Kisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abiru Langit Mahagra. Pria tampan dengan rambut coklat dan mata tajam berwarna coklat ini menyimpan banyak rahasia di balik penampilannya yang mempersona. Kepribadiannya yang misterius membuat orang lain sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan atau rasakan. Dia cenderung memendam masalahnya sendiri dan hanya meledak-ledak ketika sudah tidak bisa menahan lagi. Namun, di balik sifat kerasnya itu, tersimpan hati yang lembut dan sensitif. Dia menginginkan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa tuntutan dan tekanan dari orang lain.
Langit tentu lelah dan tak bisa mengontrol dirinya. Berbagai hal yang disenangi akan dia lakukan untuk menghibur diri sendiri. Bermain musik misalnya.
Sejak kecil bermain musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. dia membandingkan proses belajar bermain gitar dengan menjalani hidup, di mana keduanya sama-sama memiliki jatuh bangun, pasang surut, dan tantangan yang harus dihadapi. Dengan berlatih secara konsisten dan tidak mudah menyerah, dia mampu menghasilkan alunan nada yang indah dan memuaskan.
Gitar bukan hanya sekadar instrumen musik bagi dia, tapi juga menjadi teman setia yang mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi wadah untuk mengekspresikan perasaannya. Senar-senar gitar yang dipetik diiringi lagu yang dinyanyikan membuat warna nada yang harmoni bagaikan insan manusia yang berbeda namun saling bertautan. Mereka menciptakan hubungan yang hangat di dalam hidup.
Langit duduk di meja belajarnya sambil menyeruput secangkir kopi hitam buatannya. Pahit. Kopi itu pahit, seperti hidupnya. Ya menurutnya seperti itu.
Dia saat ini sedang membuatkan sebuah lagu untuk gadis pujaan nya. Lirik perlirik, nada pernada dia atur sedemikian rupa, sampai enak didengar oleh pendengar.
Dia memposisikan gitar miliknya dengan nyaman di atas pangkuan. Hari dan bulan berganti, seperti mengayuh sebuah sepeda, dia berlatih perlahan namun pasti.
Beberapa saat menghabiskan waktu hanya ingin menghasilkan nada yang pas untuk lagu yang dia buat. Dengan mengesampingkan rasa menyerah, dia terus berlatih meski menemui beberapa kesulitan.
Langit memandang lukisan yang tergantung di dinding, menatap lukisan itu dengan mata yang berbinar, mengagumi setiap detail yang berhasil dia tangkap dalam goresan kuasnya. Lukisan itu adalah potret seorang wanita yang dia kagumi, dengan senyum manis dan mata yang memikat. Setiap garis dan warna dalam lukisan itu seakan-akan hidup, menangkap esensi dari kecantikan dan kepribadian wanita itu.
Langit tersenyum lembut, jemarinya mulai memetik senar gitar, menghasilkan nada-nada yang lembut dan merdu. Suara gitar mengalun, mengisi ruangan dengan melodi yang syahdu.
Under the stars is when I'm over the moon.. Your body shines the darker it's in the room.. I count the hours till the sky fades to blue, Cause the heart in me's, Only on my sleeve..
Dia membiarkan senyum tipisnya terukir di bibir sambil terus memainkan gitar dan bernyanyi dengan suara merdu. Suara nyanyiannya mengalun lembut, mengisi ruangan dengan kehangatan dan keindahan. Setiap nada yang keluar dari suaranya seakan membawa emosi yang mendalam, menghayati setiap kata yang dinyanyikan.
In the night.. When it's just us here In the night.. I can see so clear Every time Until you disappear in the light We only make sense in the night..
Setelah selesai bernyanyi, Langit meletakkan gitar di sampingnya, membiarkan keheningan mengisi ruangan. Suara senar gitar yang masih bergetar perlahan menghilang, meninggalkan kesan yang dalam.
Dia duduk diam sejenak, menikmati keheningan yang menyelimuti ruangan, seolah membiarkan keindahan musik yang baru saja dia mainkan dan nyanyikan meresap dalam.
Dia menatap lukisan itu dengan mata yang mulai memanas, rasa sakit dan kerinduan memenuhi hatinya. "Gue selalu bodoh dalam mencintai seseorang," ucapnya pelan, suara yang tercekat oleh emosi.
"Cal, the stars watching yourself shine. Kamu paling bersinar diantara bintang-bintang itu," bisikannya, matanya tak bisa lepas dari lukisan yang menggambarkan kecantikan gadis itu.
Flashback on..
Langit menatap lekat mata gadis yang ada di depannya, tegukan ludahnya terdengar pelan saat dia mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata-kata yang telah lama dia simpan.
Pandangannya tak beralih dari mata gadis itu, dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengalahkan rasa gugup.
Dengan suara yang terbata-bata, dia akhirnya berhasil mengucapkan kata-kata yang selama ini dia simpan dalam hati, "I love you, Cal." Walaupun suaranya bergetar, kata-kata itu keluar dari bibirnya dengan tulus, mengungkapkan perasaan yang sebenarnya telah dia simpan begitu lama.
"But I can't." Dalam sekejap, harapannya yang baru saja tumbuh langsung hancur, digantikan oleh rasa kecewa dan sakit yang mendalam. Dia mencoba mencari kata-kata untuk membalas, tapi lidahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menghalangi dia untuk berbicara. Tatapan mereka masih terpaku satu sama lain, tapi kini Langit merasa seperti sedang menatap jurang yang dalam dan gelap, tanpa ada harapan untuk diselamatkan.
Langit mencoba mengalihkan pandangannya, tapi gadis itu terus menatapnya dengan intensitas. "Gue gak tahu caranya mencintai orang yang udah jelas jadi pembunuh." lanjut gadis itu, suaranya tetap datar tapi penuh dengan rasa sakit.
Langit terdiam, kata-kata gadis itu menghantamnya seperti tamparan keras. Dia tahu bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa melupakan masa lalunya, dan dia tidak bisa menyalahkan gadis itu karena merasa begitu.
Tatapan Langit perlahan turun, dia tidak bisa menatap gadis itu lagi karena rasa sakit yang dia rasakan.
"Gue nggak bisa berharap lo bisa mencintai gue, Cal," katanya dengan suara yang lirih, "Gue cuma pengen lo tahu, gue udah mencintai lo sejak lama." Dengan itu, Langit bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan gadis itu yang masih terpaku dengan kata-katanya.
Flashback off..
Langit masih terfokus pada lukisan yang ada di tangannya. Ia mengelus lukisan itu dengan lembut, seolah-olah dia sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga. Tanpa sadar, pikirannya melayang ke tempat yang selalu ia kunjungi ketika merasa sedih atau kehilangan. Pemakaman itu.
Langit bangkit dari tempat duduknya, memakai jaket yang tergantung di gantungan. Dengan langkah yang pasti, Langit meninggalkan kamarnya dan menuju ke luar rumah.
Langit sudah mulai gelap, matahari telah terbenam, dan cahaya senja perlahan memudar. Langit tidak peduli dengan keindahan langit, ia hanya ingin menuju ke tempat yang telah menjadi tempat perlindungannya.