Buku diary

66 25 9
                                        

Calla duduk di kursinya, sibuk mencari diary yang hilang. Dia memeriksa setiap buku dan kertas di mejanya, lalu menggeledah tasnya untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya menunjukkan ekspresi frustrasi dan khawatir.

"Di mana ya?" gumamnya pada dirinya sendiri. Dia berharap diary itu muncul di antara tumpukan buku atau kertas yang ada di mejanya. Tiba-tiba, dia berhenti mencari dan menatap ke depan dengan wajah yang murung. "Gimana kalau diary gue gak ketemu?" batinnya.

"Ah no! Diary gue!" Calla berteriak frustrasi sambil memeriksa tasnya untuk yang kesekian kalinya. Dia yakin sekali bahwa dia masih menyimpan diary itu di tasnya.

"Di mana ya? Gue masih ingat gue taruh di tas gue." Dia memeriksa setiap sudut tas, tapi buku itu tidak ada.

Calla menghela napas dan berusaha berpikir jernih, "Gue harus tenang, pasti ketemu." tapi frustrasi dan kekhawatiran tetap terlihat jelas di wajahnya.

"Yesha! Diary gue gak ada!" teriak Calla memanggil sahabatnya.

Yesha yang sedang duduk di belakang tidak jauh dari kursi Calla langsung menoleh ke depan. "Ketinggalan mungkin di rumah?" tanya Yesha sambil berjalan mendekati Calla.

"Kemungkinan besar, sih, karna di tas gue gak ada."jawab Calla, suaranya masih terdengar panik. "Gue baru sadar tadi pas gue lagi jalan. Gue mikir gue bawa, ternyata enggak ada di tas." Yesha mengangguk paham sambil memeriksa sekeliling, seolah berharap diary itu muncul entah dari mana.

"Tenang, pasti ketemu. Mau gue bantu cari nanti di rumah?" tanya Yesha, mencoba menenangkan Calla yang terlihat khawatir. Calla mengangguk cepat, rasa lega muncul di wajahnya.

Yesha tersenyum dan mengajak Calla berjalan menuju kantin. "Mending sarapan dulu, nanti kita cari lagi abi ini. Pasti ketemu kok," kata Yesha sambil menepuk bahu Calla dengan lembut, mencoba memberikan semangat.

Calla dan Yesha memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan pencarian diary yang hilang. Mereka menuju kantin sekolah dan memilih beberapa makanan ringan untuk disantap.

✮ ✮

Setelah pelajaran selesai di sekolah Calla dan Yesha berjalan bersama menuju gerbang, mengobrol dan sesekali tertawa. "Gue senang banget hari ini, cuaca cerah!" kata Yesha.

Calla tersenyum, "Iya, tapi kayaknya cuaca di sini gampang berubah-ubah ya?" Yesha mengangguk, "Iya kayak mood si Adel."

Tiba-tiba, Sam bergabung dengan mereka, "Hai, Calla!"

Calla tiba-tiba merasa kesal ketika melihat Sam berdiri di sampingnya, menatapnya dengan senyum lebar. "Ngapain sih lo?" tanya Calla dengan nada jengkel, sambil menyilangkan tangan di depan dada.

"Pulang bareng yuk?" jawab Sam dengan nada santai.

Calla menggelengkan kepala, "Sam, minggir!" Lalu Calla berjalan menuju gerbang dengan langkah cepat, meninggalkan Sam yang masih berdiri dengan senyum di wajahnya.

Yesha tertawa kecil dan mengikuti Calla. "Diajak pulang bareng tuh." Calla tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala.

"Sha, pinjem dulu ya!" dengan tangkas, pria itu menarik lengan Calla, hingga membuat perempuan itu ikut tertarik ke arah luar.

"Awas kalau sampe sahabat gue lecet, gue bakal turun buat tempur sama lo!" ancam Yesha dengan nada tegas, sambil menunjuk nunjuk.

"Jangan khawatir, gue jaga sahabat lo dengan nyawa gue!" jawabnya dengan serius, sambil menempatkan tangan di dada.

Calla dengan wajah datarnya ia berjalan santai. Sesekali ia berusaha melepaskan genggaman tangan Sam, tapi sulit. Tangan Sam terlalu besar dan bertenaga.

"LO KENAPA SIH SEBENERNYA?" katanya dengan nada kesal, sambil melepaskan tangan dan melongos pergi.

"Ini kan yang lo cari?" tanya Sam sambil menatap Calla. "Kok bisa ada di lo?" jawabnya sambil melangkah mendekat untuk mengambil buku diary itu.

"Kayaknya apa pun tentang lo, gue tahu," jawab Sam dengan senyum percaya diri. "Dan gue bakal balikin ini, tapi dengan satu syarat." tambahnya sambil mengangkat alis dengan penuh tantangan.

"Apa syaratnya?" tanyanya dengan rasa penasaran.

"Pake dulu." katanya sambil menyodorkan helmnya dengan senyum lembut.

"Kenapa lo kasih helm?" tanyanya dengan bingung. "Gue nggak ngerti, lo emang gila ya?" tambahnya sambil menerima helm itu dengan tangan yang masih ragu-ragu.

Sam terkejut saat Calla langsung menaiki motornya tanpa basa-basi. Sam tersenyum dan menggelengkan kepala sambil memasang helmnya sendiri. "Oke, deh. Pegangan ya!" katanya sambil menyalakan mesin motor. Calla tidak menjawab, tapi Sam bisa melihat wajah kesal gadis itu di balik helm yang dipakainya.

Sam melajukan motornya seperti orang tak takut mati, ia tak pernah berhenti walau lampu rambu lalulintas memunculkan warna merahnya.

"Stop gak?!" geramnya sambil mencengkeram pundak Sam dengan erat.

Bukannya merendahkan kecepatan bermotornya, Sam malah lebih mengencangkan lajunya. Pria itu mahir memotong atau menyalip kendaraan lain.

"WOY!" Sam tidak mengubris ucapan Calla, lelaki itu masih sibuk mengendarai motornya kencang.

Lama-lama nyawanya bisa terbang juga. Dengan terpaksa ia memeluk erat seputaran perutnya dan mendekatkan posisi duduknya tuk lebih dekat dengan punggungnya. Ahh yang benar saja, kami sudah seperti orang pacaran.

Sam tersenyum dalam hati, merasa puas ketika Calla akhirnya memeluknya erat. Dia memperlambat laju motornya, menikmati hangatnya pelukan Calla.

Baru saja ia ingin melonggarkan tangannya, Sam menahannya supaya tangannya tidak kemana-mana.

"Jangan lepas," kata Sam dengan suara yang lembut namun tegas, membuat Calla merasa sedikit terganggu.

Calla menatap punggung Sam, mencoba membaca ekspresi wajahnya, tapi Sam tidak memberikan reaksi apa pun, hanya terus mengemudi dengan santai.

"Lo gila?" tanya Calla, suaranya terdengar sedikit kesal karena merasa diperlakukan seperti ini. Sam tidak menjawab, hanya tersenyum kecil dan terus mengemudi.

Calla menggelengkan kepala, merasa tidak habis pikir dengan sikap Sam. "Dasar gila," gumamnya dalam hati, merasa kesal karena Sam sepertinya selalu melakukan hal-hal yang tidak terduga.

Dengan sedikit marah, Calla membiarkan dirinya tetap dalam pelukan Sam, meskipun dia merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Dia tidak ingin memberikan Sam kepuasan bahwa dia bisa membuatnya merasa tidak nyaman. Jadi, dia memutuskan untuk membiarkannya, sambil berharap perjalanan ini segera berakhir.

✮ ✮ ✮

Ascella StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang