03°

8.1K 165 2
                                        

"Gema," ucap Gaby mengguncang pundak lelaki itu.

"Gema, ayo bangun. Ini udah jam 8. Kamu ada kelas jam 9, kan?"

"Lima menit lagi."

"Bangun, Gema."

"Ditambah lagi nanti malem kamu kan mau tanding basket."

Gema melepas perlahan tangan yang melingkar di guling. Menatap samar Gaby yang terduduk di pinggir ranjang, membelakanginya.

"Lo masak apa hari ini?" tanya Gema dengan suara beratnya.

Lelaki itu beranjak dari tidur. Menyingkap selimut yang menutupi dadanya yang telanjang.

"Cuman ada roti panggang sama selai nanas. Kalau kamu mau makan yang lain, nanti aku masakin."

Gema tidak membalas. Melainkan mengacak-acak rambut Gaby membuat sang empu menoleh dengan tatapan tajam.

"Ck, ngeselin. Udah sana mandi, siap-siap."

"Lo gak ada kelas pagi ini?"

"Ada nanti jam 1."

"Siang?"

"Malem," balas Gaby asal, lalu beranjak dari tepi ranjang, menatap Gema yang masih duduk manis di sana.

"Rambut kamu udah gondrong. Jelek banget," komen Gaby dengan enteng.

"Jelek-jelek gini kalau lo liat base kampus pasti kaget."

Kedua alis Gaby hampir menyatu.

"Nama gue banyak disebut. Ngantri tuh anak FEB yang mau sama gue," ujar Gema sombong, dan beranjak dari kasur.

Gaby menghela napas panjang. Ternyata selama ini ia kurang update. Tidak seperti anak FEB pada umumnya yang ternyata banyak sekali kepincut dengan Gema.

Ia membuka ponsel, meng-klik aplikasi yang jarang sekali dibuka. Ternyata benar ucapan Gema. Banyak sekali anak fakultasnya yang memuji lelaki itu.

"By! Tolong ambilin baju!" teriak Gema dari dalam kamar mandi.

Segera Gaby berjalan menuju lemari pakaian. Mengambil kemeja hitam dan celana panjang.

"Buka pintuny," pinta Gaby berdiri di depan pintu kamar mandi.

Ceklek

Satu tangan Gema muncul. Meraih kemeja dan celana itu. "Makasih."

"Sama-sama." Gaby berdiri sejenak di depan pintu kamar mandi. Pikirannya melayang pada ucapan Bunda yang ingin sekali memiliki cucu.

Mengingat Bundanya Gema itu seperti mengingat mendiang Mamanya. Bunda memiliki sifat lemah lembut, sabar, dan nerimo (menerima apa adanya).

Dering ponsel milik Gema berbunyi. Berhasil membuyarkan lamunannya. Ia berjalan menuju nakas. Melihat layar ponsel yang menampilkan nama Bunda di sana.

Tangannya meraih ponsel milik Gema. Suara Bunda menyapanya lebih dulu.

"Halo, Nak?"

"Halo, Bun. Iya? Ini Kak Gema lagi mandi. Ada apa, Bun?"

"Gimana? Sehat, kan? Kalian udah sarapan belum? Ini Bunda lagi masak rendang."

"Alhamdulillah sehat, Bunda. Eum ... ini nanti abis Kak Gema mandi, mau sarapan. Emangnya ada acara apa Bunda masak rendang?"

Bunda tertawa kecil dari sambungan telepon. "Enggak ada acara apa-apa, Cantik. Ini Bunda lagi senggang aja. Kebetulan hari ini gak ke kantor. Kalau bisa kalian ke sini aja, ya. Kita sarapan bareng."

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang