048 || Sogokan

877 42 2
                                        

Jika bisa mengulang waktu, rasanya Noa ingin mengulang kembali waktu saat ia mencium pipi Esha. Demi Dewa Neptunus, jika akhirnya Noa akan didiamkan tiga hari tiga malam, Noa tidak akan pernah mencium pipi Esha waktu itu.

Noa sudah kehabisan akal untuk membujuk Esha kembali, gadis menyebalkan itu benar-benar mendiamkannya. Jangankan berbicara, berangkat sekolah pun Esha selalu sendirian. Di kelas apa lagi, setiap kali Noa mendekatinya, Esha akan selalu beranjak menghindar seolah tidak menganggapnya ada.

Karena sogokan telur gulung pun tidak mampu mengembalikan Esha-nya. Maka Noa harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membujuk Esha dengan sebuah cake cokelat yang memang sangat Esha sukai. Tentunya bukan hanya cake cokelat, Noa juga membelikan permen dan berbagai camilan lainnya, bahkan keripik pedas yang waktu itu sempat Esha inginkan juga Noa beli.

Noa tidak mau pengeluarannya ini berakhir sia-sia lagi, maka sekalian saja Noa belikan apa yang Esha sukai, dengan harapan Esha akan memaafkannya. Karena sejujurnya, Noa benci diabaikan oleh Esha.

Saat bel pertanda istirahat berbunyi Noa tidak beranjak meski pun Agan sempat mengajaknya untuk keluar. Noa tetap di tempat memperhatikan Esha yang masih sibuk menulis. Sebagai sekretaris kelas, Noa tahu Esha harus menulis dua kali, di buku catatan dan papan tulis.

Melihat suasana kelas yang mulai sepi, Noa mulai beranjak membawa serta cake cokelat yang ia beli, sementara camilannya masih tersimpan rapi di tas sekolahnya yang hari ini penuh karena bingkisan untuk Esha.

“Aish, habis lagi,” dari jaraknya berpijak dapat Noa dengar bahwa Esha mengeluh karena pulpen yang digunakannya kehabisan tinta.

“Kenapa? Habis? Nih, pake punya gue.” Ujar Noa langsung setelah ia duduk di samping Esha.

Entah Noa harus bersyukur atau tidak, karena tempat Esha duduk berada di pojok jadi gadis itu tidak bisa kabur lagi kali ini.

“Ngapain lo ke sini, ganggu.” Ketus Esha, tak membuat Noa gentar. Ia tetap diam memperhatikan gadisnya.

Beberapa kali Esha menyelipkan rambut panjangnya ke telinga.

Mengerti bahwa Esha terganggu dengan rambutnya yang terurai, Noa melepaskan ikatan rambut yang senan tiasa berada di pergelangan tangan kirinya. Noa menarik dekat kursi Esha duduk, melihat Esha yang akan protes, Noa langsung mengeluarkan suara lagi. “Diem, gue ikat rambutnya.”

Dengan hati-hati, Noa kumpulkan setiap helaian rambut Esha menjadi satu, lalu ia ikat agar tidak lepas kembali. Beberapa anak rambut di samping telinga Esha juga Noa selipkan.  

“Maaf, jangan diemin gue lagi.” Ujar Noa seraya mengelus lembut pipi berisi Esha.

“Lain kali gue gak bakal kayak gitu lagi, janji. Jadi jangan marah lagi, gue gak bisa kalau lo diemin gue terus.” Lanjutnya penuh penyesalan.

Esha diam menikmati sapuan halus jemari panjang Noa di pipinya, dalam hati Esha bersorak senang. Jarang sekali Esha melihat Noa membujuknya sampai seperti ini, jadi Esha rasa acara ngambeknya kali ini berhasil membuat Noa uring-uringan.

Melihat Esha yang masih diam saja, Noa mengembuskan napas pelan. “Jangan ngambek lagi dong, Sha. Gue repot bujuknya, mana disogok telur gulung juga gak mempan lagi.”

“Ya, jangan ngambek lagi. Nih, gue beliin cake cokelat yang lo mau waktu itu.” Ujar Noa lagi seraya menyerahkan satu kotak cake yang ia beli sebelum berangkat sekolah tadi pagi. Cake cokelat itu memang sempat Esha inginkan, tetapi Noa sempat menolaknya karena cake itu penuh dengan cokelat dan Noa takut Esha akan mengeluh sakit gigi seperti terakhir kali ia belikan cake yang sama.

Netra Esha langsung berbinar lebih cerah melihat satu kotak berisi cake sudah ada di depannya. Tetapi Netra cerah itu langsung berubah lagi kala Noa dengan sengaja menjauhkan sekotak cake itu dari jangkauannya.

IHS 01 || Hidden Couple Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang