Calla dan Sam pulang bersama, Sam membonceng Calla dengan sepeda motornya. Ketika sampai di depan rumah Calla, Sam menyerahkan susu kotak favorit Calla. "Nih buat lo. Semoga bisa bikin lo merasa lebih baik," Sam berkata dengan senyum lembut.
Calla merasa sedikit tersentuh karena Sam memperhatikan hal kecil seperti itu. "Oh! Thank you!" Calla berkata dengan suara yang lembut.
Sam tersenyum, "Jangan sungkan buat cerita." Calla merasa hatinya berdebar sedikit, tidak tahu bagaimana harus merespons. Tapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, Sam sudah berbalik untuk pergi. "Gue pulang ya, Calla. Istirahat yang banyak," Sam berkata sambil melambaikan tangan.
Calla menonton Sam pergi, merasa sedikit bingung tapi juga sedikit tersenyum. Dia tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang berbeda tentang Sam yang membuatnya merasa nyaman. tidak menyangka Sam melakukan ini untuknya.
Calla kemudian menuju ke kamarnya, melepas tas dan sepatu, dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Calla merasa lelah, tapi dia tidak bisa tidur karena pikirannya masih dipenuhi dengan perasaan yang berbeda tentang Sam.
Calla melihat notifikasi dari grup dan membuka pesan di grup itu.
Lonely Teenagers Squad 💋
| Yesha
@Calla, Gimana? Udah lebih baik?
Calla |
Udah kok, thanks ya guys 🫶🏻
Dan Sam juga tadi baik banget..
| Adel
Cie, kayaknya benih benih cinta
mulai muncul 🤪
Calla |
Gaklah, ngaco!
| Yesha
Let's see!
| Adel
Yuhuu! Gak sabar deh nunggu
drama romance ini dimulai.
| Yesha
Hahahaha, sialan lo, Del 🤪
Calla |
Gak jelas! Bye semua! 😴
| Adel
Selamat tidur guys!
| Yesha
And sweet dreams, semuaa!
Read
Calla menutup ponselnya dan tersenyum, masih memikirkan Sam dan perasaan yang ada di hatinya. "Gue kenapa sih?," bisikannya pada dirinya sendiri, dengan senyum yang semakin melebar.
Dia merebahkan diri di tempat tidur dan menutup mata, berharap bisa tidur nyenyak dan melupakan ledekan Adel dan Yesha tentang Sam. Tapi sebelum tidur, Calla tidak bisa menyangkal bahwa dia masih tersenyum ketika memikirkan Sam.
✮ ✮
Hari ini adalah hari pelajaran olahraga, dan kelas MIPA 3 sedang bermain basket di lapangan sekolah. Sam dan teman-temannya bersemangat mempersiapkan diri untuk bermain.
Ketika permainan dimulai, Sam dengan cekatan dengan gerakan yang lincah dan kuat, dia melompat tinggi ke udara, tangan kanannya terulur untuk memasukan bola basket ke dalam ring. Waktu sepertinya melambat, bola basket itu terlihat seperti berada di tangan kanannya selama-lamanya.
Kemudian, dengan gerakan pergelangan tangan yang halus, dia melepas bola dan bola itu meluncur dengan mulus ke dalam ring, mencetak poin yang sangat penting.
Penonton bersorak dan bertepuk tangan, sementara teman-temannya di lapangan basket memberikan high-five dan pujian atas penampilan yang luar biasa. Melompat untuk melakukan dunk, bola basket itu meluncur deras ke arah lapangan lawan. Lawannya berusaha mengembalikan bola, tapi tim Sam berhasil memblok dan memenangkan poin.
Calla yang menonton dari pinggir lapangan terkesan dengan kehebatan Sam saat bermain basket. Setiap gerakan Sam terlihat lincah dan tepat, membuat bola basket meluncur dengan keras dan akurat. Calla terpaku melihat Sam melakukan dunk yang spektakuler, membuat timnya mencetak poin.
"Wow, dia makin ganteng kalau main basket!" kata salah satu siswa yang duduk di belakangnya. Yang lain mengangguk setuju, "Iya, Sam bakal jadi pemain basket terbaik sih di sekolah ini."
Calla terus menonton dengan kagum, takjub dengan kemampuan Sam yang begitu luar biasa. Dia merasa bahwa Sam benar-benar memiliki bakat alami dalam bermain basket.
"Ekhem kagum mbak?" ejek kedua sahabatnya sambil tersenyum nakal.
"Kayaknya ada yang bisa buka hati nih." Lagi-lagi sahabatnya menggoda, membuat wajahnya memerah karena malu.
"Ah, dasar gak jelas!" jawabnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, berusaha menutupi rasa malu.
Setelah permainan basket selesai, banyak siswi yang berdatangan untuk mencari perhatian Sam, tapi Sam tidak menghampiri mereka. Sebaliknya, Sam malah berjalan menuju tempat Calla yang sedang duduk di bangku penonton, membuat banyak mata memandang dengan penasaran.
"Hai, Calla! Lo nonton gue main basket?" tanya Sam dengan senyum ramah, membuat Calla sedikit terkejut.
"Gak sih, cuma bosen aja di kelas." jawab Calla dengan wajah memerah karena malu, sementara Sam duduk di sebelahnya dengan senyum menggemaskan. Calla terlihat sedikit gengsi dan tidak bisa menatap mata Sam secara langsung.
Tiba-tiba Sam menggenggam tangan Calla dan menariknya sedikit lebih dekat. Calla merasa jantungnya berdebar-debar dan pipinya memerah. "Sam..." Calla merasa seperti tersedot ke dalam mata Sam yang dalam dan penuh kasih sayang. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya, seolah-olah terhipnotis oleh tatapan Sam. Waktu sepertinya berhenti sejenak, hanya ada Calla dan Sam yang saling memandang dengan intens. Lalu, tanpa sadar, Calla merasa pipinya memerah dan dia mengalihkan pandangannya, merasa sedikit gengsi.
Sam tersenyum lembut dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Calla. "Pipi lo merah, salting ya?" tanya Sam sambil menyentuh pipi Calla dengan lembut.
Calla merasa pipinya semakin memerah dan dia tidak bisa menyangkal lagi. "S-sam..." kata Calla dengan suara yang hampir tidak terdengar, sambil mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Sam tertawa pelan dan menarik tangan Calla untuk mendekatkan wajahnya. "Gue suka lihat lo malu-malu gini," bisik Sam membuat Calla merasa jantungnya berdebar-debar, tidak tahu bagaimana harus merespons. Calla langsung menarik tangannya dari genggaman Sam dan berlari, meninggalkan Sam yang masih tersenyum dan tertawa pelan.
✮ ✮ ✮
KAMU SEDANG MEMBACA
Ascella Stars
RomanceKisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
