Kisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
Sebuah motor sport melaju dengan kecepatan melebihi batas membelah jalanan kota. Saking cepatnya, motor itu membuat dedaunan layu pada aspal seolah ikut terseret terbawa jejak angin.
Menembus langkah, melewati pengendara lain yang juga melintas di jalan yang sama. Sampai akhirnya berhenti di lampu merah.
Motor Sam berhenti di samping mobil bnw berwarna hitam. Sam terus memperhatikan mobil yang sangat familiar itu. Benar saja. Tak lama kemudian kaca hitam mobil itu terbuka menampakkan Langit di kursi kemudi.
"Jangan ganggu Calla." ujar Langit dengan wajah datar tanpa menoleh.
Sam tersenyum smirk. Kedua matanya menatap tajam pada Langit. Kemudian ia bunyikan mesin motor yang sengaja ia buat suara berisik. Deru suara motor berderung dan memenuhi jalanan tersebut.
Sampai akhirnya lampu merah telah usai dan berganti lampu hijau. Bersamaan itu pula kendaraan yang dikendarai Langit dan Sam melaju cepat membelah jalanan. Mengendarai sekuat tenaga agar bisa melaju cepat dan berada diposisi paling depan.
Langit menginjak pedal gas sekuat mungkin begitu melihat motor Sam melaju dengan cepat di belakangnya.
Kemudian ia menghentikan mobilnya tepat di depan motor Sam. Berusaha menghalangi jalan agar Sam tak melajukan motornya.
Sam berdecak, dengan kasar ia membuka helm yang ia kenakan lantas menatap tajam mobil Langit.
"Maksud lo apa bangsat!" saat ini Sam benar-benar emosi karena moodnya yang mulai berantakan.
Langit menatap Sam dengan mata dingin, senyum culas masih menghiasi bibirnya. "Jangan ganggu Calla," ulang Langit, suaranya tetap dingin dan tanpa emosi.
Namun, Sam tidak gentar, ia membalas tatapan Langit dengan mata yang menyala-nyala karena emosi. Dengan gerakan cepat, Sam mencengkeram rahang Langit, mendongakkan dagunya dengan kasar.
"URUSANNYA APA CALLA SAMA LO?!" bentak Sam, amarahnya memuncak. Tapi, Langit hanya tersenyum lagi, lalu dengan cepat ia memukul pipi kanan Sam dengan cukup keras, membuat Sam terjatuh ke aspal.
Sam tidak gentar, ia membalas pukulan Langit dengan satu tinju yang tepat mengenai pipi kanan Langit. Wajah mereka berdua sangat dekat, mata mereka saling menatap dengan penuh amarah.
Langit tampak terkejut karena Sam berani membalas, tapi ia tidak menunjukkan rasa sakit. Ia malah menyiapkan tinju lagi untuk memukul Sam. Namun, tepat saat itu, rombongan anggota geng motor Black Rose datang dan berhenti di belakang Sam, membentuk barisan yang solid.
Langit melihat kedatangan mereka dan untuk sementara menahan diri, tidak jadi memukul Sam. Suasana menjadi tegang, kedua belah pihak saling menatap dengan mata yang menyala-nyala.
"Gue bilang, jangan ganggu Calla!" ulangnya lagi tapi dengan nada dingin dan berapi-api, sebelum akhirnya melepas Sam dan berjalan cepat meninggalkan tempat kejadian. Amarahnya masih membara, terlihat dari langkah-langkahnya yang cepat dan tegap.
Sementara itu, Sam masih berdiri tegak, memantau Langit hingga ia menghilang dari pandangan. Teman-temannya yang ada di belakangnya juga tetap siaga, menunjukkan kesetiaan dan kesiapan mereka untuk melindungi Sam.
Sam mendengus kesal, "Pada mau ngapain ke sini?!" Tapi, sebelum ia bisa melanjutkan, Revan menjawab dengan santai, "Mau nyapu aspal, ya bantu lo lah."
Sam langsung merespons dengan nada kesal, "Lo kira gue cupu?!" Naka kemudian menyela dengan nada lebih serius, "Abang jago emang bakal menang walaupun tiga lawan satu, tapi kalau lawannya Langit kalian yakin ada yang menang?" Suasana menjadi sedikit tegang, karena semua tahu reputasi Langit yang tidak bisa dianggap enteng.
Bima mencoba mencairkan suasana dengan lelucon, "Tapi saking gak mau kalahnya, luka mereka sama-sama di pipi kanan." membuat mereka semua tertawa.
Sam pura-pura marah dan menempeleng kepala Bima dan Naka. "Emang kalian berani sama gue?" tanyanya dengan nada menantang, tapi senyum di wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar marah.
"Ampun Bos!" seru Bima dan Naka, membuat mereka semua tertawa lagi.
Dalam momen seperti ini, mereka benar-benar merasakan kebersamaan dan persaudaraan yang kuat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, mereka semua sama.
✮ ✮
Setelah mandi dan ganti baju, Sam membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Saat ini ia hanya memikirkan gadis itu, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan banyak kupu-kupu yang menari riang di perut nya lagi. Menurutnya, Calla memang memiliki sikap dingin dan keras di luar, tapi juga memiliki sisi lembut cerewet dan tidak mau kalah.
Sejenak ia menutup matanya untuk tidur, namun ia teringat sesuatu. "Oh iya!" ucapnya sambil menepuk jidatnya. Ia pun beranjak dari tempat tidur menuju tas yang berada dimeja belajar dan mengambil sebuah buku berwarna biru muda.
Dengan rasa penasaran ia membuka halaman pertama pada diary yang berada di depannya.
13 july 2019
Today, we talked about semesta dan isinya sembari memperhatikan bulan yang perlahan muncul di langit yang semakin gelap, menyinari bumi dengan cahaya lembutnya. Meskipun ia bersinar sendirian, bulan tetap memberikan cahayanya tanpa pamrih, menghangatkan hati dan menerangi jalan bagi yang membutuhkannya. Begitu pula dengan keikhlasan dan ketulusan hati, ia tak selalu membutuhkan pengakuan atau balasan, melainkan hanya untuk memberikan yang terbaik dalam diam..
Selamat ulang tahun, Azetta Cathlenna.
Sejenak Sam tersenyum melihat halaman pertama di buku itu. Ia sangat kagum dengan tulisan indah gadis itu. Namun disisi lain, ia teringat akan tulisan "Azetta Cathlenna." di pemakaman beberapa jam yang lalu. Setelah itu, ia mengangguk paham akan nama tersebut.
Saat mata Sam perlahan menutup, rasa kantuknya semakin kuat, tapi rasa penasaran itu tetap membekas dalam pikirannya. "Halaman selanjutnya..." gumamnya dalam hati sebelum akhirnya dia menyerah pada rasa lelah dan terlelap tidur dengan senyuman lembut di wajahnya, diary masih terbuka di tangannya.
Rasa kantuknya benar-benar mengambil alih. Sam tidak sadarkan diri, terlelap dalam tidur nyenyak tanpa sempat membaca halaman berikutnya. Tangannya yang lelah perlahan melepaskan pegangannya, membiarkan buku itu tergeletak di atas kasur. Tidur nyenyaknya menjadi prioritas, mengalahkan rasa penasaran yang tadi membawanya tetap terjaga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.