10°

5.5K 112 1
                                        

"Gaby ..."

"Lo di mana?"

Gema melenguh seraya menyugar rambutnya ke belakang. Biasanya gadis itu masih tertidur di hari Selasa. Sebab hanya ada kelas sore saja.

Ia beranjak dari kasur dengan wajah bangun tidurnya. Menatap sekitar berusaha mencari gadis itu.

Suara pintu terbuka membuatnya menoleh cepat. "Lo abis dari mana?"

"Dapur," balas Gaby singkat, lalu terduduk di tepi ranjang. Membelakangi Gema.

Kini gadis itu justru menyemil khidmat bolu buatan Bi Hera. "Bi Hera buat bolu. Kamu mau?" tanyanya, menoleh ke belakang.

Gema mendekat pada Gaby. Menaruh dagu dengan nyaman di bahu gadis itu. Sungguh, deru napasnya yang berat membuat Gaby cukup geli.

"Gue maunya puding," bisik Gema, yang tidak mendapat respon apapun dari Gaby.

"Byy," rengeknya.

"Kenapa sih lo jadi cewek kadang cuek banget?"

Gaby tidak membalas. Tetap fokus mencuil-cuil bolu cokelat itu. "Emang gak boleh?" Akhirnya Gaby membalas.

"Enggak, lah. Lo harusnya cerewet sama gue. Biar gue takut sama lo. Emang lo mau kalau gue kepincut cewek lain?"

"Emangnya bisa?"

Sial. Gaby membuatnya diam tak berkutik.

Ia membenarkan posisi dagunya yang menempel pada bahu Gaby yang telanjang. Jujur, ia sangat senang saat gadis itu memakai daster. Terlihat lebih cantik dan seksi.

"Kamu mandi dulu sana," suruh Gaby, setelah mengunyah potongan terakhir bolu cokelat.

"Tapi buatin gue puding."

"Iya, Gema."

Gema tersenyum simpul. Beralih menyembunyikan wajah pada batasan bahu dan punggung gadis itu. "Ssshh ... geli, ih."

"By."

"Apa?"

"Jadi pacar gue mau gak?" Gema sedang dalam mode aneh akut. Ia juga dilanda bingung jika ingin sekali bersama Gaby, namun kehabisan topik pembicaraan.

"Gak mau. Males."

"Kok gitu, sih? Padahal gue lebih ganteng dari mantan lo itu si Arza Arza. Awas aja lo nyesel nolak gue," ujarnya, seraya mendusel-duselkan wajah pada bahu Gaby.

"Kamu-nya ngeselin."

"Ngeselin di mana-nya coba?"

Gaby tidak membalas. Ia beranjak dari tepi kasur. Menatap penuh lelaki yang kini menatapnya lebih lekat.

Saat kakinya hendak melangkah, lelaki itu lebih dulu menarik pinggangnya dan berakhir jatuh di pangkuan dan kini tubuhnya berhadapan dengan Gema.

"Kamu apaan, sih?"

"Gue? Manusia."

"Gak lucu." Tidak lucu bagi Gaby karena jantungnya hampir meledak mendapat serangan itu dari Gema.

"Gue emang lucu," bisik Gema dengan suara khas lelaki bangun tidur yang begitu berat.

Gaby merotasikan bola matanya malas dan beralih menatap lain. Sungguh menyebalkan Gema jika sedang seperti ini.

"Lo salting, ya?" tanya Gema, seraya terkekeh. Masih terus menatap lekat wajah gadis di pangkuannya itu.

"Enggak," balasnya ketus, maniknya fokus pada tatapan Gema. "Nih, buktinya kalau kamu ngeselin. Aku mau ke dapur aja gak bisa."

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang