004 || Kangen

2.7K 165 5
                                        

Noa membuka pintu apartemennya dengan pelan. Sepi, suasana itu langsung menyapanya ketika kakinya melangkah masuk lebih dalam.

Noa membuang napas kasar, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi setelah melempar sembarangan tas sekolahnya. Tubuhnya gerah, dan ia butuh air dingin untuk menyembuhkan rasa gerah itu.

Cukup lama berada di dalam sana, hingga akhirnya dia keluar dengan t-shirt putih dan celana selututnya. Masih dengan handuk di bahu, Noa keluar dari apartemen menuju apartemen sebelah. Lantas menyentuh bel berulang kali hingga si pemilik akhirnya membuka pintu meski dengan wajah cemberut seperti terakhir kali ia lihat.

Noa terkekeh, gadis di depannya tidak mau membuka suara meskipun ia dengan sengaja tidak mengeringkan rambut. Biasanya gadisnya itu akan mengomel sepanjang hari ketika ia datang dengan rambut basah.

“Udahan ngambeknya, beli makan ayo.” Ujarnya sembari menyentil dahi gadisnya sedikit kuat.

“Ogah, lo aja sendiri. Gue udah makan, bye!” Esha, gadis yang menjadi korban sentilan maut Noa itu akhirnya membuka suara lalu setelahnya berusaha mendorong tubuh tinggi Noa agar tidak bisa masuk ke dalam apartemennya.

Noa bergeming, cowok dengan tinggi 186 cm itu berdiri menjulang dengan kaki yang sengaja ia gunakan untuk menahan pintu apartemen Esha agar tidak tertutup. “Yang ngajak lo makan, siapa? Orang gue minta temenin.”

Gadis bermata bulat itu melotot, ia semakin mengerahkan tenaganya agar Noa keluar dari lingkup apartemennya. “AWAS, MAU GUE TUTUP!”

Noa tetap bergeming, tak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk melawan tenaga Esha. Cowok itu bahkan melipat kedua tangannya memperhatikan Esha, gadisnya yang masih berusaha membuatnya keluar. “Daripada cape, mending nurut aja.” Katanya.

Esha menggeleng kuat, “GAK MAU!!”

“Halah tinggal nemenin doang, pelit waktu lo.” Noa mencibir.

“GUE GAK MAU NOA JELEK!!” Esha berteriak lagi, sepertinya berteriak kepada Noa memang sudah menjadi kebiasaannya sejak satu tahun yang lalu.

“Yaudah, gampang. Lo gak mau temenin berarti gue boleh minta makan lagi.”

“Terserah!” Gadis itu akhirnya mengalah, membiarkan Noa masuk ke dalam apartemennya sementara dirinya memilih masuk ke dalam kamar sembari menggerutu kesal. “Katanya kaya, tapi makan kok minta sama orang.”

Bukan tak ikhlas, Esha hanya sedikit kesal saja. Meskipun mereka memiliki hubungan, Noa tetaplah menjadi Noa, musuhnya yang selalu saja membuatnya marah. Dalam satu tahun hubungan mereka, bahkan Esha bisa menghitung dengan jari ketika Noa bersikap manis kepadanya, karena sisanya hanya Noa yang selalu mengajaknya ribut.

Ah, benar. Hubungan yang mereka jalani sudah berjalan hampir satu tahun tanpa seorang pun tahu. Backstreet? Mungkin, karena baik Esha maupun Noa lebih senang menyebut hubungan mereka sebagai hidden couple.

Hidden couple, Esha senang menyebutnya seperti itu. Pasalnya baik dirinya maupun Noa tak pernah sekalipun berusaha menyembunyikan hubungan mereka, tidak ada kesepakatan perihal backstreet. Hubungan mereka selalu mengalir bak air sungai, hanya saja teman-teman sekolah selalu menganggap hubungannya dan Noa adalah sepasang musuh bebuyutan tak pernah lebih.

Wajar saja, karena Esha saja mengakui bahwa dirinya dan Noa tak pernah sekalipun menunjukkan perilaku layaknya sepasang kekasih. Mereka lebih banyak ribut daripada melakukan banyak adegan romantis.

Sudah Esha katakan bukan, Noa berperilaku manis kepadanya saja bisa dihitung dengan jari, bahkan kurang dari angka sepuluh. Hubungannya dengan Noa bahkan lebih terlihat sebagai teman, bahkan musuh daripada sepasang kekasih.

IHS 01 || Hidden Couple Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang