22. Tak Mungkin

8.6K 297 66
                                        

Memang benar cinta bisa mengubah orang, dari yang tidak punya perasaan menjadi orang yang penuh akan kepedulian. Namun tidak semua cinta bisa memberikan manfaat, begitu banyak para korban yang dirusak karena berlandaskan cinta.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Saat kedatangan sahabat karib Arga, Lisca tidak bisa melakukannya dengan perasaan biasa. Hingga Arga tidak lagi menyuapi Lisca, begitu juga dengan perempuan itu.

Karena tadi disuapi sama Arga dan sekarang tidak lagi, rasa ayam goreng tidak senikmat tadi. Selera makannya menurun. Apakah ia terlalu bergantung sama Arga maka semuanya harus melibatkan pria itu. Walaupun benar adanya, tetapi dia tidak salah 'kan?

Seperti sahabat pada umumnya Fadel makan tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Lantaran Arga sudah terbiasa dengan sikap Fadel yang memalukan jadinya tidak merasa keberatan, apalagi hanya soal makanan. Biaya makanan ini hanya menghabiskan sedikit uangnya saja. Jika ia mau maka restoran bisa didapatkan dalam sekejap.

"Bagaimana kabarnya, Lisca?" Fadel mengelap bibirnya dengan tisu yang sudah disediakan.

Lisca tidak bisa langsung akrab sama dengan orang baru. Walaupun hanya beberapa kali bertemu dengan Fadel, tetapi Fadel tetaplah orang asing.

Lisca tidak menatap wajah Fadel meskipun dalam sekejap. Dirinya tetap menunduk melihat piringnya yang masih penuh. "Baik," jawabnya dengan suara kecil.

Fadel yang ada di depannya merasa geli dengan tingkah istri sahabatnya. Bisa melihat bahwa Arga dan Lisca begitu saling melengkapi. Arga yang dewasa, penuh dengan rasa percaya diri sementara Lisca bersikap kekanak-kanakan dan sering kali merendahkan diri.

Arga tahu Fadel ingin menggoda istrinya, tangannya melingkar di bahu Lisca dengan tatapan tajam. Dari sorot matanya mengatakan 'jangan macem-macem sama istrinya jika tidak mau mati.'

Pria yang memakai jas kantor sama dengan setelan yang Arga pakai mengangkat kedua tangannya. "Baiklah, sayang." Tersenyum menggoda.

Lisca melototkan matanya. Berarti dugaan dirinya dengan Ghea tidak salah, tapi ia juga tidak boleh buru-buru mengambil kesimpulan.

Mengabaikan candaan Fadel, Arga mengusap pipi Lisca. Tidak peduli dengan Fadel yang panas keringat dingin, siapa suruh menggangu momennya. "Sayang, apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya Arga lembut.

Arga yang ada di depannya sekarang ini bukanlah Arga yang dikenal. Sudah lama mengenali pria itu, tetapi ini adalah hal yang langka, jarang banget untuk ditemukan. Karena sikap Arga yang sebenarnya adalah pria yang irit bicara, patung berjalan, dan masih banyak lagi sebutan yang cocok baginya.

HERE I AM (SUDAH DITERBITKAN)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang