DITERBITKAN DI TEORI KATA PUBLISHING
VERSI PDF TERSEDIA
#####
"Dasar Om tua bangka yang tak sadar diri dengan umur. Sana jauh-jauh dari Lisca! Bikin Lisca mual!
"Saya tidak setua itu kamu panggil om dan saya bukan paman kamu juga"
"Perlu dicatat ba...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karena tempat membeli keperluan Lisca, Arga tak membutuhkan waktu lama untuk balik. Melihat perempuan dicintai merintih kesakitan tak bisa ia sembunyikan khawatirannya. Menaruh kresek yang isinya pembalut dan obat di meja kecil samping kasur. Mengelus perut datar Lisca dari luar, tanpa menyentuhnya secara langsung.
"Darah mu semakin banyak keluar, saya gendong ke kamar mandi." Lisca tidak menjawab. Perutnya terasa keram sulit membuka mulut.
Tangannya yang kekar menyelip ke paha dan leher Lisca lalu mengangkatnya dengan mudah.
"Sakit, Om," merintih kesakitan di gendongannya.
"Kita bersihkan dulu badanmu baru kita pergi ke rumah sakit." Mendudukkan Lisca ke closet.
Mau memprotes akan tetapi bibirnya terasa kelu. Arga berjongkok hingga wajah mereka berhadapan dengan jarak yang dekat. Saking dekatnya ia bisa merasakan nafas Lisca yang manis dan lembut secara bersamaan meskipun samar-samar mencium bau anyir dari cairan kental.
Ketara jelas darah itu sudah mengering di celana Lisca yang bewarna putih. Mengetahui itu ia menunduk guna menyembunyikan rasa malu.
Memegang kepalanya yang tambah nyut-nyutan. Tahu kondisi melemah istrinya pria pemilik wajah tampan itu menyandarkan kepala Lisca ke dadanya lalu memijitnya.
Dada Lisca bergetar hebat. Mana bisa dirinya memperlihatkan tubuhnya dilihat secara terang-terangan oleh pria dewasa meskipun Arga adalah suaminya. Tangannya melingkar di pinggang Arga semakin erat yang bertanda bahwa tawaran itu ia tolak mentah-mentah.
"Sayang, kamu tidak usah takut jika ditakutkan itu saya berani berbuat macam-macam. Tidak mungkin juga saya melakukannya saat kamu kedatangan tamu dan juga masa Lisca gak mandi sementara tubuhnya terkena darah." Sembari membiarkan Lisca berpikir tangannya dengan terus mengelus rambut panjang itu.
Tak selang lama kemudian Lisca setuju ia dimandikan. Apa yang telah dijanjikan Arga tidak mencuri kesempatan ketika ia dibersihkan.
Dari mandi, memakaikan pembalut sampai baju Arga yang mengurusnya. Tidak langsung membaringkan Lisca ke kasur sebab ia mau membersihkannya.
Lisca yang berada di sofa melihat Arga yang sibuk mengangkat sprai penuh dengan darahnya. Tertegun mendapati Arga yang tak ada jijik-jijiknya. Sembari menunggu Arga ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang. Hal pertama ia rasakan adalah tak enak, punggungnya terasa tidak nyaman. Selama inilah yang Arga rasakan, tapi kenapa pria itu bisa-bisanya tahan dan tak mengeluh sedikitpun.