“Ngapain?” seharusnya Esha tak perlu bertanya akan alasan Noa sudah nangkring di depan pintu apartemennya sepagi ini, karena ia jelas sudah tahu alasannya. Apalagi jika bukan untuk meminta makan, Noa benar-benar tidak mau ribet.
“Lapar,” jawabnya sembari cengengesan.
“Beli kek, minta mulu kerjaan lo. Lo kira gue kaya heh, bisa setiap hari kasih lo makan gratis!”
“Aelah, pelit lo.”
“Bukan pelit.” Esha menatap kesal wajah tengil Noa.
“Nih ya, dengerin. Dalam sebuah hubungan itu harus ada timbal balik. Nah, gue selalu kasih lo makan, sebagai timbal baliknya gimana kalau lo beli bahan masakannya.” Sembari berjalan ke arah dapur, Esha mulai berbicara mengenai timbal balik, sebenarnya alasan utamanya bukan karena ia tak ikhlas, ia hanya sedikit mengajarkan Noa untuk bertanggung jawab.
“Dulu biasa aja setiap kali gue minta, kok sekarang minta timbal balik. Gak terima lo gue porotin.”
Satu lagi sifat yang Esha benci dari Noa, selalu menangkap salah setiap omongan seseorang. Yang padahal inti dari setiap omongan itu bukan suatu kejahatan, tapi Noa selalu menganggapnya seperti itu.
“Gak gitu, Noa jelek. Lo itu kaya, harusnya gue yang porotin lo, ini malah sebaliknya.” Daripada menjelaskan panjang lebar Esha lebih memilih membalikkan setiap ucapan Noa. Karena jika ia menjelaskan dari awal Noa mana mau mendengarkan, paling-paling masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
“Yaudah, nanti sore kita belanja.” Kata Noa dengan mudahnya.
Bukannya bersorak senang Esha malah terlihat keheranan, “tumben langsung mau.”
“Biar gue bisa terus makan masakan lo. Gue gak mau makanan instan.” Daripada menolak yang berujung dirinya sengsara karena harus memakan makanan instan, Noa lebih memilih mengalah dan mengiyakan setiap ucapan Esha. Lagi pula dia juga merasa sedikit tak tahu diri jika terus meminta makan kepada Esha tanpa memberikan timbal baliknya.
“Halah gaya lo. Sebelum sama gue juga lo selalu makan mie.”
“Ya itu makanya, gue gak mau overdosis mie. Kan kata lo mie itu gak sehat. Jadi lo harus selalu masakin gue.”
“Nggih, tuan. Saya akan selalu memasak makanan untuk tuan.” Balas Esha dengan nada yang terdengar lucu di telinga Noa.
“Baiklah. Jadi menu apa hari ini, babu?”
Esha melirik Noa sinis, cowok menyebalkan itu benar-benar selalu menguji kesabarannya.
“Gue kesiangan, jadi cuma bisa buat sandwich doang.” Sedikit merasa bersalah, pasalnya Noa terbiasa memakan masakan berat saat sarapan, tapi karena dirinya bangun kesiangan dan tak punya cukup waktu untuk memasak akhirnya dia memilih membuat sandwich yang bahkan ia saja tak yakin Noa akan memakannya.
“Oke, gak papa. Apa pun itu pasti gue makan kalau lo yang bikin.” Sejujurnya Noa sedikit keberatan, tapi karena Esha sudah bersusah payah membuatkannya sandwich mana mungkin ia tidak memakannya.
“Serius gak papa? Kalau lo gak mau, gak usah di makan, nanti beli aja di kantin.” Esha benar-benar merasa bersalah, andai saja ia tidak bangun kesiangan mungkin ia akan memasak tumis udang, menu yang memang disukai Noa.
Noa mengangguk, lalu membalas dengan suara rendahnya. “Gak papa, sayang. Nih, gue makan kok.”
“Najis geli,” Esha bergidik seolah merasa geli mendengarnya, dan Noa hanya tertawa. Pasalnya apa yang keluar dari mulut Esha berbanding terbalik dengan reaksi alami tubuhnya, Esha salah tingkah bisa dilihat dari telinganya yang memerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Ficção AdolescenteYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
