“Jadi, kamu sudah berdamai?” tanya Pak Anhar saat ia mendudukkan diri di samping Noa.
Hari ini memang bukan jadwalnya anak basket ekskul, hanya saja Pak Anhar meminta mereka untuk berkumpul. Dan ternyata untuk membahas pertandingan yang rencananya akan diikuti bulan depan. Memang bukan pertandingan penting, tapi Pak Anhar menyarankan anak-anak didiknya ikut untuk melatih mental dan kesiapan jika nantinya akan ada pertandingan nasional.
Noa sedang istirahat kala Pak Anhar menghampirinya. Ia tersenyum lebar, setelah mendapatkan kembali keluarganya Noa tidak juga melupakan Pak Anhar. Karena bagaimana pun, Pak Anhar sempat menggantikan sosok seorang Ayah yang pernah hilang dari hidupnya.
“Udah. Makasih ya, Pak. Kalau bukan karena nasehat Bapak, mungkin saya masih memupuk dendam yang sebenarnya gak layak disimpan.” Ujar Noa menatap tulus wajah Pak Anhar yang masih terbilang segar di usianya yang akan menginjak tiga puluh lima tahun.
Benar, tanpa siapa pun tahu bahwa Noa sempat menyimpan dendam kepada orang tuanya sendiri, dan Pak Anhar lah yang berhasil menyadarkannya sebelum Esha. Pak Anhar yang memberinya nasehat perihal buruknya memupuk dendam.
“Noa, sedih itu tidak salah, kecewa juga tidak salah. Yang salah itu kalau kamu memupuk sebuah dendam, dan berharap bahwa suatu saat nanti bisa membalaskan dendam itu. Sekarang Bapak tanya sama kamu, apa yang akan kamu dapat nantinya kalau kamu berhasil membalaskan dendam itu?”
Noa kala itu terdiam, ia juga tak tahu akan mendapatkan apa setelah berhasil membalaskan dendam.
“Mendapatkan kepuasan? Apa itu cukup? Bapak rasa tidak. Yang ada kamu malah akan membuat Adik kamu membencimu. Padahal dia sudah percaya sama kamu bukan? Mau kamu menodai kepercayaannya?”
“Dengarkan Bapak, dendam itu tak baik. Kamu harus cepat-cepat menepis rasa dendam itu sebelum rasa itu menguasai seluruh hati kamu. Kamu mau jadi anak yang baik bukan? Maka percayalah dengan takdir, semua akan berjalan sesuai kehendak-Nya meskipun kamu harus tertatih-tatih dahulu.”
Dan beruntungnya Noa, ia langsung tersadar saat itu juga. Tak lagi memupuk sebuah dendam dan ia mulai percaya akan sebuah takdir. Karena jika saat itu ia masih keras kepala, mungkin sampai saat ini ia akan tetap tak akan mendapatkan keluarganya kembali. Ia akan tetap sendirian bersama dengan dendamnya.
“Bapak senang dengarnya. Jadi mulai sekarang jalani hidup yang baru tanpa melupakan yang lalu. Jadikan semua itu pelajaran, oke?”
Noa mengangguk sebagai jawaban lantas menarik segaris senyum lagi ketika Pak Anhar mulai beranjak lagi menghampiri teman-teman satu timnya.
Dari tempatnya duduk, Noa bisa melihat bahwa Pak Anhar benar-benar memiliki jiwa penyayang. Terbukti dari bagaimana caranya beliau ketika memperlakukan anak-anak didiknya. Bak seorang Ayah, Pak Anhar akan mendengarkan cerita, memberi nasehat atau saran jika dibutuhkan, bahkan Pak Anhar sering mengapresiasi hal-hal kecil sekali pun.
Saat pertama kali berkenalan dengan Pak Anhar, Noa seolah melihat jiwa Papanya yang dulu. Papanya yang hangat, Papanya yang selalu mengapresiasi apa pun yang ia capai, Papanya yang selalu tersenyum bangga kepadanya, semua itu Noa dapatkan dari Pak Anhar ketika Papanya menjauh.
Dari Pak Anhar lah Noa bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah, tatapan tulus dan nasehat-nasehat baiknya tak akan pernah bisa Noa lupakan begitu saja. Maka bukan sebuah masalah jika saat itu ia menganggap Pak Anhar sebagai Ayah keduanya, bahkan mungkin sampai sekarang Noa tetap menganggap Pak Anhar seperti itu.
Begitu pun Javier, kadang kala perhatian Javier di mata Noa itu terlihat seperti perhatian Pak Anhar kepadanya, atau sederhananya Javier memiliki jiwa penyayang seperti Pak Anhar. Meskipun menyebalkan dan sering sekali mengejeknya, nyatanya Javier juga lah yang mengingatkan Noa akan figur seorang Ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Novela JuvenilYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
