013 || Bukti Kedua

1.3K 131 7
                                        

“Kok, lo udah ganti baju, Sha? Masih satu jam lagi kan pelajaran penjas?” baru saja Esha dan Noa masuk tapi pertanyaan itu langsung melayang dari Agan. Mau tak mau karena Agan, semua perhatian kini tertuju pada mereka.

“Urusan cewek, lo mana ngerti!” ketus Esha melirik Agan sinis, Noa juga yang berdiri di samping Esha ikut melirik Agan sinis. Si Agan ini kadang kala memang perlu di hajar.

“Oh, lo bocor?” pertanyaan bernada polos-polos menyebalkan itu malah keluar dari Wahyu, membuat Noa cepat-cepat berjalan ke arah cowok itu dan memberikan hadiah berupa selepetan tangan di keningnya.

“Jangan buka mulut lo, diem. Nanti gue kasih pop ice taro.” Mendengar pop ice taro di sebutkan Wahyu mengangguk semangat, memang gampang di sogok dia.

Di depan sana, wajah Esha kembali bersemu merah, rasa malunya kembali. Gadis itu menunduk, menutupi wajahnya dengan uraian rambut panjangnya. Tapi di balik rambut panjang itu, Esha menatap kesal Wahyu yang sudah mendapatkan balasan dari Noa. Jadi, untuk balasan darinya nanti saja.

Cukup lama hening, hingga akhirnya Erin membuka suara. Mengerti akan keadaan, dan ia tahu bahwa Esha juga pasti merasa malu karena masalah sensitifnya itu diketahui banyak orang karena si muka polos-polos bangsat, Wahyu. “Lo duduk aja, Sha. Ini, biar gue sama yang lain aja lanjutin.”

“Gak papa?” tanya Esha lirih.

Erin mengangguk begitu pun Adrian dan Rifqi. “Duduk aja, Sha. Gampang kok ini.” Kata Rifqi.

Esha mengangguk, dia mengangkat kepala sedikit menatap Adrian. “Gue boleh gak duduk di tempat lo, Yan?”

Adrian mengangguk lalu tersenyum, “duduk aja, Sha.”

Esha tidak menjawab lagi, dengan gerakannya yang terbilang cukup rusuh, gadis itu berjalan menghampiri Noa dan duduk tepat di samping cowok tinggi itu. Tanpa Esha tahu bahwa hal itu semakin mengundang banyak tanya di kepala teman sekelasnya.

“Malu,” rengek Esha dengan suara kecil, hanya Noa yang dapat mendengarnya sebab meja di depannya kosong.

Wahyu sedari tadi sudah mengungsi di kursi Erin, begitu pun Bayu yang sudah menarik kursi miliknya untuk ia duduk dan berunding di meja Alika dan Erin. Intinya barisan ujung sebelah kiri dekat jendela koridor sudah kosong, hanya tinggal Noa dan Esha yang ada di sana.

Noa tersenyum kecil, ia ikut menyimpan kepalanya di lipatan tangan seperti Esha, tapi gadis itu masih menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Muka gue udah hilang. Si Wahyu kampret, awas aja lo nanti!” cetus Esha, gadis itu melepas kedua tangan yang menutup wajahnya untuk membalas tatapan Noa. Posisinya kini wajah keduanya saling berhadapan.

“Tidur aja, biasanya lo suka sakit kan? Sekarang sakit, gak?” tanya Noa, tangannya terulur merapikan poni Esha dan rambut yang menutupi wajah Esha.

“Dikit, gak kayak bulan kemarin.” Balas Esha, tangan kecil gadis itu juga terulur menyentuh hidung mancung Noa, ada biji selasih di sana, mungkin tadi di kantin Noa sempat membeli minuman yang ada biji selasihnya.

“Kepalanya sakit, gak? Tidurnya di sini aja, biar gak sakit.” Noa menyimpan tangannya yang tadi digunakan untuk merapikan rambut Esha di meja, menarik kepala Esha agar berbaring di sana.

“Lo kok jadi perhatian gini?” tanya Esha heran. Esha merasa bahwa Noa akhir-akhir ini sering sekali memperhatikannya di sekolah, padahal dulu ia malah lebih sering mengganggunya jika di sekolah.

Bukan tak suka. Esha malah senang Noa seperti ini, tandanya Noa memang benar-benar menyayanginya. Hal yang tidak ia mengerti hanya mengapa akhir-akhir ini Noa lebih senang mendekatinya di sekolah. Biasanya ketika di sekolah, cowok tinggi itu selalu mengganggunya bukan perhatian seperti ini.

IHS 01 || Hidden Couple Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang