Tring tring tring...
Bel istirahat berbunyi, dan semua siswa bersiap-siap untuk pergi ke kantin. Suara riuh dan langkah kaki memenuhi koridor sekolah, sementara Calla tidak berniat untuk pergi ke kantin. "Gue mau di kelas aja." kata Calla dengan nada biasa, tanpa menunjukkan kekesalan atau kegembiraan.
Adel dan Yesha saling menatap, tahu bahwa Calla tidak suka kerumunan di kantin. "Oke, lo mau nitip sesuatu?" tanya Adel.
Calla menggeleng, "Gak perlu, gue udah bawa bekal." Dengan itu, Adel dan Yesha mengangguk dan pergi ke kantin, meninggalkan Calla sendirian di kelas.
Ia mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan kotak bekalnya yang berisi makanan siangnya. Ia lebih suka menghindari kerumunan dan memilih untuk makan di kelas dengan bekal yang dibawanya. Ini membuatnya merasa lebih nyaman dan bisa fokus pada pikirannya sendiri tanpa gangguan. Keputusan ini sudah menjadi kebiasaan baginya, dan ia merasa lebih tenang dengan cara ini. Ketika teman-temannya pergi ke kantin, Calla akan tetap di kelas, menikmati makan siangnya sambil membaca buku atau menulis di buku hariannya.
Tiba-tiba seseorang berdiri di depannya, menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Calla memandang orang itu dengan tatapan datarnya, "Gue udah maafin lo kok" kata Calla dengan nada datar, tanpa menunjukkan emosi apa pun.
Lelaki itu memandang Calla dengan tatapan yang sama datarnya, "Belum juga ngomong," balas lelaki itu singkat, tanpa menunjukkan minat untuk berbicara lebih banyak.
Orang itu terdiam sejenak, seolah menunggu reaksi lebih lanjut dari Calla. "Terus?" jawab Calla dengan nada datar, tanpa menunjukkan minat untuk melanjutkan percakapan.
Orang di depannya itu, yang tampaknya adalah murid baru bernama Sam, tersenyum sedikit. "Kaki lo belum diobatin kan? Gue bantu obatin deh." Sam mengeluarkan sekotak P3K dari tasnya.
Calla mengerutkan kening, "Gak usah." ujarnya singkat, tanpa menatap Sam secara langsung.
Sam tidak terpengaruh dengan sikap dingin Calla dan tetap menawarkan bantuan. "Gapapa, gue mau bantu. Lagian ini salah gue." Calla menghela napas, sedikit kesal dengan kegigihan Sam. "Terserah." katanya datar, akhirnya menyerahkan lututnya untuk diobati oleh Sam.
✮ ✮
Bel pulang berbunyi, menandakan akhir dari hari sekolah. Calla dan Yesha bersiap untuk pulang, meninggalkan keramaian sekolah yang mulai sepi. Mereka berjalan menuju tempat jemputan, menunggu Pak Aceng untuk membawa mereka pulang.
Pak Aceng tiba dengan mobil jemputan, dan Calla serta Yesha langsung menuju ke arah mobil tersebut. "Pak, aku mau mampir ke makam dulu ya," kata Calla begitu mereka masuk ke dalam mobil.
Pak Aceng mengangguk, "Baik, Neng. Kita mampir ke makam dulu ya." Mobil kemudian melaju ke arah makam, membawa Calla untuk mengunjungi tempat peristirahatan ayahnya.
Yesha memandang Calla dengan penuh empati, tahu bahwa Calla masih sangat terpukul dengan kepergian kembarannya. "Lo baik-baik aja, kan, Cal?" tanya Yesha dengan lembut. Calla hanya mengangguk kecil, tidak ingin berbicara banyak.
Yesha memang selalu ada di sisi Calla, menjadi sahabat yang setia dan selalu mendukung. Mereka berdua seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Yesha sering menginap di rumah Calla, bukan hanya untuk menghabiskan waktu bersama, tapi juga untuk memberikan dukungan moral kepada Calla. Yesha tahu bahwa Calla membutuhkan orang yang bisa mendengarkan dan memahami perasaannya, dan ia selalu ada untuk itu.
Mobil melaju perlahan meninggalkan sekolah, menuju ke arah makam yang terletak tidak jauh dari rumah Calla. Selama perjalanan, Calla dan Yesha tidak banyak berbicara, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ascella Stars
RomanceKisah tentang si pemilik paras yang selaras indahnya dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Calla Cathlenna namanya, perempuan cantik yang mempunyai segala cara untuk tetap bersinar dan bertahan hidup, sekalipun kegelapan ada pada kehidupan...
