Tubuh Noa meluruh jatuh ke lantai saat netra cokelat gelapnya melihat sebuah tubuh ringkih tertutupi kain putih. Tangisan yang sudah sejak tadi ia tahan akhirnya keluar, Noa menangis keras menyesali kedatangannya yang terlambat.
“Ma,” panggil Noa lirih di sela-sela tangisnya.
Natami mendekat, mengulas senyum sebaik mungkin untuk anak laki-lakinya. “Iya sayang, kenapa Abang mau apa?”
“Abang mau Adek, Ma. Bilang sama Adek, bangun. Abang udah pulang, Abang sudah datang.” Sorot mata Noa memancarkan kesedihan dan rasa penyesalan yang hebat. “Bilang sama Adek, maafin Abang yang datangnya terlambat.”
“Bilang, Ma. Bilang sama Adek buat bangun!!”
Natami langsung meraih tangan Noa yang hendak memukul dirinya sendiri. “Abang, hei. Dengar, dengarkan Mama.” Natami cengkeram erat tangan yang lebih besar darinya itu. “Adek tadi bilang sama Mama, kalau Abang datang katanya Abang jangan menangis, Abang jangan menyalahkan diri. Adek bilang, kepergiannya sudah takdir. Jadi Adek minta sama Mama buat jaga senyum Abang untuk nanti. Kata Adek, Abang harus tersenyum lagi.”
Napas Noa tersendat, berlari di sepanjang lorong rumah sakit, mendengar kabar yang buruk mampu membuat jantungnya seolah berhenti seketika, Noa rasanya sulit untuk menghembuskan napas yang lega. Yang ada hanya tarikan napas penuh penyesalan. “Ma, Abang mau Adek, Abang mau Adek bangun.”
Melihat Ibunya yang tak membantu, pandangan Noa beralih kepada Papanya yang berdiri kaku di sudut ruangan. Noa merangkak mendekati Papanya, Noa peluk erat kaki sang Papa. “Papa, bilang sama Adek buat bangun. Mama gak bisa bangunin Adek, Papa pasti bisa kan, iya kan?”
Telinga Deon berdengung, semua kalimat dokter menyakiti hatinya. Terlebih sekarang Noa juga menangis sembari memeluk kakinya. Deon semakin merasa bahwa ia adalah kepala keluarga yang benar-benar gagal.
Ia sudah gagal menjaga keutuhan keluarganya yang harmonis. Deon sudah kehilangan anak pertamanya, sekarang ia juga harus kehilangan anak bungsunya.
Deon melepaskan tangan Noa yang memeluk kakinya, ia berjongkok menepuk pelan bahu anak laki-lakinya, berusaha menarik senyum sebaik mungkin. “Lusa kita pulang ya, ke rumah di mana Kakak ada. Kita bawa Adek ke sana, biar Kakak ada temannya.”
🌻🌻🌻
“Abang, kita pulang, ya. Adek harus istirahat sama Kakak, Adek pasti gak mau kalau harus istirahat di sini.” Tangan lembut itu mengelus sayang kepala putranya yang bertumpu di pangkuannya.
“Ma, apa boleh Abang ikut pulang sama Kakak dan Adek?”
Mendengar pertanyaan putranya, Natami langsung bergerak cepat menangkup wajah Noa. Di elusnya halus rahang Noa yang kini menjadi satu-satunya anaknya yang hidup. “Abang tega ninggalin Mama? Abang tega ninggalin Papa?”
“Kalau Abang juga pulang bersama Adek dan Kakak, nanti Mama, Papa sama siapa, nak?”
Noa diam tak menjawab, pikirannya kosong, bisikan iblis di telinganya kembali terdengar. Bisikan-bisikan yang memintanya untuk mengakhiri hidup itu kembali lagi, sejak ia melihat tubuh Adiknya yang tertutupi kain putih.
Noa tahu, ada masa di mana dirinya harus menangis haru, dan menangis sedih. Tapi Noa tidak pernah menyangka bahwa tangisan kesedihannya akan luruh secepat ini, secepat saat dunia mengambil Adiknya, Adik kesayangannya.
Noa rasa baru kemarin ia melihat senyuman manis Nauni, masih mendengarkan celotehan Nauni yang mengatakan bahwa ia sudah siap pulang ke Indonesia. Namun, Noa tak mengira bahwa pulang yang di maksud Adiknya adalah seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
IHS 01 || Hidden Couple
Teen FictionYang orang lain tahu, Noa dan Esha adalah musuh bebuyutan. Atau kalau kata Lizard boy, mereka adalah dua bocil kematian yang hobinya merusuh. Saling mengejek, saling tendang, saling pukul, itu sudah seperti rutinitas wajib mereka. Pokoknya tiada har...
