039 || Halaman Baru

847 61 0
                                        

Dalam sebuah buku, setiap kita selesai membaca bab satu pasti ada bab dua setelahnya. Begitu pun dengan hidup, ada kalanya kita harus berpindah ke halaman baru yang masih bersih tanpa debu, meninggalkan halaman lama tanpa melupakan semua yang sudah terukir di sana.

Ibaratnya di dalam sebuah buku pasti ada beberapa momen menyenangkan yang sayang untuk dilupakan. Begitu pun hidup, ketika kita memutuskan untuk berpindah halaman ke lembaran baru, pasti ada saja momen menyenangkan di halaman yang lalu itu.

Halaman itu ada untuk dijadikan pelajaran, untuk dijadikan kenangan, dan untuk dijadikan bahan kerinduan.

Dan Esha harap, senyum cerah keluarga Kazuhiko akan selalu merekah indah dalam halaman yang baru itu. Halaman yang lalu bisa dikenang atau bahkan bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk membuat sebuah momen yang sama dengan suasana yang baru.

Melihat bagaimana cerahnya rona wajah Noa membuat perasaan Esha semakin membuncah, begitu pun teman-temannya yang lain.

Noa sudah berhasil berdamai dengan keadaan dan sudah memilih membuat sebuah halaman baru yang indah bersama dengan keluarganya.

“Makasih, Sha.” Ucap Noa penuh ketulusan saat tubuhnya mendekap erat tubuh kecil Esha.

Keduanya sekarang berada di taman rumah sakit, duduk berdua setelah cukup lama ditahan oleh kedua orang tua Noa. Tidak ada teman yang lain, mereka sudah pulang lebih dulu, atau mungkin mereka sedang berjalan-jalan di pusat kota.

Esha tersenyum dibalik dekap hangat Noa, tidak menjawab sebuah penyampaian rasa terima kasih itu. Karena menurutnya yang lebih berhak mendapatkan ucapan terima kasih itu adalah anggota lizard boys, teman-teman yang sudah menemani Noa dari nol hingga sekarang.

“Makasih itu harusnya ke teman-teman lo. Karena mereka yang selalu ada di samping lo selama ini.” Balasnya menepuk pelan punggung tegap Noa.

Noa menggeleng, “gue juga perlu ngucapin makasih buat lo.”

“Untuk apa? Gue gak bantu banyak dalam perjalanan hidup lo.” Bukan merendah diri, Esha memang merasa tidak banyak membantu. Noa sembuh dari self harm mungkin memang karena dirinya, tapi menurut Esha selebihnya itu karena Noa sendiri yang memutuskan untuk sembuh dan berhenti.

“Makasih, karena lo gak ninggalin gue dan tetap di samping gue. Bahkan setelah lo tau gimana kacaunya hidup gue.”

“Gue bahkan pernah hampir ninggalin lo, Noa.”

Noa tersenyum tipis, ia merenggangkan pelukan itu, menatap dalam-dalam binar mata bulat Esha. “Iya tau, makanya buat nanti jangan sembarangan ngomong. Menyesal kan lo akhirnya.”

Esha mendengkus, memukul dada bidang Noa pelan. “Halah, lo lebih gak mau kehilangan gue. Mana sampe jatuh segala lagi.”

Noa tertawa, “gue akui, gue emang gak bisa hidup tanpa lo.”

“Dangdut banget dah, lo.” Esha berdecih sinis, mendengar ucapan Noa seperti kalimat playboy yang sering Haraz ucapkan untuk menggaet mangsa.

“Dih, gue serius kali. Gue bisa mati kalau gak ada lo.” Noa tidak main-main dengan ucapannya. Semua yang dia katakan bukanlah sebuah kalimat dangdut atau penenang dan segala macam yang buruk. Itu kalimat nyata yang ia keluarkan secara sadar dari dalam lubuk hati.

Sudah pernah dikatakan bukan bahwa poros hidup Noa hanya berpusat di Esha, gadisnya itu adalah tujuannya. Dan Noa sudah pernah berjanji, apa pun yang akan ia lewati nanti, Noa akan selalu menjaga Esha untuk tetap di sampingnya. Bersamanya hingga akhir. Tak akan Noa biarkan satu pun orang merebut Esha dari sisinya. Gadis itu miliknya, hanya miliknya.

IHS 01 || Hidden Couple Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang