Abbie Ghali Samudra

75 25 1
                                        

Abbie Ghali Samudra, ia adalah seorang ketua geng motor terkenal di Bandung yaitu, Black Rose

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Abbie Ghali Samudra, ia adalah seorang ketua geng motor terkenal di Bandung yaitu, Black Rose. Pria yang memiliki kulit putih bersih, tubuhnya tegap dan berotot, rambutnya yang dibiarkan berantakan mampu menenggelamkan seluruh wanita di luar sana.

Meskipun berasal dari keluarga Laskara Mahardika yang terkenal dengan kesempurnaan dan kehormatan, Sam tidak bisa melarikan diri dari kesedihan dan kehilangan yang dirasakannya. Kepergian ibundanya membentuknya menjadi pria yang kuat dan tangguh, namun juga meninggalkan luka yang belum sembuh sepenuhnya. Sam memilih menjalani hidup sebagai ketua geng motor dan menjauhkan diri dari kehidupan keluarga yang sempurna namun penuh tekanan.

"Sam!" Sam berhenti di tengah tangga, menoleh ke belakang dengan wajah yang masih kusut. Ia menatap ayahnya dengan tatapan tajam, seolah-olah mengatakan "apa lagi?" tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Ayahnya, Dika, berdiri di bawah. Sam bisa merasakan aura negatif yang dipancarkan ayahnya, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin dibiarkan sendiri.

Dika menatap Sam dengan mata yang menyiratkan kelelahan dan frustrasi. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menangani anaknya yang semakin lama semakin memberontak. Tiga kali memindahkan sekolah, reputasi yang tercoreng, dan masa depan yang dipertaruhkan. Dika merasa seperti sudah berada di ujung tanduk, dan Sam sepertinya tidak peduli dengan semua itu. "Ini kesempatan terakhir kamu untuk berubah, Sam!" serunya, berharap anaknya bisa mendengar dan memahami keseriusan di balik kata-katanya.

Sam tidak menjawab apa-apa, ia hanya melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Dika memanggilnya sekali lagi, tapi Sam tetap diam dan terus berjalan.

Ia sudah tidak ingin berbicara lagi, tidak ingin mendengar nasihat atau peringatan yang sama setiap hari. Sam ingin bebas, ingin melakukan apa yang ia inginkan tanpa harus mempertanggungjawabkan setiap langkahnya kepada ayahnya. Dengan langkah cepat, Sam meninggalkan suara ayahnya yang masih memanggil namanya.

✮ ✮

Saat sampai di pemakaman, ia melihat gadis seperti beberapa jam yang lalu ia lihat, posisinya bersandar pada salah satu batu nisan makam.

"Kok kaya gue kenal." batin nya.

Ia mulai memincingkan matanya melihat siapa yang berada di sana. "Lah si kanebo kering itu mah."kanebo kering? Iya, sifatnya yang kering dan kaku itu ia pikir memang mirip dengan kanebo kering.

Ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu, saat dirinya berada tepat di belakang gadis itu. Ia tak mengeluarkan suara sedikit pun. Tak tahu kenapa tenggorokannya terasa kering dan susah untuk mengeluarkan suara atau pun sekedar bicara.

Cukup lama ia berdiam diri dengan pikirannya. Sedangkan gadis itu masih tampak memeluk erat makam yang ada di depannya.

"Calla?" akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

Gadis itu menoleh ke belakang, tatapan matanya masih samar dengan sisa-sisa air matanya. Ia memandang Sam dengan mata yang sedikit kosong, seolah-olah belum sepenuhnya kembali. Beberapa detik berlalu sebelum gadis itu akhirnya bisa fokus pada Sam, dan ekspresi wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi lebih waspada.

"Lo gak perlu sejauh itu untuk ikutin gue." kata gadis itu dengan suara yang terdengar dingin.

Belum dijawab justru gadis itu menjauh dengan langkah cepat, meninggalkan Sam yang berdiri tegak di tempat. Sekilas tatapan yang ia lemparkan ke arah Sam menunjukkan wajah cantik yang kusut dan mata sembab, seolah-olah ia telah menangis.

Sam tertegun, tidak menyangka bahwa kedatangannya akan mengganggunya. Ia hanya bisa menatap sosok gadis itu hingga menghilang dari pandangannya.

Dua menit berlalu, Sam masih berdiri diam, matanya terpaku pada nama "Azetta Cathlenna" yang terukir di batu nisan.

Makam siapa ini? Pertanyaan itu terus berputar di benak Sam saat ia menatap batu nisan. Wajah cantik yang kusut dan mata sembab pada gadis yang tadi menjauh darinya kini teringat kembali. Apakah Azetta Cathlenna adalah orang yang sangat berarti bagi gadis itu? Dan apa hubungan Calla dengan Azetta Cathlenna? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiran Sam saat ia menatap makam itu.

Sam tersenyum sendiri sambil terus menatap makam itu, ia merasa penasaran tentang gadis dingin itu, ingin tahu apa yang membuatnya begitu terluka dan apa yang ada di balik sikapnya yang keras. Senyum Sam melebar sedikit, menunjukkan bahwa ia menikmati tantangan untuk mengetahui lebih banyak tentang Calla. Ia merasa ada sesuatu yang menarik tentang gadis itu, dan ia ingin tahu apa itu.

✮ ✮ ✮

Ascella StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang