26°

3.6K 80 0
                                        

"Pagi, Bi Hera," sapa Gaby, setelah menuruni anak tangga, melihat Bi Hera sedang membersihkan area sofa depan televisi.

"Pagi, Mbak Gaby. Hari ini Bibi masak di rumah Bunda dulu, ya. Gapapa, kan?"

Gaby yang baru sampai dapur, menoleh lalu mengangguk singkat. "Gapapa, Bi. Gema juga lagi mau makan bubur di luar katanya."

Bi Hera tersenyum simpul mendengar itu. Bersyukur sekali ia dikelilingi orang baik dan terus dipercaya hingga belasan tahun bekerja.

Tidak lama kemudian Gema menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Matanya masih enggan terbuka, tubuhnya seperti masih ingin lengket dengan kasur ... dan Gaby.

Ia menghampiri gadis itu. Mencium singkat ceruk leher Gaby, dan menenggelamkan wajahnya.

"Mandi dulu sana," suruh Gaby, meneguk perlahan gelas berisi susu yang dibuatkan oleh Bi Hera.

Gema menggeleng-gelengkan kepala. Satu tangannya melingkar di pinggang kecil itu. "Mandiin," bisiknya, tepat di telinga Gaby.

"Gak usah aneh-aneh kamu."

"Yaudah, gak mau mandi."

"Udah siang, Gema. Kamu gak liat udah jam berapa? Katanya ada latihan basket. Terus kamu masuk kelas jam 10, kan?"

Jam dinding kini menunjukkan pukul 8 lewat. Sebab Gaby tahu, Gema adalah lelaki lamban jika bersiap-siap. Apalagi kalau sudah di kamar mandi.

Jika belum 30 menit, Gema belum keluar dari kamar mandi.

"Hm," balas Gema singkat, memejamkan mata. Menikmati parfum aroma vanilla yang Gaby pakai.

"Mau minum susu gak?" tawar Gaby, menyudahi kegiatannya, menaruh gelas itu di meja.

"Mau."

"Yaudah awas aku buatin dulu."

Namun Gema tak kunjung melepas kedua tangan yang melingkar pinggangnya.

"Gimana maksudnya coba?" tanya gadis itu mulai sedikit kesal.

"Maunya dari sini," bisik Gema, meremas singkat dada Gaby.

Plak!

"Ada Bi Hera, Gema. Jangan aneh-aneh kamu," ucap gadis itu ketus setelah memukul lengan Gema, seraya berusaha melepas tangan kekar itu dari pinggangnya.

"Yaudah ayo ke kamar biar gak diliatin Bi Hera," ujar Gema amat pelan, dengan suara beratnya.

Gaby menoleh sebatas bahu. Untung saja Bi Hera sudah masuk kamar di ruang bawah. Jika tidak, pasti perlakuan Gema tadi dilihat oleh wanita itu.

"Gak jelas deh kamu. Mau aku buatin susu apa enggak? Ini udah siang, Gema."

"Dari sumbernya aja biar cepet."

•••••

Sesampainya di lapangan kampus, Gema tidak lupa mengabari Gaby. Ia tersenyum simpul mengingat gadis itu kesal dengannya perihal tadi pagi.



Anda:

Gw udah nyampe

Sore ini janji lo harus lunas

Siap-siap aja

Gaby:

Y

LEFT BEHIND [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang