Esha masuk ke dalam mobil Jiel yang hari ini sedang Noa pinjam. Berhubung ini adalah weekand jadi Esha mengajak Noa untuk kencan mengunjungi akuarium raksasa yang ada di kota Jakarta ini. Dan tentunya Noa mengiyakan tanpa protes, manusia bucin satu ini mana mungkin menolak ajakan kekasihnya sendiri.
“Noa, gak jadi ke akuarium deh. Gue mau ke Bukit Bintang aja, biar nanti sekalian mampir ke rumah. Udah lama juga gue gak pulang.” Ujar Esha setelah mengingat bahwa kesempatan libur dua hari ini bisa ia manfaatkan untuk pulang ke rumahnya yang ada di Bandung.
Memang setelah mereka pulang dari Jepang, kedua orang tua Esha hanya menjemputnya di bandara dan mengantarnya pulang ke apartemen saja. Jadi Esha sedikit merindukan suasana rumah, lagi pula Esha yakin Kakaknya yang menyebalkan itu juga pasti sedang pulang ke rumah meskipun dia tidak mengabari Esha sama sekali.
Ezra memang lebih sering pulang ketimbang Esha. Dan yang lebih menyebalkannya lagi ketika akan pulang, Ezra tidak menghubungi atau bahkan mengajak adiknya sekalian untuk pulang. Seolah-olah dia itu hanya hidup sendirian di kota Jakarta itu.
“Tapi lo gak bawa baju ganti.” Noa melirik Esha sekilas.
“Alah, gampang itu. Lagian kan di rumah masih banyak baju gue, lo juga bisa pinjam punya Mas Ezra.”
Akhirnya Noa mengangguk setuju, sebelum mobil Jiel yang sedang dikendarai Noa itu melaju lebih jauh meninggalkan lingkungan Jakarta, Noa memilih untuk menepi sebentar di sebuah minimarket. Membeli beberapa camilan untuk Esha, karena Noa yakin gadisnya itu pasti akan mengeluh bosan jika tidak ada camilan.
Lantas setelah memarkirkan mobil, keduanya turun. Esha yang hari ini mengenakan floral dress berwarna biru lengkap dengan cardigan sedikit kesulitan untuk turun, pasalnya dress yang dikenakannya hari ini cukup terbuka, hanya bisa menutupi kakinya sebatas lutut. Peka akan situasi, Noa akhirnya berdiri di depan pintu mobil sebelum Esha turun untuk menutupi tubuh Esha dari pandangan orang yang berlalu lalang.
“Makanya lain kali pake celana aja, udah tau kesusahan malah di pake.” Cetus Noa sembari berjalan mendahului Esha.
Gadis yang hari ini menggerai rambutnya itu mendengkus, berjalan semakin cepat untuk menyusul langkah kaki Noa yang panjang. “Kan tadinya mau ke akuarium, makanya gue pake dress gini.”
Noa tak menjawab, karena sadar jika ia menjawabnya maka Esha juga pasti tak akan mau kalah, dan mungkin akan berakhir ribut di tengah keramaian nantinya. Noa berjalan ke etalase yang berisi snack, tak memedulikan Esha yang malah berbelok ke lemari pendingin untuk mengambil es krim.
“Mau yang itu dong,” ujar Esha yang entah sejak kapan sudah berjalan mengikuti langkah Noa yang membawa sebuah keranjang berwarna merah.
Keranjang itu sudah cukup penuh, karena Noa juga mengisi beberapa bumbu dapur beserta perlengkapan yang lain sekaligus kue kering untuk diberikan kepada keluarga Esha nanti. Noa sadar diri, ia tak mungkin datang berkunjung dengan tangan kosong.
“Gak, itu pedas.” Tolak Noa langsung saat sadar bahwa Esha menunjuk sebuah camilan yang sudah terkenal dengan level pedasnya yang maksimal.
“Ih, mau itu.” Rengek Esha tanpa tahu malu, sejujurnya Esha belum pernah mencoba camilan itu makanya dia meminta Noa untuk membelinya. Esha penasaran dengan rasa pedasnya yang katanya bisa membuat orang-orang menangis.
“Gak, udah awas gue mau bayar ini.” Noa menggerakkan sebelah tangannya yang sedang digelayuti oleh Esha. Setelah berhasil terlepas Noa langsung berjalan menuju kasir meninggalkan Esha yang kini tengah menatapnya kesal.
“Nyebelin! Gue bisa beli sendiri juga!” ujarnya ketus seraya meraih camilan yang diincarnya itu diam-diam. Baru setelah Noa keluar meninggalkannya, Esha langsung berjalan cepat menuju kasir untuk membayar camilan yang ia ambil secara diam-diam tadi. Dan Esha merasa bersyukur kala menyadari bahwa hari ini ia juga kebetulan sedang membawa tote bag yang cukup untuk menampung camilan pedas tadi hingga Noa pasti tidak akan menyadarinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Ficção AdolescenteYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
