Esha terdiam, menatap langsung netra Noa yang masih menyorot kosong. Tidak ada pancaran apa pun di mata itu, bahkan sorot sedih atau marah pun tidak ada. Benar-benar sorot kosong tanpa emosi apa pun.
“Kenapa? Kasih gue alasan yang jelas kenapa lo minta putus?” Esha tidak akan membawa serius ucapan Noa.
Esha paham, Noa tidak mungkin mengatakan kata putus tanpa alasan yang jelas, lagi pula Esha juga tidak akan mengiyakannya.
“Gue takut gak bisa jagain lo.” Jawab Noa lugas.
Sejak pulang Noa jadi banyak berpikir. Bagaimana ia bisa menjaga Esha nantinya, jika menjaga Nauni untuk tetap di sampingnya saja ia gagal.
Noa tidak mau merasakan kehilangan lagi. Jadi, daripada kehilangan seseorang untuk ke sekian kalinya, Noa rasa lebih baik jika ia sendirian. Tidak memiliki apa pun di hidupnya, agar ia tidak merasakan kehilangan lagi. Agar ia bisa hidup lebih nyaman tanpa diliputi rasa takut yang membelenggu.
“Kenapa lo merasa gitu?” tanya Esha lagi berusaha mengorek informasi tentang alasan Noa jadi tidak percaya diri seperti ini. Noa yang sekarang bukanlah Noa yang ia kenal. Noa tidak pernah tidak percaya diri, Noa yang ia kenal adalah orang yang paling narsis, hingga terkadang bisa mengalahkan kenarsisan Agan.
“Gue jaga Nauni aja gagal, gimana jaga, lo?”
Noa membalas pertanyaannya bertepatan dengan notifikasi Anna yang muncul di layar ponselnya.
Sha, Adiknya Noa meninggal, gue dapat kabarnya dari Haraz barusan.
Itu adalah isi pesan yang Anna kirimkan untuknya.
Nauni? Nauni meninggal? Batin Esha bertanya.
Esha rasanya tidak ingin percaya tetapi melihat keadaan Noa sekarang, Esha mau tak mau harus percaya. Sekarang Esha tahu mengapa Noa menjadi tidak percaya diri, Esha tahu Noa sedang marah pada dirinya sendiri. Esha paham Noa marah karena tidak bisa menjaga Nauni.
Esha tatap mata Noa dalam-dalam, sorot kosong itu entah mengapa membuatnya ingin menangis kali ini. Esha menangis setelah tahu fakta bahwa Noa kehilangan Adik yang paling di sayangnya.
Tangan Esha terangkat menepuk dada Noa pelan. “Kenapa gak bilang, Noa?”
Air mata Esha mulai jatuh melewati pipinya yang berisi. “Kenapa gak bilang kalau Nauni pulang?”
Napas Esha mulai tersendat, Esha memang tidak terlalu dekat dengan Nauni. Tetapi beberapa bulan ke belakang Nauni sering sekali menghubunginya, sekedar mengobrol atau terkadang membicarakan Noa. Dan Esha tidak pernah menyangka bahwa gadis manis itu akan pulang secepat ini.
Noa diam tak membalas, bergerak untuk memeluk Esha pun tidak. Dia hanya terdiam menatap kosong lantai apartemen Ezra. “Udah tau kan, jadi kita putus ya.”
Pikirannya benar-benar berantakan, bisikan-bisikan iblis itu masih terdengar. Jangan hidup, mati saja. Noa mengerang memukul telinganya sendiri agar bisikan-bisikan itu hilang. Sungguh Noa lelah, Noa lelah mendengar bisikan-bisikan itu.
Menyadari Noa yang memukul dirinya sendiri, Esha langsung bergerak cepat menghapus air matanya dan menahan tangan Noa dengan sekuat tenaga. “Noa, denger. Dengerin gue!” sentak Esha keras berusaha menarik atensi Noa kembali.
“Noa dengerin gue, Nauni bakal marah kalau liat lo kayak gini. Denger instruksi gue, tarik napas terus buang pelan-pelan.” Esha masih memegang erat kedua tangan Noa. Meski awalnya tidak mendengarkan, pada akhirnya Noa mengikuti instruksi Esha.
Noa menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan, begitu terus sampai bisikan-bisikan di telinganya itu perlahan menghilang. Dengungan menyakitkan itu tidak lagi terdengar, pikiran kosongnya kini terpenuhi dengan senyuman Nauni. Seolah-olah Adiknya itu senang melihatnya yang mulai bisa tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Teen FictionYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
