa tahu ini berita yang berat buat kamu, sayang. Tapi Papa dan Mama sudah membicarakan ini dengan serius. Kamu akan tinggal di sini dengan Bi Nana dan Mang Aceng. Jangan khawatir, karna kamu selalu bisa menghubungi kita kalau kamu membutuhkan sesuatu."

"Tapi kenapa harus besok banget?" kata Calla dengan suara yang bergetar.

Calvin dan Lenna memeluk Calla erat, "Maafin kita, sayang. Tapi ini adalah kesempatan baik untuk Papa dan Mama. Kamu harus kuat dan mandiri, ya?" Calla mengangguk, mencoba menahan air matanya. Dia tahu bahwa ayah dan ibunya harus pergi, tapi dia tidak bisa menyangkal perasaan sedihnya.

Mereka berdua kemudian berbicara lebih lanjut tentang rencana mereka ke depan, dan Calla merasa sangat bersyukur saat ini dengan adanya mereka di sampingnya. Dia tahu bahwa ini akan menjadi waktu yang berharga bagi mereka.

✮ ✮

Calla duduk di meja makan sambil memandang kedua orang tuanya yang sedang bersiap untuk pergi. Ayahnya memakai jas dan memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas, sementara ibunya memeriksa isi kopernya untuk mereka bawa hari itu.

"Sayang, Papa dan Mama harus pergi lagi." kata Lenna sambil memberikan Calla secangkir susu.

Calla mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. "Iya, Mama. Kalian hati-hati di jalan ya."

Calvin mendekati dan memeluknya erat. "We love you, sayang. Kamu makan sarapan dulu, ya?"

Calla memaksakan senyum. "Iya, Papa. I love you more."

Calvin dan Lenna membungkuk bersamaan untuk mencium pipi Calla, ekspresi wajah mereka penuh kasih sayang, "Kabarin kita kalau ada apa apa ya, sayang?" Calla mengangguk lagi, berusaha menahan air matanya.

Setelah orang tuanya pergi, Calla merasa kesepian dan khawatir. Ia tahu bahwa orang tuanya sibuk, tapi rasanya semakin berat ketika mereka harus pergi lagi dan lagi.

Calla menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyiapkan tas untuk sekolah. Ia tidak ingin hari ini semakin berat.

✮ ✮ ✮

Ascella StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang