Langit gelap. Angin berembus pelan, masuk perlahan dari celah jendela kamar. Menerpa wajah yang sedari tadi terus murung.
Gaby berhasil membuat Gema frustasi bukan main. Pasalnya jika Gaby sedang kangen dengan mendiang Mamanya, pasti ia harus mengelola segala cara untuk mengatasi hal itu.
Diliriknya gadis yang terduduk di hadapan cermin setelah mempoles sedikit make up.
"Udah?" tanyanya memastikan, menuai anggukan samar dari Gaby.
Gaby berusaha memaksakan diri untuk tidak murung. Sebab ini adalah acara keluarga besar milik Gema. Bisa dibilang arisan perbulan khusus keluarga lelaki itu.
Ia menoleh saat satu tangan Gema terulur mengusap lembut pipinya. "Pipi lo merah," ucap Gema pelan, melihat Gaby dari pantulan kaca.
Gaby menghela napas panjang. Ini bukan akibat salah tingkah. Melainkan menahan agar tidak menangis.
Jika boleh jujur, malam ini ia tidak ingin keluar dari kamar. Hanya ingin menangis di ruangan ini.
Ia mendongak perlahan. Menangkap wajah Gema yang juga tengah menatapnya.
"Maaf tadi udah bohongin kamu," cicitnya, menuai senyum tipis dari Gema.
Lelaki itu justru mengusap singkat pucuk kepala Gaby dan menarik lembut pinggang gadis itu agar beranjak dari duduk dan melangkah keluar menuju rumah Bunda yang hanya berbeda gang saja.
"Lo masih inget sama Tante Deca?"
Gaby menoleh singkat seraya mengangguk.
"Ternyata dia lagi hamil anak kembar. Gue gak kebayang gimana nanti pas lahirannya," jelas Gema.
Tidak ada balasan dari Gaby. Sebab gadis itu juga bingung harus merespon apa.
Setelah lima menit berjalan kaki dari rumah menuju rumah Bunda, akhirnya keduanya sampai.
Jangan heran jika suara gelak tawa dan riuh lainnya bercampur menjadi satu di rumah dua lantai itu.
"Ehhh!! Gembyy!!" pekik Tante Deca, entah mengapa gemas sekali melihat pasangan muda ini.
"Udah tua, salah nyebut nama," cibir pelan Gema yang mendapat hadiah pukulan dari Tante Deca.
"Gemby itu tuh singkatan buat kalian! Gema Gabyy ... Enak aja lo ngatain gue udah tua."
Gema tidak peduli akan hal itu. Ia menarik lembut Gaby masuk ke dalam tanpa pamit dengan Tante Deca yang hendak mengobrol dengan Gaby.
"Karel di mana, Bun?"
Bunda tersenyum hangat ke arah Gaby. Ia mengusap lembut pipi gadis itu. "Ada di dalem tuh lagi mainan. Ini istri kamu lucu banget, sih, pipinya merah kayak tomat gitu."
Gaby tersenyum kikuk nan simpul mendengar itu. Tangannya kembali ditarik lembut begitu saja oleh Gema menuju ke ruang keluarga.
"Om All!!"
Sungguh cepat balita itu berlari menuju Gema. Dan dengan sigap Gema menangkap lelaki kecil itu, lalu menggendongnya.
"Iiihhh! Ateuu atikk!"
Karel berhasil membuat Gaby terkekeh.
"Ini namanya ibu peri," bisik Gema pada Karel, membuat Gaby refleks memukul lengan lelaki itu.
"Ooo!! Ibu peli!"
Gema membawa Karel menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia juga tidak melupakan untuk terus menggenggam tangan Gaby sampai di kamar.
"Gema."
"Hm?" Ia menoleh setelah menurunkan Karel di atas ranjangnya.
"Aku gak enak kalau gak berbaur sama saudara kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
LEFT BEHIND [END]
Teen FictionIa ingin membuktikan. Bahwa cinta tumbuh itu bisa dari rasa terpaksa. --Left Behind-- ©9aglie (BELUM REVISI) RANK🎖 #1 married [Sabtu, 9 Maret 2024] Start : Selasa, 24 Oktober 2023 Finish : Kamis, 23 Mei 2024
![LEFT BEHIND [END]](https://img.wattpad.com/cover/354476104-64-k339501.jpg)