40°

3.9K 74 0
                                        

"Bentar bentar. Lo se-pagi buta ini mau jogging?? Serius?"

Disa menghentikan kunyahannya lalu mengangguk seraya menatap lelaki di hadapannya.

"HAHAHAHA! ANJIR! Kesambet apaan lo jadi sok sehat gini??"

Mendengar itu Disa hanya bisa merotasikan bola matanya malas. Lihat lah Jalu, abangnya. Sama sekali tidak mendukung perubahan baik dalam hidupnya.

"Pagi muda-mudi feeling empty!" pekik Reno, memakai baju olahraga yang membuat Jalu menghentikan tawanya mendengar sapaan itu.

Jalu menoleh ke belakang dan beralih lagi menatap heran adiknya yang tampak santai akan berolahraga hari ini.

"Dih, lo berdua tumben banget?"

Lelaki yang berdiri di ambang pintu itu akhirnya berjalan menuju Jalu dan Disa. Ia menepuk pelan bahu Jalu sebagai tanda sapaan di pagi hari setelah ucapannya tadi.

"Gue akalin pake satu box jajanan," balas Reno, terkekeh.

Kedua alis Jalu hampir menyatu. Perasaan ia tidak mendapat jajanan apapun. Setidaknya ia tahu bahwa adiknya itu memiliki jajanan banyak.

"Gak ada tuh gue dapet jajanan. Sama sekali gak kena cipratannya," sindir Jalu, mendelik tajam ke arah Disa.

"Udah lah, Jal. Lo nikmatin aja perubahan baik Disa. Gue yakin lo bisa bangga sama dia," ucap Reno amat pelan dan begitu meyakinkan Jalu.

Disa memilih beranjak dari kursi dan meninggalkan meja pantry. Ia mencuci tangan di wastafel dan berjalan begitu saja menuju teras rumah tanpa melirik sedikit pun pada Jalu yang keheranan.

Setelah Disa benar-benar keluar dari teras, Jalu menyuruh Reno untuk sarapan terlebih dahulu dengan menu seadanya.

Yaitu buah-buahan dan sepotong roti dengan selai nanas.

"Gimana kerjaan lo? Aman-aman aja, kan?" tanya Reno amat pelan, hampir seperti bisikan.

Jalu hanya mendengus mendengar pertanyaan Reno. Ia sudah terlalu pusing memikirkan hal itu. Rasanya kepalanya saat ini hampir pecah.

"Kacau dikit. Gue salah taruh data," balas Jalu seadanya.

"Yaudah gapapa. Namanya juga manusia ada lupanya itu wajar. Udah lo fokus aja kerja sama kuliahnya. Soal Disa ... gue yang urus."

Jalu bergumam samar. "Kalau gue gak kuat sama semuanya, lo mau jagain dia, kan?"

Reno hampir tersedak mendengar itu. Segera ia meneguk air di dalam gelas seraya menepuk-nepuk dada.

"Gila lo. Ngomong apaan sih pagi-pagi?"

Jalu terdiam.

Suasana dapur hening sejenak sebelum Disa mengetuk berkali-kali pintu dan membuat Reno beranjak dari duduk, menghampiri gadis itu.

•••••

"Tante Deca nginep di sini, Bun?" tanya Gema, baru saja mendudukkan tubuh di sofa, rumah Bunda.

"Iya, tuh. Tapi Karel gak ikut. Katanya lagi demam. Btw Karel kangen banget tau sama kamu apalagi Gaby. Emangnya kamu gak mau jenguk Karel??"

Gema hanya berdeham membalas pertanyaan wanita itu. Ia mulai merenggangkan otot-ototnya seraya melenguh samar.

"Tumben pagi-pagi gini kamu ke rumah Bunda. Ada apa, nih? Mau minta makan atau lagi marahan??"

"Mana ada marahan," balas Gema, menuai tawa kecil dari Bunda.

"Iya juga ya. Bunda lupa kalau kamu udah bucin akut sama Gaby."

Suara kompor dinyalakan membuat Gema urung bertanya pada Bunda. Sebenarnya niatnya ke rumah Bunda pagi seperti ini di hari Minggu, ialah bertanya perihal parenting.

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang