12. Memaksa

11.6K 369 39
                                        

"Tidak semua amarah dikeluarkan dan ada kalanya dipendam apalagi sampai melukai hati orang. Itu mengapa perilaku diutamakan daripada kepintaran."

~Arga Aldabaran

~Arga Aldabaran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Setiap manusia diciptakan memiliki kekurangan, sebaik apapun seseorang itu pasti memiliki celah kesalahan, baik disengaja ataupun tidak. Ini lah hal yang tak Lisca sukai ketika Arga memaksa kehendak tanpa memikirkan persetujuannya.

Tatkala menuju lokasi Lisca tidak ingin duduk di samping, ia berusaha keras ingin duduk di belakang. Siapa suruh Arga tak mau meninggalkan dirinya di mall sendirian. Ia bukan anak kecil yang harus bergantung sama orang dewasa, sudah tahu jalan untuk pulang ke rumah.

Mengingat Arga menyeret dan menggendongnya mengundang amarahnya yang segera ingin dikeluarkan. Dadanya sesak dan tenggerokan terasa sakit. Matanya memicing tak suka mengarah ke arah Arga yang tengah menyetir. Sesekali tangannya menarik rambut pria itu, tetapi Arga tidak menahan dirinya, hanya meringis kesakitan. Sebab itulah Lisca tak melanjutkan kdrt.

Mobil ditumpangi berhenti di area khusus peternakan. Sudah ditebak tempat ini hanya memelihara kuda sebab ada beberapa pria sibuk menunggang kuda sambil memanah. Mungkin sebagian orang mengatakan mereka terlihat keren, tetapi tak ada rasa takjub malah itu terlihat menoton.

"Tetap di sini atau keluar bersama saya?" Arga menengok ke belakang untuk mendapatkan jawaban. Menghela nafas kemudian kembali berucap, "saya sadar saya ini terlalu memaksamu, tapi membiarkanmu berkeliling di mall sendirian bukanlah suatu hal yang baik. Bukannya saya tidak mau menemanimu atau menganggapmu sebagai anak kecil, bukan gitu, sayang jika kamu berpikir. Dan saya tidak enak menolak permintaannya."

Lisca membuang muka dan mendengus sebal. "Hari ini hari kita untuk jalan-jalan." Memperagakan cara berbicara Arga setelah beberapa jam yang lalu.

"Ini bagian dari jalan-jalan kita dan liburan buka hanya tentang jajan saja. Lebih baik lagi digabung dengan pengalaman seperti berkunjung ke daerah ini. Turun, ya sayang." Saat dirinya mau mengambil tangan Lisca, tetapi sang empu terlebih dahulu menatapnya garang.

"Apa? Mau cium tangan Lisca. Om pikir aku akan luluh, gitu? Hey, Om Tua Bangka ini bukan drama Korea yang setiap hari aku tonton. Tidak usah mempraktikkannya supaya aku luluh."

"Wajah Om tidak mendukung banget untuk jadi oppa-oppa korea! Dan apapun yang Om lakukan itu tidak akan terkesan romantis malah jatuhnya menjijikkan. Wajah Om itu sangat menjijikkan!" Mimik wajahnya sudah memerah dan tangannya terus menunjuk muka Arga.

Tanpa disadari oleh Lisca, tangan Arga mengepal. Rahangnya mengeras ketat dan sorot matanya semakin tajam. Ia tak lagi membujuk Lisca justru turun dari mobil. Membukakan pintu untuk Lisca tak ia lakukan seperti biasanya. Berjalan tanpa menengok ke dalam mobil.

HERE I AM (SUDAH DITERBITKAN)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang