2.8

4 5 0
                                        

Calla berjalan sendirian di koridor sekolah yang ramai, kepalanya tertunduk ke bawah seolah-olah sedang mempelajari pola lantai. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang membebani hatinya, tidak ingin orang lain tahu tentang masalah pribadinya.

Saat berbelok ke sudut koridor, Calla hampir bertabrakan dengan seseorang. Ia mengangkat kepala, dan mata mereka bertemu. Adalah Adel dan Yesha, kedua sahabatnya yang selalu tahu cara membuatnya tersenyum. "Perasaan di lantai gak ada si Jimin, Cal?" kata Adel sambil memperhatikan lantai sejenak, lalu mengangkat pandangannya ke wajah Calla dengan senyum nakal.

"Ahah, ada apa sih, Del?" jawab Calla sambil tersenyum kecil, berusaha menghilangkan kesan sedih di wajahnya.

Yesha yang berdiri di samping Adel langsung menyadari sesuatu, "Cal, lo kenapa? Ada masalah apa?"

Adel menambahkan, "Gue tahu Jimin lagi hits-hitsnya di BTS, lo sedih karena dia gak bisa lo milikin, kan?" Calla tertawa kecil, "Dasar lo, gak ada hubungannya sama Jimin." Ketiganya tertawa bersama, dan sejenak, kesedihan Calla teralihkan oleh kehadiran sahabat-sahabatnya yang selalu tahu cara membuatnya tersenyum.

Mereka bertiga terus berjalan sambil bercanda, Adel mulai membahas tentang lagu terbaru BTS, "Kalian udah denger lagu baru BTS? Gak sabar pengen nonton konser nya!" Yesha ikut nimbrung, "Iya, gue udah dengerin berulang kali! Lagunya enak banget!" Calla hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, "Kalian emang fans berat banget, ya?"

Tiba-tiba Yesha berhenti berjalan dan memandang Calla dengan serius, "Tapi serius, Cal. Lo cerita dong, apa yang sebenarnya terjadi? Lo kelihatan sedih banget tadi." Calla terdiam sejenak, lalu menghela napas, "Nanti aja, ya. Gue gak apa-apa." Adel dan Yesha saling memandang, lalu Adel berkata, "Oke, kita tunggu sampai lo siap cerita." mereka bertiga melanjutkan jalan, dengan suasana yang sedikit lebih santai, tapi Adel dan Yesha tetap memperhatikan Calla dengan penuh perhatian.

Saat mereka masuk kelas, Langit terus memperhatikan Calla dari jauh. Ia bisa melihat kesedihan di wajah Calla, meskipun Calla berusaha menyembunyikannya. Langit merasa khawatir dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Calla. Ia memutuskan untuk mendekati Calla setelah pelajaran pertama selesai, berharap bisa membantu gadis itu.

"Calla, are you okay?" Langit bertanya dengan nada khawatir. Calla terkejut, tidak menyangka Langit akan menghampirinya.

"Gue... Gue baik-baik aja kok," Calla menjawab dengan nada datar, mencoba menyembunyikan wajahnya.

Tapi Langit tidak percaya, dia bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres di balik mata Calla. "Calla, gue tahu lo gak baik-baik aja. Apa yang terjadi?" Langit bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

Calla merasa terharu dengan kepedulian Langit, tapi ingatan akan kejadian yang lalu membuat dia ragu-ragu. Rasa sakit dan marah masih terasa, membuat Calla sulit untuk menerima kepedulian Langit dengan hati terbuka.

"Tapi lo jahat, Langit." Calla membatin, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tapi, tatapan mata Langit yang penuh kepedulian membuat Calla merasa ragu. Apakah Langit benar-benar peduli? Atau ini hanya permainan belaka?

Calla memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi dan fokus pada pelajaran berikutnya. Namun, dia tidak bisa tidak memperhatikan Langit yang sesekali melirik ke arahnya.

✮ ✮

Adel dan Yesha muncul di antara rak buku perpustakaan, mencari Calla. "Woy, Calla! Lo kemana aja?" Adel bertanya dengan nada ceria.

Yesha yang berdiri di samping Adel langsung mencari Calla dengan mata tajam. Ketika menemukan Calla, dia langsung mendekat. "Calla, kita perlu ngobrol," Yesha berkata dengan nada serius.

Calla yang sedang membaca buku mengangkat kepala, sedikit terkejut. "Ada apa?" Adel yang penasaran langsung ikut duduk di sebelah Calla. "Iya, ada apa nih? Gosip?" Adel menggoda.

Yesha memberikan Adel pandangan yang mengatakan 'diam saja'. "Calla, kenapa mata lo sembab?" Calla langsung menjadi waspada, tidak tahu harus menjawab apa.

"Enggak kok! Ini gue kelamaan tidur." Calla menjawab dengan santai, mencoba mengalihkan perhatian. Tapi Yesha tidak percaya.

"Calla, gue selalu tahu kalau ada sesuatu yang gak beres. Lo bisa cerita ke kita," Yesha berkata dengan lembut.

Adel yang tadinya diam, langsung serius. "Ya, Calla, ada apa?" Calla merasa terharu dengan kepedulian sahabatnya, dan untuk pertama kalinya, dia merasa ingin membuka diri tentang masalahnya.

Calla menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara tentang masalahnya. "Papa dan Mama gue ninggalin gue lagi," Calla berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Adel dan Yesha langsung memeluk Calla, memberikan kehangatan dan dukungan. "Lo gak sendirian, Calla. Kita ada di sini buat lo," Yesha berbisik lembut di telinga Calla.

Adel mengangguk setuju, "Ya of course, because we are a lonely teenagers squad. We got snacks and sadness." kata Adel dengan nada bicara yang semangat, sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

Yesha langsung tertawa dan menambahkan, "Dan juga drama dan gosip, jangan lupa!" Calla tersenyum melihat kelakuan kedua sahabatnya, merasa sedikit lebih baik dengan kehadiran mereka.

Mereka bertiga saling berpelukan lagi, kali ini lebih erat dan lebih lama. Calla merasa Adel dan Yesha adalah pelabuhan hati baginya. Mereka selalu ada di sampingnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan memberikan dukungan yang tulus. Dengan adanya mereka, ia merasa tidak sendirian dalam menghadapi kesunyian dan kesulitan. Adel dengan keceriaannya yang selalu bisa membuatnya tersenyum, dan Yesha dengan empati yang mendalam, membuat beban yang ia rasakan menjadi sedikit lebih ringan.

✮ ✮ ✮

Ascella StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang