DITERBITKAN DI TEORI KATA PUBLISHING
VERSI PDF TERSEDIA
#####
"Dasar Om tua bangka yang tak sadar diri dengan umur. Sana jauh-jauh dari Lisca! Bikin Lisca mual!
"Saya tidak setua itu kamu panggil om dan saya bukan paman kamu juga"
"Perlu dicatat ba...
"Itu pernyataan yang sulit, sayang. Kasih sayang dan cinta Mas punya kadar masing-masing. Lisca cinta sebagai seorang istri dan anak kita nanti Mas sayang sebagai anak."
~ Arga Aldabaran
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lebih baik hari ini kau tak usah masuk kuliah." Ghea mendorong tubuhnya.
"Ada apa rame-rame?" Bukannya menurut Lisca malah berusaha memasuki kerumunan. Saking penasarannya ia tidak peduli dengan larangan sahabatnya.
Ghea panik, terlambat mencegah perempuan pemakai dress di bawah lutut. Lisca sudah berada di depan mading. Menutup mulutnya tidak percaya, siapa pelaku dari semua ini. Semua orang menatapnya sinis dan juga tatapan menjijikkan. Semuanya berisi ia tidur dengan pria lain di selimut yang sama sementara wajah pria itu buram. Cuma wajahnya yang jelas. Siapa yang telah memfitnahnya?!
Lisca geleng-geleng kepala dan tak bisa menahan air matanya. Menutup mulutnya agar tangisannya tidak didengar. Mana mungkin ia mengkhianati suaminya.
"Ku kira cewek baik-baik ternyata berselingkuh di belakang suaminya. Begitu malang nasib Arga punya istri perilakunya kayak jalang."
"Kita semua tertipu dengan wajah polosnya. Ck, memang wanita tidak tahu diri."
"Hati-hati guys dengan dia.... Bisa-bisa pacar kita jadi korbannya."
Lisca tidak membalas perkataan yang menjatuhkan harga dirinya. Tangannya mengambil paksa foto yang tertempel di mading. Air matanya menetes. Ghea pun membantu sahabatnya melepas foto itu lalu membentuknya menjadi bola. Mahasiswi yang telah menghina Lisca, Ghea sumpal mulut mereka dengan gulungan kertas itu.
"Apa-apaan kau ini?" bentak salah satu dari mereka.
"Apa? Tak terima? Mulut sampah itu harus dimasukkan sampah juga," tantang Ghea.
"Ghea udah." Lisca menarik tangan perempuan itu agar tidak menciptakan keributan. Dia berjalan dengan tertatih-tatih membuat asumsi mereka semakin kuat bahwa Lisca sering menjual diri kepada lelaki hidung belang.
"Kalau bukan jalang terus namanya apa? Lonte?" Semua orang tertawa dan Lisca semakin menunduk.
Ghea mengabaikan tarikan Lisca, menatap tajam kepada lawannya. "Lihat aja cara dia berjalan berbeda. Satu malam berapa ronde Lisca?" Mahasiswi yang terkenal cantik itu tak puas menghina istri dari Arga.
"Tadi malam siapa berpakaian seksi yang dijemput sama om-om buncit. Apa gak kebalik, Sayang?" Ghea menepuk pundak lalu kembali melanjutkan perkataannya, "Barang-barang yang melekat pada tubuh ini pasti pemberian dari om-om itu. Ck, murahan"
Ghea menarik tangan Lisca agar menjauh dari manusia-manusia tidak bermoral itu. Langkah mereka terhenti sebab telur busuk mengenai otak mereka. Dan pelakunya adalah June—pria yang Lisca tampar karena sudah berani memeluknya. Ghea sangat yakin yang menyebarkan rumor ini pasti cowok sialan itu.