DITERBITKAN DI TEORI KATA PUBLISHING
VERSI PDF TERSEDIA
#####
"Dasar Om tua bangka yang tak sadar diri dengan umur. Sana jauh-jauh dari Lisca! Bikin Lisca mual!
"Saya tidak setua itu kamu panggil om dan saya bukan paman kamu juga"
"Perlu dicatat ba...
"Hubungan yang spesial harus memiliki nama khusus."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memasukkan potongan pizza yang besar ke dalam mulutnya yang kecil. Ketampanan Arga berlipat ganda saat sibuk memeriksa dokumen di kursi kebanggaannya, tapi tidak menyurutkan kekesalannya pada pria itu. Ia pikir Arga tidak memberikan tanda di lehernya—ada tiga tanda ciuman di kulitnya yang putih. Sialnya pakaiannya tak mampu menutupi tanda tersebut.
Arga yang berada di sana mengulum senyum, dari ekor matanya ia tahu istrinya sedang melihat kearahnya dengan tatapan sebal. Jika istri mungilnya tidak marah terhadapnya, ia ingin menghampirinya kemudian mengusap bibir itu dengan bibirnya sendiri. Pipi yang menggembung, bibir belepotan disertai bola mata yang besar.
Dipikir-pikir Lisca begitu cocok dipanggil Little Girl sebab tubuhnya yang mungil namun mampu membangkitkan sisi prianya hanya Lisca berdiam diri. Little Girl sangat cocok untuk memanggil Lisca.
Hubungan yang spesial harus memiliki nama khusus. Untuk panggilan 'sayang' begitu umum dipakai walaupun Little Girl sering juga dipakai oleh orang lain. Namun terkesan lebih indah.
"Om Arga," panggil Lisca dengan nada dimanja-manjakan. Ia sengaja memanggil Arga yang dulu untuk membuat pria itu merasa sebal supaya dia tahu rasanya. Sebut saja sebagai pembalasan.
Benar saja Arga mengalihkan matanya dari setumpuk kertas. "Om Arga? Coba bilang sekali lagi lebih keras." Berdiri dari duduknya lalu menghampiri Lisca yang masih duduk di sofa sambil makan.
Baru saja ditatap begitu nyalinya menghilang. Meremas bajunya dan pandangannya ia buang ke arah lain—tidak berani membalas tatapan Arga.
"Tadi ada yang bilang Om Arga?" sindirnya. Meraih dagu Lisca kemudian tatapan mereka beradu. Alhasil Lisca tidak bisa untuk tidak menatap tajam tatapannya.
"You are my wife so never call me again Om Arga. These your husband don't like hear it, Little Girl. I know we're very different in age, but you still is mine." Mengusap bibir Lisca yang merah alami.
"Mungkin bibir ini perlu Mas bungkam dengan ciuman satu jam baru tidak lancang memanggil Om Arga. That's right?"
Lisca bergidik nyeri mendengarnya, jika benar-benar terjadi maka bibirnya bisa membengkak merah dan mana mungkin ia bisa menahan nafas sampai satu jam.
Hanya dengan ancaman menimbulkan keringat dingin di dahinya. Cuma satu inci jarak wajah, nafas Arga yang tercium masculine bisa Lisca rasakan dengan jelas.
"Maaf." Suaranya tercekat, merutuki dirinya yang tak bisa menyembunyikan ketakutannya.
Arga mengulum senyum, melihat Lisca yang tak berdaya tampak ada keinginan lebih. "Maaf Lisca Mas baru terima, tapi setelah ini." Arga menaruh wajahnya di antara bahu dan potongan leher, di sana menghisap kuat kulit putih itu seperti susu.