010 || Membujuk Agan

1.4K 138 1
                                        

“Noa, gimana dong?” Esha mengguncang tubuh Noa, cowok itu memang duduk di sampingnya. Ah, ralat Esha yang mendekati Noa, gadis itu bertukar posisi dengan Adrian, teman semeja Noa, yang tak lain adalah ketua kelas ini.

Setelah insiden salah tuduh tadi, Noa mendiamkannya. Noa juga kesal karena ia dan Saka malah kena getahnya, alias mereka juga kena protes dari mulut busuk Agan. Katanya mereka tidak membelanya, padahal bukan tak mau membela, mereka tadi masih terkejut karena Esha sangat brutal ketika melayangkan pukulan.

Noa yang sedang memejamkan mata berdecak lalu melayangkan protes kepada Esha, karena gadis itu mengganggu tidurnya. “Apa sih, Sha? Jangan ganggu, gue mau tidur.”

Rasa kesal Noa memang tak pandang bulu, meskipun Esha adalah kekasihnya. Jika gadis itu sudah mengganggu tidur nyenyaknya maka jangan salahkan Noa apabila nanti ia melayangkan tatapan kesalnya, atau bahkan mungkin Noa bisa melayangkan sentilan mautnya.

“Bantuin gue dulu. Itu si Agan ngambek, gue gak tau cara bujuknya.” Entah sadar atau tidak, Esha bahkan sudah setengah merengek sembari terus mengguncang tubuh Noa.

“Ah, lo ganggu.” Noa yang kesal akhirnya membuka kedua matanya menatap Esha yang sudah melengkungkan bibirnya ke bawah. Raut wajah yang selalu berhasil membuat Noa gemas sekaligus tak tega.

Pada akhirnya Noa yang semula akan kembali melayangkan protes malah mengerjapkan matanya, mengganti tatapan kesal itu dengan tatapan teduh. “Tinggal minta maaf, Sha.”

“Udah, tapi masih ngambek dia.” Esha benar-benar panik. Ini memang murni salahnya, jangan salah artikan bahwa kepanikannya ini sebagai rasa suka. Big no, Esha tidak menyukai Agan, dia hanya merasa tak enak saja sebab menuduh Agan tanpa bukti tadi, mana sudah melayangkan pukulan lagi padahal Agan sudah berniat baik mengembalikan kotak makannya.

“Kasih aja kimbab tadi. Agan sama kayak lo, gampang di sogok.” Masih dengan posisi sama, Noa yang meletakkan kepalanya di meja berbalut blazer sebagai bantalan menatap Esha yang balik menatapnya.

“Beneran bisa?” tanya Esha memastikan.

Noa mengangguk, “coba aja, gih.”

Esha menurut gadis itu kembali ke kursi miliknya hanya untuk membawa kotak makan tadi. Hari ini memang tidak ada pembelajaran, karena Bu Nina masih cuti setelah melahirkan. Dan tidak ada tugas yang di berikan, hanya di minta melengkapi tugas-tugas yang kosong saja, maka Esha yang pada dasarnya sudah melengkapi tugas bisa menggunakan waktu kosongnya ini untuk membujuk acara ngambek Agan.

“Udah berundingnya?” tanya Adrian tapi Esha menggeleng.

“Di sini dulu, gue masih harus bujuk si kampret Agan.” Letak meja Adrian memang dekat dengan meja Agan dan Saka.

Tadi saat acara berundingnya dengan Noa di mulai, Agan sedang berada di luar. Untuk menggoda adik kelas yang lewat, tentunya bersama dengan Saka. Noa biasanya selalu ikut, meskipun tidak ikut menggoda, dia hanya duduk bersama teman-temannya di depan kelas. Tapi hari ini cowok itu memilih tidur.

Untungnya saat Esha kembali ke kursi Adrian, Agan sudah kembali dan sempat melirik sinis ke arah Esha. Noa melihatnya, tapi ia diam saja, biarkan saja toh itu salah Esha sendiri yang ceroboh dan berakhir menuduh orang sembarangan.

“Sana,” ujar Noa sembari mengangkat dagu menunjuk Agan yang memalingkan wajah dari Esha.

Esha semakin cemberut melihat Agan yang enggan menatapnya, ia melirik Noa. “Yakin bisa?”

“Enggak, tapi apa salahnya mencoba. Udah sana, jangan cemberut gitu, jelek.” Noa mengangkat tangannya mengacak pelan poni yang menutupi kening gadis itu. Ia tak sadar bahwa kelakuannya itu tertangkap oleh mata elang Saka yang memang sedari tadi mencuri-curi pandang memperhatikan interaksi keduanya.

IHS 01 || Hidden Couple Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang