031 || Pembagian Rapot

771 74 3
                                        

Satu minggu sudah terlewat. Ujian akhir itu sudah terlaksana dengan lancar. Dan hari ini adalah hasilnya. Hasil dari semua kerja keras setiap peserta didik.

Rapot akan dibagikan hari ini, dan diharuskan orang tua yang mengambilnya. Karenanya grup kelas sempat menjadi lebih berisik dari yang terakhir kali, ribut mempermasalahkan perihal rapot tengah semester yang katanya lebih baik diambil setiap murid bukan orang tua. Sayangnya tidak bisa protes lagi, semua sudah di sepakati.

Sejak tadi Noa berada di depan kelas, duduk bersama dengan teman-temannya yang lain. Melihat bagaimana sibuknya teman-temannya menanyakan keberadaan orang tua mereka membuat Noa diam-diam membuang napas.

Sejak pindah ke kota Jakarta, Noa tidak pernah merasakan yang namanya dimarahi karena nilai anjlok setelah pembagian rapot. Noa tak pernah merasakan bagaimana sibuknya menghubungi orang tua menanyakan keberadaannya karena acara yang akan segera dilaksanakan. Karena sejak dulu Noa selalu sendirian. Ia selalu mengambil rapotnya sendiri, meskipun harus berdebat dulu dengan wali kelas karena tindakannya yang tidak diperbolehkan.

"Ibun, di mana? Ini kelas Aa udah mau masuk semua." Agan bersuara cukup lantang menanyakan keberadaan Bundanya yang memang akan mengambil rapotnya semester ini.

"Di depan? Oke, Aa ke sana." Tepat setelah itu Agan melangkah cepat menuju gerbang utama untuk menjemput Bundanya. Begitu pun teman-temannya yang lain.

Di kursi depan kelas ini hanya ada Haraz, dan Saka. Orang tua mereka sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Ketiganya diam tanpa mengeluarkan suara.

Noa yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Haraz dan Saka yang sibuk berpikir bagaimana caranya bertanya perihal pengambilan rapot agar tidak menyakiti Noa. Keduanya saling melirik seolah berbicara lewat tatapan mata. Baru saja hendak berbicara tapi kedatangan Ibu Esha membuat mereka tidak jadi mengeluarkan suara.

"Noa, sayang. Rapot kamu Ibu yang ambil, ya? Sekalian sama Esha nantinya." Wanita paruh baya bernama lengkap Rosalina itu tersenyum lembut seraya mengelus sekilas rambut Noa yang mulai memanjang.

"Noa bisa sendiri, Bu." Tolak Noa dengan sopan. Ia takut insiden saat pengambilan rapot kenaikan kelas terulang kembali. Noa takut Ibunya Esha di marahi wali kelas karena mengambil rapot anak lain padahal ia bukan wali sahnya.

"Noa kan anak Ibu juga. Gak papa, nanti Ibu bicara baik-baik sama wali kelasnya, ya." Rosa mengelus lembut pundak Noa, ia mengerti kekhawatiran yang Noa rasakan.

"Tante, gak papa. Biar Papa Agan yang ngambil rapotnya Noa." Kata Agan yang baru saja datang bersama dengan kedua orang tuanya. Cowok yang biasanya setengah waras itu kini tersenyum manis menatap Ibunya Esha dengan ramah. Sebenarnya tadi ia cukup terkejut karena Bundanya tidak datang sendiri melainkan bersama Papa barunya.

"Gue bisa sendiri, Gan." Noa lagi-lagi menolak.

"Jangan gitu, Om bisa kok jadi wali sementara kamu. Tenang aja, Om kan baru jadi Papa Agan. Wali kelas kalian gak akan tahu, kok." Haris, Papa tiri Agan sejak beberapa bulan kemarin menepuk pundak Noa pelan. Haris tahu dengan kisah Noa, istrinya yang menceritakan. Maka setelah berunding semalam, ia juga memutuskan datang ke sekolah anaknya untuk menjadi wali sementara Noa.

Agan tidak tahu, makanya ia sempat terkejut. Tapi setelahnya ia mengangguk senang kala Papanya bersedia menjadi wali Noa. Agan senang karena ia tak perlu merasa bersalah karena tak bisa membawa wali kelas sementara seperti tujuh bulan lalu saat kenaikan kelas.

"Gak papa, nanti lo kena omel Bu Karin kalau ambil rapot sendiri." Ujar Saka meyakinkan Noa. Saka sebenarnya yakin bahwa Bu Karin tak akan seperti wali kelasnya saat kelas 10. Tetapi untuk meyakinkan Noa, Saka jadi membujuk dengan cara itu.

IHS 01 || Hidden Couple Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang