Hari ini pertandingan antar sekolah resmi dimulai, begitu pun bazar. Sejak tadi Esha sibuk melayani pembeli yang membeludak di stan kelasnya. Itu karena martabak mini buatnya terbilang cukup laris dan banyak peminat. Buktinya masih dua jam sejak bazar dibuka, Esha sudah menghabiskan tiga mangkuk besar adonan.
Dan di belakang Esha ada Anna dan Kiran yang bertugas mengaduk adonan mencampurnya menjadi satu sekaligus di beri warna. Sementara di sebelah Esha ada Alika dan Laila yang sibuk melayani pesanan milk shake yang waktu itu disepakati untuk di jual. Meski cara membuatnya cukup sulit tapi Alika dan Laila berhasil membuatnya dengan sempurna bahkan terbilang cepat, sudah seperti seorang profesional.
“Sha, ini tepungnya gue simpan di sini ya, sekalian toping meses cokelatnya juga.” Wahyu, cowok itu bertugas sebagai kurir sekaligus membantu berbelanja bahan yang kurang. Tidak ada Adrian, karena cowok itu di tunjuk oleh Bu Karin untuk ikut tanding futsal sebagai perwakilan kelas, sedangkan Rifqi, dia juga di tunjuk pihak osis untuk menjadi panitia di pertandingan volly.
Begitu pun Noa, cowok itu menjadi perwakilan sekolah untuk bertanding basket bersama Javier dan Haraz. Agan juga hari ini sedang mode waras, sebab cowok itu juga mewakili sekolah untuk bertanding di arena taekwondo. Saka? Cowok itu mewakili ekstrakurikuler renang.
Seharusnya Esha juga menjadi perwakilan putri untuk pertandingan taekwondo, ia sempat di tunjuk pelatih langsung. Tapi Esha menolak, ia memilih menyerahkan pertandingan itu kepada Nadin, teman satu eskulnya. Selain karena ia sibuk dengan kelas, Esha juga merasa bahwa kemampuannya masih terbilang lemah dibanding Nadin. Esha merasa Nadin lebih pantas mengikuti pertandingan itu dari pada dirinya.
“Nih, Rin. Kembaliannya,” Wahyu menyerahkan uang kembalian dari hasil belanjanya tadi. Erin memang bertugas menghitung pemasukan dan pengeluaran, kecepatannya dalam menghitung cukup dibutuhkan di saat seperti ini, selain itu ia juga bendahara dan Bu Karin memang sengaja meminta Erin untuk ikut menjaga stan saja daripada ikut bertanding.
Kalau kata Bu Karin, biarkan mereka yang sudah biasa bertanding saja yang maju. Yang lain cukup maju di bazar saja sudah cukup, karena Bu Karin juga berjanji jika hasil penjualan di bazar ini besar maka Bu Karin akan membawa mereka semua untuk berlibur.
“Gimana anak-anak, ada yang kesulitan gak?” tanya Bu Karin ketika datang untuk sekedar melihat hasil kerja anak-anak didiknya.
“Enggak ada, Bu. Cuma kami cukup kewalahan, soalnya martabak mini buatan Esha laris manis. Ini kita udah buat adonan yang keempat, Bu.” Lapor Kiran, gadis dengan model rambut wolfcut itu bahkan sudah beberapa kali mengusap peluh yang mengucur melewati pelipisnya.
“Bagus, chef kita ini memang patut diacungi jempol.” Puji Bu Karin sembari tersenyum lebar mengangkat kedua jempolnya untuk Esha yang masih sibuk melayani pembeli.
“Terima kasih, Bu.” Balas Esha melirik sebentar ke arah Bu Karin sembari melempar senyum.
“Wahyu, ini Bayu ke mana?” tanya Bu Karin ketika sadar bahwa cowok yang ia beri tugas untuk ikut menjaga stan hilang satu.
“Lagi anterin pesanan dari kelas sebelah, Bu.” Jawab Wahyu. Benar, martabak mini Esha bahkan dibeli oleh kelas sebelah yang notabenenya bersaing dalam menjualkan dagangan.
“Pertandingan Basket akan dimulai satu jam lagi, kalau kalian mau nonton Noa dan ikut mendukung sekolah kita, habiskan dulu adonan terakhir lalu setelah itu tutup saja sebentar stan ini. Kalau pun mau dibuka biar minuman saja yang di jual, Esha perlu istirahat. Tapi jika ada yang bisa menggantikan Esha, buka saja. “Jelas Bu Karin dibalas anggukan paham dari anak-anak yang menjaga stan itu.
“Yaudah Ibu ke sana dulu,” pamit Bu Karin sembari tersenyum senang karena anak-anak didiknya yang meskipun terkenal karena bandel, tapi jika disituasi seperti ini mereka sangat membanggakan. Terlebih Saka, Agan, dan Noa yang bahkan sering ia marahi karena banyak menunggak kas. Tapi kini anak-anak bandel itu bahkan sudah mewakili kelas dan sekolah untuk bertanding dengan sekolah lain. Dan itu cukup membanggakan untuknya dan kelas 11 IPA 3.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Teen FictionYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
