Calla, Adel, dan Yesha duduk santai di balkon rumah Calla, menikmati suasana malam hari yang tenang dan damai. Mereka dikelilingi oleh cahaya bulan dan bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit. Angin malam yang sejuk membawa aroma bunga-bunga malam, sementara suara jangkrik dan kodok menambah irama alam yang menenangkan.
Mereka bertiga duduk berdekatan, menikmati kebersamaan dan keindahan malam yang sunyi. Mereka berdiskusi tentang rencana akhir pekan, membicarakan kemungkinan mengunjungi bioskop untuk menonton.
"Guys, nanti kira kira nonton apa yak?" tanya Yesha dengan penuh semangat.
"Nonton romance oke sih, biar hidup gue ada bumbu bumbu cintanya." Adel menjawab dengan dramatis, sambil meletakkan tangan di dadanya.
"Lebay lo!" Yesha mencibir sambil mengangkat alis.
"Lo yang lebay! Lo nonton sinetron aja nangis!" Adel membalas dengan cibirannya.
"Gue kasih tahu aja, gue nangis karena itu related sama kehidupan gue." Adel tertawa dan membalas, "Sama aja lebay!" mereka berdua terus bergurau, sementara Calla hanya duduk diam di sebelahnya, mengamati interaksi mereka dengan senyum tipis.
"Yang ada di depan gue harusnya dramanya sih."celetuk Calla, mencoba menyela kehebohan mereka.
Adel dan Yesha langsung menoleh, "APA MAKSUD LO?!" tanya mereka berdua serentak.
Calla hanya tertawa dan menggelengkan kepala, "Enggak, enggak." Adel dan Yesha saling menatap, lalu kembali bergurau dan membuat Calla tertawa.
Setelah seharian beraktivitas dan berdiskusi tentang rencana akhir pekan, kelelahan mulai menghampiri mereka. Calla, Adel, dan Yesha memutuskan untuk melepas kelelahan dan bersiap tidur. Calla berada di tengah, dengan Adel di satu sisi dan Yesha di sisi lainnya. Mereka terbaring dengan nyaman, tubuh mereka yang lelah perlahan-lahan rileks. Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak, dikelilingi oleh kehangatan dan kebersamaan yang telah mereka bagi sepanjang hari.
✮ ✮
Calla berangkat ke sekolah bersama Adel dan Yesha yang juga satu mobil dengannya. "Hari ini ada tugas apa aja?" Yesha bertanya sambil memainkan rambutnya.
Adel menjawab, "Oh my gosh! Tugas matematika gue belum."
Yesha tersenyum nakal, "Gue rasa lo harusnya belajar lebih giat, daripada ngandelin contekan dari Calla!" Adel tertawa, "Dasar, lo, Sha! Gue cuma butuh sedikit contekan aja." Yesha menggelengkan kepala, "Gak ada contekan, lo harus percaya diri sama kemampuan sendiri!"
Calla menambahkan, "Iya, Yesha bener. Belajar yang rajin, pasti bisa!" Adel menghela napas, "Oke deh, gue akan belajar. Tapi lo kan penyelamat hidup gue! Untuk hari ini aja, please.. Kasih contekan itu ke gue. Gue janji bakal simpen buku lo kayak harta karun!" Adel berkata dengan nada dramatis, mata berbinar penuh harap.
Calla tertawa dan menyerahkan catatan itu, "oke, gue kasih. Tapi jangan lupa, habis ini harus belajar!" Adel mengambil catatan itu dengan kedua tangan, seperti menerima mahkota kerajaan, "Oh gosh, terharu.. thank you ya, best supporter ever." Yesha yang menyaksikan hanya bisa tertawa, "Dasar, Kodel!"
Saat sampai di sekolah, Pak Aceng berhenti di depan gerbang. Calla, Adel, dan Yesha keluar dari mobil dengan langkah yang anggun dan percaya diri.
Calla tersenyum dan melambaikan tangan kepada Pak Aceng. "Terima kasih, Pak Aceng!" katanya dengan suara yang manis.
Adel dan Yesha juga mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan kepada Pak Aceng sebelum mereka bertiga berjalan menuju gerbang sekolah. Saat berjalan, mereka berbicara tentang rencana mereka untuk hari itu.
Calla memperhatikan sekeliling sekolah, mencari sosok tertentu di antara kerumunan siswa. Matanya berhenti sejenak saat melihat Sam dan gengnya yang sedang berjalan menuju kelas. Senyum lembut terukir di wajahnya tanpa sadar saat melihat Sam, tapi dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kembali kepada kedua sahabatnya.
Upacara bendera akan segera dimulai, dan semua siswa mulai berkumpul di lapangan sekolah. Calla, Adel, dan Yesha mencari tempat yang strategis untuk berdiri.
Pak Kepala Sekolah dan beberapa guru lainnya sudah berdiri di depan lapangan, siap untuk memulai upacara. Saat Pak Kepala Sekolah meminta semua siswa untuk berbaris dan menaikkan bendera, suasana menjadi hening dan khidmat.
Calla, Adel dan Yesha saling menukar pandangan, lalu Adel mengipas-nipaskan tangannya sambil berbisik, "Panasss banget ya!" Calla dan Yesha mengangguk, lalu Calla menambahkan, "Iya, panas."
Tiba-tiba saja keheningan pecah ketika seorang siswa terlihat jatuh pingsan di barisan depan. Panitia yang berada di dekatnya langsung berlari untuk membantu, dan dengan sigap mereka membawa siswa yang pingsan itu ke UKS.
Siswa-siswa lain yang menyaksikan hanya berdiri diam, memperhatikan dengan wajah penuh kekhawatiran sambil sesekali berbisik satu sama lain.
"Dia kenapa ya?" bisik salah satu siswa. "Gue nggak tahu, mungkin kepanasan?" jawab temannya.
"Kalau gue pingsan dan yang gendong gue ganteng. Panas panasan tujuh hari tujuh malem pun gue rela sih." kata Adel dramatis, dengan mata yang terpejam.
Calla dan Yesha langsung menoleh ke arah Adel, wajah mereka penuh dengan ekspresi tak percaya dan geli. "Lo sakit ya?" Yesha menoyor jidat Adel dengan jari telunjuknya.
Calla menambahkan, "Sampai tujuh hari tujuh malem?" Adel mengangguk dengan mantap, "Iya, gue rela! Karena cowo ganteng itu obat buat gue."Calla dan Yesha saling menatap, keduanya terlihat tidak habis pikir dengan Adel.
Mereka menggelengkan kepala, seolah-olah berkata "Biarkan saja." Keduanya kemudian kembali memandang Adel, yang masih tersenyum dan menatap mereka dengan mata yang berbinar-binar.
Setelah upacara bendera selesai, para siswa bersiap untuk kembali ke kelas masing-masing. "Gila, upacara hari ini berasa lama banget ya!" komentar Adel. Calla dan Yesha mengangguk setuju sambil berjalan menuju kelas.
✮ ✮ ✮
KAMU SEDANG MEMBACA
Ascella Stars
RomanceKisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
