"Kayaknya aku gak bisa bagi waktu buat ke kantor sama ke kampus," ucap Gema serius, setelah sarapan bersama di rumah Bunda.
"Bunda yakin kok kamu bisa. Ke kantor gak setiap hari juga kan. Emangnya kamu gak mau lanjutin ini semua buat Bunda? Buat keluarga kamu juga nanti."
Gema menghela napas panjang seraya membersihkan ujung jari-jarinya dengan tisu.
Ia melirik ke arah Gaby yang dipaksa Bunda duduk di sebrangnya, tepat di samping wanita berdaster itu.
"By."
Gaby menaikkan wajah. Menatap heran Gema yang memanggilnya dengan nada serius.
"Ke kamar dulu," suruh lelaki itu, berhasil membuat suasana sarapan menjadi aneh.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Gaby menatap Gema yang sibuk memasukkan nasi ke dalam mulut. Akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari duduk, melangkah menuju kamar Gema yang ada di lantai dua.
Sesampainya di sana, ia mendudukkan tubuh di tepi ranjang. Menyisirkan pandangan pada area kamar dengan tatapan kosong.
Besok pagi ia sudah harus berangkat makrab. Malam keakraban. Dihitung tiga hari dua malam ia harus berpisah dengan Gema.
Entah mengapa hati kecilnya merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Sepertinya ini perasaan yang harus dibuang, pikirnya.
Pintu kamar terbuka. Menampilkan Gema dengan wajah kusut. Ia menoleh singkat pada lelaki yang berjalan ke arahnya.
"Besok lo jadi berangkat, By?" tanya Gema, berdiri di hadapan Gaby. Menaikkan perlahan dagu gadis itu dengan jari telunjuk.
"Jadi," balas Gaby pelan dengan wajah datar. "Kenapa?"
"Kalau gue larang lo buat berangkat. Lo mau nurut gak?"
Gaby terdiam sejenak. Menatap lekat manik Gema yang memancarkan kesedihan dan kegelisahan.
"Ini acara penting, Gema. Kenapa tiba-tiba gak boleh? Bukannya waktu itu kamu ngizinin aku?"
Gema menghela napas panjang, lalu terduduk di samping Gaby. Menyandarkan kepala pada pundak gadis itu.
"Gue lagi butuh lo."
Kedua mata Gaby mengerjap singkat.
"Bunda maksa gue terus buat handle kerjaan di kantor."
"Gue gak mau, By."
Satu tangan Gema melingkar dari samping di pinggang Gaby. Napasnya gusar, terasa lumayan hangat menerpa kulit leher Gaby.
"Mau aku bantuin bujuk Bunda?" tawar Gaby.
"Gimana caranya? Nanti yang ada gue yang kena."
Gaby terdiam sejenak. Benar juga ucapan Gema. Akhirnya ia urung untuk berbicara.
"Gak usah ikut makrab dulu, ya??" pinta Gema memohon, menatap lekat wajah Gaby dari dekat.
"Gak bisa, Gema."
Lelaki itu berdecak samar. Memutuskan untuk beranjak dari duduk dan melangkah keluar kamar.
•••••
Sore kali ini Gema harus menemani Gaby berbelanja barang dan kebutuhan untuk kegiatan besok dan juga stok bulanan.
"Eh! Ngapain lo di sini?!" pekik Karisa, tertawa kecil. Memukul bahu Gema.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEFT BEHIND [END]
Ficção AdolescenteIa ingin membuktikan. Bahwa cinta tumbuh itu bisa dari rasa terpaksa. --Left Behind-- ©9aglie (BELUM REVISI) RANK🎖 #1 married [Sabtu, 9 Maret 2024] Start : Selasa, 24 Oktober 2023 Finish : Kamis, 23 Mei 2024
![LEFT BEHIND [END]](https://img.wattpad.com/cover/354476104-64-k339501.jpg)