Suara berisik teman-temannya terdengar bahkan sebelum Noa menginjakkan kaki di lantai rumah Jiel. Suara itu bisa terdengar karena selain suara teriakan Agan yang nyaring, pintu balkon kamar Jiel juga terbuka. Maka Noa bisa mendengarnya dari luar.
Dengan satu keresek berisi soto ayam pesanan Agan dan Saka, Noa mulai melangkah memasuki rumah megah milik keluarga Jiel. Saat melewati beberapa ruangan Noa sesekali tersenyum menyapa para pekerja. Langkah kaki panjangnya dengan mudah membawanya cepat sampai di depan pintu berwarna hitam, kamar Jiel.
Tanpa mengetuk pintu, Noa langsung membukanya hingga teman-temannya yang sedang asyik bermain serempak menoleh menatapnya.
“Anjir, lo semua main apaan?” tanya Noa menatap heran wajah teman-temannya yang penuh dengan tepung terigu. Terlebih Javier, wajah cowok setengah bule itu sudah penuh dengan tepung terigu bahkan rambutnya pun kena.
Padahal Noa rasa ia baru saja keluar sebentar untuk mengantar Esha yang katanya mau menginap di rumah Anna. Tapi ketika kembali teman-temannya sudah berubah layaknya tuyul. Apalagi Agan, cowok itu baru saja terkena razia rambut alhasil rambutnya sekarang persis seperti calon-calon abdi negara. Namun sekarang bukan lagi abdi negara, Agan malah terlihat seperti tuyul dengan wajah bulatnya itu.
“Main asoy geboy kita, yang kalah harus keliling nyari duit.” Balas Agan sekenanya. Cowok yang wajahnya sudah penuh dengan tepung terigu itu kini berdiri menghampiri Noa untuk mengambil alih pesanannya tadi.
Diikuti dengan Saka, keduanya keluar dari kamar Jiel menuju dapur walau pun wajahnya penuh dengan terigu.
“Lama lo, kita mau main ps nunggu lo doang. Si Jiel, sama si Sarga lagi gak bisa di ganggu, apalagi tuh orang.” Javier mengangkat dagunya menunjuk Haraz yang sejak tadi asyik sendiri menyusun lego, alias tidak ikut bermain tepung-tepungan bersama yang lainnya.
“Yaelah, nganterin dulu cewek gue. Belum lagi tuh dua bocah titip soto ayam, nunggu antrean.” Balas Noa mulai mendudukkan diri di depan Javier.
“Cuci muka dulu lo, risi gue liatnya.” Lanjut Noa, sebenarnya bukan risi. Noa hanya tak ingin sisa-sisa tepung itu jatuh mengotori lantai, dan nantinya berakhir menempel di celananya juga.
Javier menurut, cowok itu beranjak menuju kamar mandi Jiel meninggalkan Jiel yang sibuk dengan laptop, Sarga yang sejak tadi diam, Haraz yang masih menyusun lego, dan Noa yang kebingungan di tengah keheningan itu.
Noa juga melirik heran Sarga yang sejak tadi diam, karena sebelum pergi mengantar Esha, cowok yang kulitnya kelewat putih itu masih asyik bermain bahkan menebar jokes bapak-bapak khasnya. Namun kini, Sarga jadi lebih diam.
“Lo ngapa dah?” tanya Noa kepada Sarga.
Sarga tetap diam, membuat Noa jadi merasa kikuk sendiri karena pertanyaannya diabaikan. Sarga diam itu adalah sesuatu yang langka, karena sebenarnya tingkah dia hampir mirip dengan Agan dan Saka. Maka, ketika melihat Sarga yang diam, Noa menjadi bingung. Apakah ada sesuatu yang terjadi, hingga membuat Sarga yang tadi masih tertawa jadi terdiam seperti ini.
Sarga, cowok itu membuang napas kasar seraya menarik bantal sofa kamar Jiel untuk di peluk, ia kini berbalik menatap Noa yang duduk tepat di sampingnya. “Noa, apa alasan lo jatuh cinta sama Esha?” tanya Sarga.
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Sarga membuat Noa sempat terdiam. Sedikit terkejut juga, pasalnya Sarga menanyakan hal serius itu berarti memang ada yang sedang mengganggu pikirannya. “Banyak.”
“Sebut semua alasan lo buat jatuh cinta sama Esha!”
Noa semakin bingung dibuatnya. “Buat apaan?”
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Teen FictionYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
