Setelah sampai di sekolah, Calla langsung menuju kelasnya. "Calla!" panggil Sam. Calla berbalik dan memandang Sam dengan sedikit kesal. "Apa lagi?" tanya Calla, sambil mengangkat alisnya.
"Let's go!" kata Sam, menarik Calla untuk mengikutinya. Calla tidak punya pilihan lain selain mengikuti Sam, sambil terus melemparkan tatapan marah ke arahnya.
Calla merasa terganggu dengan sikap Sam yang terlalu dekat dengan dirinya. "Shit!" gerutunya, mencoba melepaskan diri dari genggaman Sam. Tapi Sam tidak melepaskannya, malah semakin mempererat genggamannya.
Mereka berjalan beriringan menelusuri koridor. Entahlah, lelaki ini sangat menyebalkan baginya. "Tapi lo belum baca isi dari bukunya kan?" tanya Calla kepada Sam.
"Aman, tapi gue tahu intinya," jawab Sam dengan santai, senyumnya masih lebar. "Intinya apa?" tanya Calla penasaran.
Sam mendekatkan wajahnya, "Intinya nanti isinya bakal ada tentang gue dan lo," bisiknya dengan nada genit.
"Pede ya lo!" kata Calla, sambil menjauhkan diri dari Sam. "Gue gak percaya sama lo!" Sam tertawa terbahak-bahak, menikmati reaksi Calla yang seperti itu. "Tenang aja, gue cuma bercanda!" katanya sambil terus tertawa.
Jika wanita lain akan merasa senang jika dekat dengan Sam namun berbeda dengan Calla. Kini dia merasa tidak nyaman dijadikan bahan tontonan seperti ini. Tentu saja, karena tatapannya bukan hanya kepada Sam ataupun kepada dirinya. Melainkan ke arah tangan mereka yang bersatu.
Adel, gadis cantik dengan suaranya yang keras dan mulutnya yang tidak pernah diam, menghampiri Calla dan Sam dengan senyum jahil di wajahnya. "Wah, berdua mulu nih kayak kentut sama tai." ejek Adel, matanya melihat ke arah tangan Calla yang masih dipegang oleh Sam.
Calla langsung merasa tidak nyaman dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sam. "Lepas!" katanya singkat, sambil menarik tangannya dengan kasar.
Dia tidak suka diperhatikan oleh orang lain, apalagi dalam situasi seperti ini. Calla merasa seperti dijadikan tontonan, dan itu membuatnya semakin kesal. Sam yang melihat reaksi Calla hanya tersenyum dan melepaskan genggamannya, tapi Calla bisa merasakan tatapan Sam yang masih tertuju padanya.
"Finally ya! Udah gak expired lagi itu hati." timpal Adel merusak mood Calla.
"Terserah!" ujarnya frustasi.
Murid-murid di kelas terlihat lesu dan tidak bersemangat ketika mendengar pelajaran matematika akan dimulai. Beberapa dari mereka menghela napas dengan berat, sementara yang lain berbisik kepada teman sebangkunya tentang betapa sulitnya soal-soal matematika.
Adel menghela napas, frustrasi karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dia memandang sekeliling kelas, mencari siapa yang bisa diajak diskusi tentang rumus kalkulus diferensial.
Matanya berhenti pada Yesha yang sedang sibuk mencatat. "Lo tahu rumus kalkulus diferensial?" Adel bertanya kepada Yesha.
"Lo nanya beneran apa ngejek gue?" Adel berusaha menahan tawanya, tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika coretan-coretan di buku Yesha yang terlihat seperti hasil pertarungan antara pena dan kertas. Coretan-coretan itu tampak sangat acak dan tidak beraturan, seolah-olah dia sedang menggambar dengan mata tertutup.
Adel menggigit bibirnya, mencoba menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Yesha. "Absurdnya sama kayak hidup lo." bisik Adel.
Yesha langsung menutup buku catatannya dan memandangi Adel dengan tajam. "Hidup gue absurd juga gara-gara ada lo." kata Yesha setengah berbisik.
Adel berusaha menahan tawanya, tapi akhirnya malah keluar suara tawa yang teredam. "Gak kuat gue." Adel terus tertawa, membuat beberapa teman sekelas mereka menoleh ke arah mereka dengan penasaran. Calla yang duduk di dekatnya hanya bisa tersenyum melihat persahabatan yang unik antara mereka.
✮ ✮
Di ruangan musik, gadis itu sedang berlatih bernyanyi dan bermain piano untuk persiapan acara sekolah. Sam masuk dan duduk di bangku belakang, mendengarkan dengan mata tertuju pada gadis yang sedang berlatih dengan penuh perasaan.
Ketika ia selesai bernyanyi, Sam bertepuk tangan, "Lo emang jago!" pujinya sambil tersenyum.
Tiba-tiba, seseorang masuk ke ruangan musik dengan wajah dingin, "Jangan ganggu orang yang lagi latihan di ruangan musik ini." katanya sambil melihat ke arah Sam. Sam langsung merasa kesal, "Siapa yang ganggu?!" jawabnya dengan nada tinggi.
Sam tertawa dan mendekati Langit. "Berani-beraninya lo remehin gue. Ayo, kita lihat siapa yang lebih jago dan siapa yang sebenernya ganggu di sini!" Langit tersenyum percaya diri, "Gue gak takut!" Suasana ruangan musik itu menjadi semakin panas dan penuh antisipasi.
Calla langsung memotong pembicaraan, "Bisa diem?" katanya dengan wajah datarnya. Sam dan Langit langsung terdiam, "Oke, oke, gak jadi!"
Calla menghela napas, "Kalian berdua, selalu bikin gue pusing." Sam dan Langit saling berpandangan, lalu tersenyum. "Yaelah, santai aja, kita gak jadi adu bakat kan?" kata Sam sambil menepuk pundak Langit.
Calla hanya menggelengkan kepala, "Terserah kalian berdua aja deh." Lalu gadis itu meninggalkan ruang musik dengan langkah ringan.
✮ ✮ ✮
KAMU SEDANG MEMBACA
Ascella Stars
RomanceKisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
