Noa mengeratkan genggaman tangannya kepada Esha sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung rumah sakit. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya dipenuhi oleh kata-kata tak menyenangkan yang dulu selalu ia dapatkan. Noa pening, tapi ia tetap berusaha berdiri tegap di depan teman-temannya dan Esha.
Padahal tanpa Noa tahu, Esha menyadari tingkah Noa. Esha tahu Noa sedikit ketakutan karena selain dari genggaman Noa yang erat, Esha juga bisa merasakan tangan Noa yang mulai terasa licin karena basah oleh keringat.
Esha menoleh sekilas kepada teman-temannya yang berkumpul di belakangnya dan Noa. Sepertinya teman-teman yang lain juga sadar dengan tingkah Noa, terbukti dari raut wajah khawatir yang mereka pasang.
“Noa, tenang. Everything will be okay, trust me.”
Noa yang tadinya takut mulai merasa lebih baik kala sapuan tangan halus Esha terasa di pelipisnya yang basah karena keringat. Hatinya menghangat mendapatkan perhatian kecil dari kekasihnya itu. “I trust you, babe.”
Tidak ada yang akan mendengarnya, karena Noa berucap lirih, nyaris terdengar berbisik. Ia menarik segaris senyum tipis memperhatikan wajah manis Esha. Mencari kedamaian melalui wajah manis itu.
“Udah, yuk. Kalau ada yang macam-macam gampang, nanti Agan yang tonjok!” Ujar Esha bercanda, berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi hening.
“Dih, lo juga bisa kali. Ngapa harus gue yang tonjok?” timpal Agan. Agan sebenarnya sadar Esha tengah berusaha mencairkan suasana maka akhirnya ia pun menimpali.
“Lo ketua gue. Jadi sebelum anak buah maju, lebih baik ketuanya dulu.”
“Yeu, Oneng. Di mana-mana juga anak buahnya dulu yang maju baru ketuanya!” sanggah Agan tidak terima.
“Udah cukup. Ayo, masuk aja!” Noa suara sebelum Esha membalas ucapan Agan lagi. Karena jika itu terjadi maka mereka akan berdiri di pintu masuk rumah sakit ini seharian, alias tak akan ada yang mengalah dari mereka.
Akhirnya rombongan anak-anak remaja itu masuk ke dalam rumah sakit. Meskipun sedikit merasa malu karena banyak sekali yang memperhatikan, mereka berusaha acuh dan terus mengikuti langkah Noa yang membawa mereka ke sebuah ruangan di lantai lima, ruangan VIP tempat Nauni terbaring.
“Mana Adek?” tanya Noa cepat setelah menemukan Papanya yang duduk di depan ruangan Nauni.
Deon, Papanya Noa mendongak. Cukup terkejut melihat kedatangan anaknya yang ternyata tidak sendirian, melainkan bersama dengan teman-temannya. Deon mengenal salah satu di antara mereka, Jiel. Deon mengenal Jiel, karena Deon juga mengenal orang tua Jiel.
“Di dalam, silakan masuk dan temui dia.” Kata Deon dengan suaranya yang berat.
Setelah Noa masuk ke dalam ruangan, Deon menunduk kembali. Jujur saja, ia cukup terkejut melihat perubahan anaknya. Noa yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan kurus dan kecil kini sudah tumbuh menjadi anak yang sehat nan tinggi. Noa anak laki-laki satu-satunya itu sudah banyak berubah.
Lain halnya dengan Saka yang kini menatap sinis Deon. Dia masih marah perihal fakta tentang Noa yang dibuang secara sengaja oleh kedua orang tuanya. Mungkin Deon sudah berubah sedikit karena orang tua Jiel dan mau mengakui lagi keberadaan Noa. Tapi Saka berani bersumpah demi dewa Neptunus, Saka masih marah dan mungkin akan selamanya seperti itu.
Bukan tanpa alasan Saka marah seperti itu. Karena Saka pun yakin, semua teman-temannya bahkan Esha dan Nana sekali pun memiliki rasa marah yang sama. Terlebih dirinya dan Haraz, mereka yang pertama kali menemukan Noa. Jadi, jangan salahkan Saka jika nanti ia menghajar Deon apabila orang yang berstatus sebagai Papa Noa itu berbuat kelewatan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Teen FictionYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
