22°

3.7K 82 1
                                        

Brak!

"Sssh ... brisik anjir!"

Disa bersedekap dada melihat abangnya yang masih lengket dengan kasur, sedangkan ia harus berangkat ke kampus.

"Minta uang," tagihnya ketus, membuat Jalu mendengus kesal.

"Nanti gue tf. Reno mau jemput, lagi di jalan."

"Dih! Ogah amat gue bareng dia. Emangnya lo kenapa, sih? Gak bisa terus nganterin gue kelas pagi."

Jalu hendak membalas.

"Apa? Ketemuan lagi? Iya? Lo ketemuan sama siapa, sih, Bang? Gue gila lama-lama bareng dia."

Jalu tidak membalas. Melanjutkan tidurnya. Jujur tubuhnya begitu remuk akibat kemarin ada matkul yang 8 SKS, lalu dilanjut bekerja offline di perusahaan yang ternyata milik Papanya Gaby.

"Udah sana, ah. Brisik lo. Ganggu tau gak," usir Jalu risih, membuat Disa menutup pintu kamar lelaki itu dengan keras.

Brak!

"Gak jelas banget sih gue punya Abang?! Nyebelin nyebelin nyebelinnn!"

Disa mendudukkan tubuh di kursi teras rumah. Menunggu Reno menjemputnya.

Satu tangannya memijat dahi pelan. Merasa begitu pening jika pagi-pagi begini sudah emosi.

Tin!

Wajah Disa yang terlihat kesal, mendengar klakson motor itu semakin kesal.

Ia beranjak dari kursi, melangkah mendekati Reno. "Anterin gue ke makam dulu mau gak? Bentar doang."

Reno menoleh sebatas bahu kala Disa sudah menduduki jok belakang motornya.

"Lo lagi ada masalah?"

Disa berdeham singkat. Motor itu melaju meninggalkan pekarangan rumah yang disewa oleh Jalu.

"Cerita aja sama gue apa masalahnya. Udah mepet masuk gini lo yakin mau ke sana?"

"Kalau lo gak mau yaudah gapapa. Turunin gue di halte depan aja."

Reno melirik sekilas Disa dari spion. Gadis itu amat murung. Sepertinya masalah yang sedang ada tidak main-main.

"Masalah apaan?"

"Masalahnya itu ada di lo."

Satu alis Reno naik. Ia keheranan mendengar gadis itu berucap ketus dan menjadikan dirinya sebagai masalah.

"Lo kenapa mau-mau aja disuruh abang jemput gue gini? Gue kan gak mau. Maunya dianterin sama dia."

Reno terkekeh singkat. "Itu doang masalahnya?"

Plak!

"Aw!" pekik Reno yang mendapat pukulan di bahu.

"Itu doang lo bilang??! Satu detik sama lo itu nambah dosa buat gue! Emosi terus bawaannya!"

"Bagus, lah. Jadi malaikat gak nganggur."

"Dasar nyebelin!"

Reno terdiam sesaat. Ia baru ingat bahwa Jalu bercerita, jika adiknya itu tidak memiliki agama. Bahkan Disa tidak pernah percaya akan adanya akhirat.

"Udah, ah. Pokoknya turunin gue di depan halte."

Seolah tuli, Reno melajukan motornya. Melewati halte yang dituju oleh Disa.

"Gue anterin."

•••••



Aroma semerbak cokelat--manis--dari arah dapur membuatnya semakin penasaran.

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang