DITERBITKAN DI TEORI KATA PUBLISHING
VERSI PDF TERSEDIA
#####
"Dasar Om tua bangka yang tak sadar diri dengan umur. Sana jauh-jauh dari Lisca! Bikin Lisca mual!
"Saya tidak setua itu kamu panggil om dan saya bukan paman kamu juga"
"Perlu dicatat ba...
"Pria memang egois, tak ingin melihat orang yang ia cintai dilihat oleh pria lain walaupun cuma satu detik."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berputar berbagai variasi es krim di kepalanya. Membayangkannya meleleh di mulut dengan rasa manis yang pas. Tenggerokan terasa kering ingin segera dibasahi. Yang diinginkan hanyalah es krim, tidak mau meminum sirup atau semacamnya.
Mengingat betul di dalam kulkas masih banyak stok. Di sini yang menjadi masalah utamanya adalah Arga. Sebanyak ia meminta sebanyak itu pula permintaannya ditolak keras. Tubuhnya dipeluk erat agar tak bisa turun ke bawah. Segala jurus ia keluarkan dari merengek, memasang wajah memelas sampai adegan menangis tersedu-sedu sudah ia lakukan, tetapi Arga tetap tidak mau mengabulkannya. Katanya 'nanti tambah sakit.' Lisca kesal bukan main.
Yang namanya keinginan tidak memandang waktu dan cuaca, ini tengah malam dan hujan masih deras. Matanya sempat terpejam lagi, tapi ia terbangun karena tadi bermimpi sedang berada taman yang penuh dengan aneka raga macam manisan. Itu sebabnya ia pengin makan es krim.
Baju Arga belum dikacingkan, di sana Lisca mencari kehangatan. Menusuk dada di depan wajahnya dengan menggunakan jarinya.
"Masa, Om tega gak mau menuruti keinginan Lisca? Orang sakit itu seharusnya dimanja dan apa-apa diteruti. Katanya cinta dan sayang, tapi permintaan istrinya tidak mau diwujudkan." Mengukir nama Haechan di dada Arga.
Tahu apa yang ditulis sama Lisca, Arga menghentikan jari itu. "Jangan mengukir nama pria lain di dada saya, lebih baik menulis nama mu." Menaruh telapak tangan Lisca ke dadanya. "Di sini hanya nama kamu yang boleh mengisinya dan saya tidak akan pernah membiarkan namamu tergeser walaupun sedikit."
Melepaskan tangannya dari sana. "Idih, Bapak Udin alay." Seenak jidatnya Lisca mengganti nama Arga yang indah.
"Siapa yang kamu sebut Bapak Udin? Apa perlu saya menghukum kamu agar tidak berani menyebut pria lain!?"
"Bapak Udin itu sebutan untuk Om yang mode pelit seperti saat ini. Dan Lisca tidak butuh kata-kata yang Lisca butuhkan sekarang adalah es krim. Es krim, Om bukan bacotan."
Terucap kata yang tak sopan, Arga langsung menutup mulut Lisca. "Siapa yang ngajar!? Saya tidak suka kamu berkata kasar apalagi kamu itu seorang perempuan. Kamu itu perempuan terpandang, jangan membiarkan ucapan tidak senonoh membuat mahkotamu jatuh. Memiliki paras indah emang menyenangkan, tetapi tidak akan sejalan jika si pemilik sering berucap kotor."
Lisca melepaskan tangan Arga dari mulutnya. "Mau mau Lisca lah, kok Om yang sewot. Ini, kan mulut Lisca jadi terserah pemiliknya lah. Bacot... bacot... bacot... Om bacot banyak omong." Mengabaikan eskpresi tak suka dari suaminya. Mulutnya yang kecil terus mengucapkan kata-kata yang tak disukai oleh Arga.
Telinganya panas. Istrinya ini sungguh nakal sekali. Baiklah, opsi pertama tidak mempan. Mengambil opsi kedua karena kemungkinan ini akan berhasil.
Saat Lisca sibuk menyebutnya dirinya 'bacot' tanpa diketahui pergerakannya, ia memadamkan semua lampu termasuk lampu di meja.