“LO JANGAN GITU DONG!! MANA BEKEL GUE!!” entah sudah berapa lama Esha berdiri di samping Noa yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
Hari ini Esha kehilangan kotak makannya yang memang sengaja ia bawa dari apartemen. Noa pun ia kasih, tapi entah mengapa cowok itu malah membawa miliknya juga.
“Gue gak bawa, Sha. Sumpah, bukan gue!” sebenarnya Noa kesal, Esha menuduhnya tanpa bukti. Lagi pula ia sudah membawa bekal buatan gadis itu, mengapa pula mencuri jatah Esha lagi? Noa tidak serakus itu.
“Tapi lo yang ada di kelas dari tadi!” dengan gerakan rusuh Esha mengguncang kuat tubuh Noa agar menghentikan kegiatannya yang tengah bermain ponsel.
“Si Agan kali. Dia kan suka maling makanan, punya ceweknya aja di ambil, apalagi punya lo.” Noa benar-benar kesal di tuduh sembarangan seperti ini. Ia bahkan melirik Esha dengan sinis, tak peduli dengan amarah Esha.
Esha membuang napas berat, lantas mendudukkan dirinya di lantai, lesehan. Sementara Noa duduk di kursi, hingga posisinya kini jauh lebih tinggi dari Esha. “Gue udah buat cape-cape padahal.” Ujar Esha pelan, raut wajahnya bahkan sudah murung.
Kesal dan sedih bercampur jadi satu. Mood memasaknya sedang bagus tadi pagi, jadi dia membuat kimbab serta nori yang memang kadang kala ia buat. Lima potong untuk dirinya, dan lima potong lagi untuk Noa. Tapi kimbab yang sejak tadi pagi sudah terbayang enak di kepalanya itu hangus saat kembali dari ruang olahraga setelah menyimpan bola basket.
Entah siapa yang memakan kimbab itu, tapi orang yang pertama kali Esha curigai adalah Noa. Pasalnya Noa kadang seperti itu, meskipun sudah ia kasih di kotak makan yang berbeda, Noa akan meminta lagi kepadanya. Ya, porsi makan seorang cowok memang kadang seperti itu bukan?
“Cariin kek, lo kok diem aja sih. Gue udah kelaparan ini!” Esha kembali mengguncang tubuh Noa, bahkan gadis yang katanya anggota taekwondo itu sudah menarik-narik kaki Noa dengan tidak manusiawi, alias bar-bar.
Noa mendengkus kasar, sifat Esha tidak jauh berbeda darinya. Gadis itu tidak akan berhenti jika apa yang ia mau tidak di dapatkan. Bahkan Esha pernah merengek dan marah seharian karena Noa menghabiskan risol yang sudah Esha buat dari pagi. Untuk yang satu itu Noa mengakui bahwa itu memang salahnya, tetapi untuk kali ini Noa berani jujur demi dewa Neptunus, Noa tidak mengambil milik Esha. Miliknya pun masih utuh belum ia sentuh, karena rencananya Noa akan memakannya nanti.
“Gue gak tau, Sha. Makan bareng punya gue aja nih, belum gue sentuh juga. Nanti gue tanya sama Saka atau Agan soal punya lo.” Kata Noa sembari melepaskan lilitan lengan Esha dari kakinya.
Berhubung kelas sedang sepi Noa juga jadi bisa leluasa untuk menarik Esha berdiri, bak seorang ayah yang siap membawa putrinya ke dalam peluknya. Alias Noa menyelipkan kedua tangannya di ketiak Esha dan menariknya untuk berdiri sementara dirinya bergeser ke kursi kosong di sampingnya, dan Esha ia dudukkan di kursi tempatnya tadi.
“Tapi kan itu buat lo,” bibir Esha melengkung ke bawah, dan itu berhasil membuat Noa menggigit bibir dalamnya menahan rasa gemas.
“Bagi dua aja, daripada lo gak makan. Masa gue doang, padahal yang masak kan, lo.” Akhirnya setelah Noa membujuk Esha mengangguk dan memakan kimbab yang sebenarnya sudah menjadi hak milik Noa itu bersama.
“Tadi tuh pas gue bikin ini, gue udah bayangin enaknya. Eh, malah hilang, nyebelin banget. Awas aja kalau ketemu siapa yang nyuri gue habisin tuh orang,” di sela-sela kunyahannya Esha terus saja menggerutu membuat Noa di sampingnya berdecak.
“Telen dulu kalau mau ngomong. Keselek baru tau rasa lo.” Ujarnya sembari menepuk puncak kepala Esha beberapa kali. Benar-benar terlihat seperti seorang Ayah yang menemani anak gadisnya makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Teen FictionYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
