DITERBITKAN DI TEORI KATA PUBLISHING
VERSI PDF TERSEDIA
#####
"Dasar Om tua bangka yang tak sadar diri dengan umur. Sana jauh-jauh dari Lisca! Bikin Lisca mual!
"Saya tidak setua itu kamu panggil om dan saya bukan paman kamu juga"
"Perlu dicatat ba...
"Kenapa Mas ikut-ikutan diam. Di sini cuma Lisca yang boleh mendiami Mas."
~Lisca Aurora Elvina
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak ingin menyia-nyiakan momen dari semalam Lisca sudah merencanakan bahwa ia harus bangun pagi. Untungnya handphone yang sempat ditahan Arga sudah berada di sampingnya. Berdering dengan nyaring, tangannya meraba-raba dan buru-buru mematikannya. Tetap ia memaksakan diri membuka mata sebab sebentar lagi matahari segera terbit.
Dengan gerakan lambat Lisca merapikan penampilannya. Tak menemukan sesosok suaminya namun Lisca tidak peduli. Ia pun keluar dengan keadaan masih wajah bantal. Di pinggir pantai sudah ada Arga dan Darren. Pria yang Lisca hindari.
Karena tidak ingin berdekatan dengan kedua pria itu Lisca duduk berjauhan dengan mereka. Darren yang menyadari keberadaan adiknya menyenggol tubuh Arga memberitahu keberadaan Lisca. Arga menatapnya sekilas lalu kembali menatap langit.
"Bocil sini kau jangan jauh-jauh dari kami. Marahannya di akhiri saja, bersikap kayak gitu kamu persis anak hilang." Darren berkata dengan sedikit teriak.
Lisca menghiraukannya. Dengan nakalnya angin laut menerbangkan rambutnya membuat dia kesulitan melihat. Lisca menggeram kesal karena tidak mendapati ikat rambut pada pergelangan tangannya. Ia yakin pasti ada ikat rambut pada Arga. Gengsinya terlalu tinggi membuatnya memilih membiarkan rambutnya terurai.
"Apa tak ada niat membujuknya?" tanya Darren
"Lihat dia lagi bermasalah dengan rambut panjangnya," tambah Darren
"Biarkan saja ia datang sendiri dan meminta maaf. Tak selalu aku datang kepadanya biar ia tahu letak kesalahannya." Darren mengangguk setuju.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan diri. Matahari terbit dengan indahnya, tak ada yang tak mengabdikannya termasuk Lisca. Perempuan itu mengabdikannya dengan ponsel yang ia miliki dan mengambil beberapa foto.
Beda lagi dengan Arga, lelaki itu cukup dengan satu foto lalu beralih memotret istrinya. Tersenyum senang karena hasil jepretannya tidak ada mengecewakan. Tak puas dengan satu kali Arga mengambil beberapa foto istrinya, tapi sayangnya Lisca tak menyadarinya. Kemudian Arga menjadikan foto Lisca sebagai wallpaper.
Tak selang lama kemudian Alfira datang menghampiri menantunya. "Sayang, mau ikut sama Mami untuk membersihkan diri?" tawar Alfira
"Lisca ikut Mami. Badan Lisca terasa kotor." Lisca menyambut uluran tangan mertuanya.
Saat melewati kedua pria itu Alfira bertanya, "Kalian gak mau ikut?"
"Duluan aja, Mi nanti aku dan Arga nyusul," jawab Darren
Arga tidak menoleh ke belakang dengan alasan ada istrinya. Alfira jelas tahu anak dan menantunya masih mode marahan. Dirinya yakin pasti sebentar lagi mereka berdua akan baikan.